buku

Terjebak di gerbang Rafah

“Karena Anda tidak punya undangan dari Hamas,” kata kepala imigrasi di Rafah.

13 Desember 2014 13:07

Sabtu sore itu, gerbang Rafah sudah ramai oleh warga Gaza ingin pulang. Mulai kakek dan nenek berjalan tertatih dengan bantuan tongkat hingga bayi dalam kereta lelap tertidur. Bawaan mereka beragam dari hasil belanja di kota Rafah, Al-Arisy, atau Kairo, seperti pakaian, ember, susu, dan beras.

Hampir seluruh warga Gaza ini pulang menumpang omprengan. Mobil-mobil tua – kebanyakan Mercedes – diparkir sekitar seratus meter dari pos perbatasan. Saban kali penumpang turun, kuli angkut dan calo penukaran fulus berjalan menghampiri buat menawarkan jasa mereka, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Sungguh ironis, alat pembayaran berlaku di seantero Gaza adalah shekel (mata uang Israel). Satu dolar Amerika Serikat nilainya sekitar 3,6 shekel.

Bagi warga Palestina, Rafah satu-satunya penyelamat kehidupan mereka lantaran isolasi Israel. Saat Presiden Mesir Muhammad Mursi menjabat, perlintasan Rafah selalu dibuka.

Menurut data dari Gisha, lembaga nirlaba asal Israel dibentuk pada 2005, sepanjang 2012 sekitar 30 ribu orang keluar masuk Gaza tiap bulan. Organisasi ini bertujuan melindungi kebebasan bergerak rakyat Palestina, terutama penduduk Gaza.

Mereka dengan mudah melintas, cukup menunjukkan paspor. Tapi buat warga non-Palestina jangan coba-coba. Percuma. “Kecuali kalau mau menyogok US$ 100,” kata kuli angkut bernama Abdurrahman.

Saya pun mengalami nasib serupa, ditolak menyeberang ke Gaza. Tidak hanya saya orang non-Palestina  hari itu ditolak. Perempuan paruh baya mengaku sebagai pengacara asal Argentina juga kecewa. Alasannya sama, kami tidak mendapat undangan dari Hamas. “Karena Anda tidak punya undangan dari Hamas,” kata kepala imigrasi di Rafah. Saking kesalnya saya menjawab, “Memangnya saya mau menghadiri ulang tahun ke Gaza sehingga perlu undangan?”

Saya lalu berupaya menghubungi kenalan saya, pejabat di Kementerian Luar Negeri di Jakarta. Tapi saya mendapat jawaban tidak memuaskan. Dia tidak bisa membantu saya. Akhirnya, saya menelepon pemimpin senior Hamas Mahmud Zahar ketika itu sedang berada di Kairo. Dia berjanji membantu sekuat tenaga.

Tidak lama selepas itu, saya mendapat telepon dari seorang lelaki mengaku bernama Ahmad dari Kementerian Luar Negeri Hamas. Dia bilang akan mengontak pejabat imigrasi di Rafah supaya membolehkan saya masuk ke Gaza. Ditunggu hingga sejam tidak ada kabar.  Dia lalu menghubungi saya lagi. Saya kembali lemas. Dia bilang tidak ada orang imigrasi mengangkat telepon. “Saya akan coba lagi besok. Sekarang sudah terlalu sore.”

Saya tetap menunggu di depan pos perbatasan dengan harapan petugas imigrasi Mesir iba melihat saya datang dari jauh. Semua sia-sia. Menjelang magrib mereka pulang. Jujur saja, saya bingung harus menginap di mana. Saya memutuskan menginap dekat pos untuk mencoba lagi besok. Namun tentara perbatasan mendekati dan menyuruh saya segera pergi dari sana.

Saya akhirnya menumpang bus tujuan Al-Arisy, sekitar 50 kilometer dari perbatasan. Saya memilih menginap di sebuah masjid buat mengirit pengeluaran. Besoknya selepas salat subuh, saya menuju terminal, menumpang omprengan kembali ke gerbang Rafah.

Sejatinya, setelah gagal mencoba di kesempatan pertama, banyak calo menawarkan menyeberang ke Gaza lewat terowongan. “Anda cukup bayar US$ 100,” ujar Mustafa. Dia mengklaim terowongan bakal dilewati panjangnya sekitar seratus meter.  Saya menolak tawaran-tawaran itu.

Saya memutuskan mencoba lagi buat kedua kali meski tidak terlalu yakin bakal berhasil. Kenyataannya memang demikian. Gagal lagi. Kali ini mereka beralasan saya tidak mempunyai izin dari Kementerian Luar Negeri Mesir buat mengunjungi Gaza.

Calo terowongan bernama Muhammad kasihan melihat saya. Dia membisikkan para petugas imigrasi itu memang suka bermain kotor. “Seharusnya wartawan seperti Anda boleh melawat ke Gaza.” Setelah menimbang berulang kali, akhirnya saya menerima bujukan Muhammad. “Cukup US$ 200 dan jauhnya hanya seratus meter,” katanya.

Saya mencoba berunding dengan harapan harganya bisa diturunkan lagi, namun tetap saja tidak bisa. Dia menegaskan harga US$ 100 buat terowongan lebih panjang hingga 700 meter.

Muhammad dengan setelan harian celana jins dipadu kaus dan rompi coklat segera mengatur perjalanan rahasia itu. Israel bersama Mesir memang sedang giat membombardir terowongan sejak kaum militan Islam menyerang polisi perbatasan Mesir. Israel juga menuding Hamas memakai perlintasan bawah tanah itu buat menyuplai kebutuhan militer mereka.

Saya akhirnya berangkat bersama Muhammad dan rekannya, Ismail, berprofesi menawarkan jasa penukaran uang. Kami bergerak diam-diam agar tidak diketahui tentara perbatasan. “Karena mereka sudah tahu siapa saya,” Muhammad menegaskan.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

boneka qaddafi

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

23 Januari 2016
Serba nyaman dan mewah
09 Januari 2016
Pribadi eksentrik
02 Januari 2016
Tidak suka pangkat jenderal
26 Desember 2015
Banyak versi terjemahan nama
19 Desember 2015

TERSOHOR