buku

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.

26 Desember 2015 10:09

Muammar al-Qaddafi amat berbeda jika dibandingkan dengan dua mantan presiden Indonesia: Soekarno (presiden pertama) dan Soeharto (penggantinya). Dua pemimpin paling lama berkuasa di Indonesia itu sama-sama mengangkat diri mereka sebagai jenderal berbintang lima. Padahal pangkat paling tinggi hanya jenderal dengan bintang empat.

Meski secara de facto merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, Qaddafi tidak memegang jabatan resmi sebagai presiden atau perdana menteri. Dalam tiap pernyataan resmi pemerintah, dia cuma menyebut dirinya 'Pemimpin Persaudaraan dan Penuntun Revolusi'. Dia juga menamakan diri sebagai "Raja dari Raja Afrika", "Raja Kebudayaan", dan "Imam Seluruh Kaum Muslim", seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Tidak seperti pemimpin revolusi lainnya secara otomatis menjadi jenderal, Qaddafi cukup puas dengan kolonel, pangkatnya terakhir setelah menggulingkan Raja Idris I lewat kudeta militer tak berdarah pada 1 September 1969. Padahal dia memegang kendali angkatan bersenjata Libya. Kenyataan ini tentu aneh bagi negara-negara Barat. Dia beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.

Namun konsep diyakini Qaddafi ini bukan hal baru di kalangan pemimpin kudeta militer. Jamal Abdul Nasir tetap seorang kolonel setelah pad 1952 menumbangkan kekuasaan Raja Faruk di Mesir. Dia merupakan tokoh panutan Qaddafi dalam soal persatuan di antara negara-negara Arab (Pan Arabisme). Dia juga mengidolakan bekas Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan tokoh nasionalis Cina Dr Sun Yat-sen.

Setelah Nasir meninggal pada 28 September 1970, Qaddafi berusaha mewujudkan cita-cita idolanya itu. Dia mengumumkan Federasi Republik Arab pada 1972, merupakan gabungan antara Libya, Mesir, dan Suriah. Namun persatuan tiga negara itu bubar. Upaya serupa dua tahun kemudian dengan Tunisia juga gagal.

Presiden Ghana Jerry Rawlings juga mempertahankan pangkatnya sebagai kapten penerbang setelah berkuasa. Tiga presiden El Salvador sama-sama berpangkat letnan kolonel, yakni Oscar Osorio (1950-1956), Jose Maria Lemus (1956-1960), dan Julio Adalberto Rivera (1962-1967).

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Foto pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi diinjak orang melintas dan dilindas mobil. Foto ini diletakkan di gerbang Bab al-Aziziyah, kompleks kediaman Qaddafi di Ibu Kota Tripoli, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Banyak versi terjemahan nama

Menurut sebuah tulisan di blog ABC News pada 2009, terdapat 112 cara media menulis nama lelaki ini sejak 1998.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

boneka qaddafi

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

23 Januari 2016
Serba nyaman dan mewah
09 Januari 2016
Pribadi eksentrik
02 Januari 2016
Banyak versi terjemahan nama
19 Desember 2015

TERSOHOR