buku

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

09 Januari 2016 20:32

Walau tinggal di pengasingan, keluarga pemimpin Libya terguling, Muammar al-Qaddafi, tetap hidup nyaman dan serba mewah. Safiyah Farkash al-Bassi (istri kedua) bersama anak-anaknya, Muhammad, Hannibal, dan Aisyah (ditambah bayi perempuan bernama Safiyah, anak Aisyah), bermukim di sebuah hotel ultraluks di daerah Staoueli, sekitar 20 kilometer sebelah barat Ibu Kota Aljir, Aljazair.

Nama tempat peristirahatan itu Sheraton Club Des Pins Resort and Towers. Berada di kawasan elite – tempat tinggal pejabat tinggi Aljazair – dan dijaga ketat aparat keamanan. Hotel menghadap ke Laut Mediterania ini juga menjadi sarana berleha-leha para petinggi negara itu. Ini merupakan hotel bintang lima pertama di Aljazair, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Fasilitasnya lengkap. Mulai dari pantai pribadi, kolam renang air hangat dalam ruangan dan di luar, tempat olah kebugaran, lapangan tenis, sarana olah raga air, dan lima restoran. Tarif paling murah adalah kamar jenis Classic Room, yakni 219 euro semalam dan termahal Presidential Suites mencapai 1.300 euro. Kemungkinan besar keluarga Qaddafi ini menyewa kamar paling mahal karena dilengkapi ruang tidur besar disekat, ruang makan, ruang tamu, balkon pribadi, dapur, ruang belajar, dan kamar mandi berukuran besar.

Mereka sudah mulai bermukim di sana sejak awal September 2011. Rombongan kecil keluarga ini sempat berhenti di Kota Djanet, daerah oasis di perbatasan Aljazair dan Libya. Sebab perut Aisyah keburu mulas. Dia akhirnya melahirkan anak perempuan diberi nama Safiyah. Dari sana mereka diterbangkan dengan jet pribadi ke Aljir.

Kabar berembus menyebut pemerintah Aljazair menolak mengizinkan 12 anggota keluarga Qaddafi itu masuk dengan membawa sekantong besar berisi fulus. Namun, menurut cerita seorang prajurit bayaran dari Afrika Selatan, Safiyah dan keluarganya secara mulus memasuki wilayah Aljazair dengan kawalan 35 personel sejak dari Tripoli.

Ini merupakan gambaran nyata keluarga Qaddafi memang selalu hidup dengan kesenangan duniawi saat sang kolonel berkuasa selama 42 tahun. Dalam foto-foto ditemukan dalam sebuah komputer jinjing milik Hannibal, tampak dia bersama istrinya Aline Skaff (mantan model pakaian dalam asal Libanon) bersantai di sebuah kapal pesiar mewah di Syarm asy-Syekh, Mesir, dan makan di sebuah restoran di Tunisia.

Foto-foto itu juga memperlihatkan kemesraan keduanya, bahkan ada pula yang terkesan porno. Salah satu foto menunjukkan Hannibal, sambil mengelus anjingnya berwarna coklat, memeluk Alien di kediaman mereka di pinggiran Ibu Kota Tripoli. Di belakang tampak seekor anjing berwajah lucu dan berbulu putih.

Rumah mereka berada di Rigatta, sekitar 20 menit dari Midan Syuhada, Tripoli. Berisi perabotan serba mewah dan sarana hiburan mutakhir. Bangunan menghadap Laut Mediterania ini juga dilengkapi jacuzzi, kolam berendam air hangat, ruang sauna, dan kolam renang. Keduanya memelihara sejumlah anjing dan sering berpesta minuman beralkohol. Di sana terdapat botol-botol dari berbagai jenis minuman harganya ratusan dolar per botol, seperti sampanye Christal dan St. Emilion Bordeaux.

Keduanya kerap berlibur dengan jet pribadi ke pelbagai kota di Eropa, seperti Paris, Jenewa, dan Roma. Mereka juga sering berbelanja di butik-butik termahal.

Ditemukan pula tiga rincian transfer uang mengalir ke dalam rekening Hannibal di Paris, Panama, dan Tunis (Amen Bank dan the North African International Bank). Totalnya lebih dari US$ 24 juta. Kekayaannya membengkak ketika dia bekerja sebagai konsultan buat perusahaan transportasi minyak Libya.

Barangkali karena merasa bisa membeli apa saja, pasangan Hannibal dan Aline ini sering bertindak sewenang-wenang. Pada 2008 mereka sempat ditahan dua hari karena menyerang dua bekas pelayan mereka (orang Maroko dan Tunisia) di sebuah hotel mewah di Jenewa, Swiss. Insiden ini menimbulkan ketegangan hubungan diplomatik antara Libya dan Swiss. Tapi pengadilan menghentikan kasus itu setelah keduanya meminta maaf.

Qaddafi amat berang dengan perlakuan terhadap putra dan menantunya itu. Dia langsung menutup pabrik Nestle dan ABB di Libya, hampir seluruh rute penerbangan komersial ke negara itu dihapus. Dia juga menarik US$ 5 miliar dari rekening banknya di Swiss, menahan dua pengusaha negara itu selama 16 bulan, dan meminta kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghapus negara Swiss.

Hannibal sebelumnya divonis empat bulan penjara dan denda 500 euro lantaran menyerang pacarnya hamil delapan bulan di Prancis pada 2005. Tapi hukuman itu tidak pernah dia jalani. Setahun sebelumnya dia ditilang polisi Paris karena mengendarai Porsche hitamnya dengan kecepatan hampir 145 kilometer per jam. Namun, para pengawalnya malah menyerang polisi menilang. Pada 2003 dia mengamuk di Roma dan mengakibatkan enam pewarta foto dirawat di rumah sakit.

Dua tahun lalu dia memukuli istrinya saat mereka menginap dalam kamar bertarif empat ribu pound sterling semalam di Hotel Claridge, London. Karena tekanan, Aline tidak melaporkan kejadian itu ke polisi. Pada 2005, menurut polisi Denmark, Hannibal menjadi dalang dalam kasus penculikan dan penyiksaan terhadap seorang warga Libya tinggal di Ibu Kota Kopenhagen.

Rumah Hannibal dilengkapi sel-sel untuk memenjarakan anak buahnya dianggap bersalah. Menurut pengakuan salah satu dari mereka, dirinya pernah dikurung tiga hari tanpa diberi makan dan minum.

Aline juga tidak kalah beringas. Dia pernah menyiram air mendidih ke kepala pembantunya asal Ethiopia Shweyga Mullah, 30 tahun. Sebab pelayan perempuan itu menolak memukul putri majikannya menangis. Penyiksaan itu berlangsung di ruang cuci. "Tangan saya diikat ke belakang, kaki saya diikat, dan mulut saya disumpal," katanya.

Menurut dia, istri Hannibal itu sering marah-marah jika anak perempuannya cengeng. Dia mengungkapkan sudah dua kali dibakar, terakhir pada Mei 2011. Mullah juga dipaksa menonton anjing-anjing milik Hannibal makan, tapi dia dibiarkan kelaparan.

Koki asal Turki Adnan Tam, 54 tahun, membenarkan soal kekejaman pasangan muda itu. Dia mengaku Hannibal dan anak buahnya sering memukuli dia. Namun dia paling sering mendapat siksaan dari Aline. "Saya ditusuk di lengan dan punggung," ujarnya. Dia menambahkan perlakuan kasar saban hari itu dia terima setelah Turki mengirim sebuah kapal buat pemberontak cedera di Misrata. Dia pun dicap pengkhianat.

Al-Mutasim Billah satu gaya dengan kakaknya, Hannibal. Menurut mantan pacarnya, Talitha van Zon, dia pernah diajak oleh Al-Mutasim menonton balapan Formula I di Monaco sekaligus pesta makan malam dihadiri Puteri Caroline dari Kerajaan Monaco. Saat liburan Natal, keduanya terbang dengan pesawat Boeing sewaan ke Pulau Saint Barts, Karibia,

Talitha mengungkapkan jika melawat ke Paris atau London, Al-Mutasim akan menyewa beberapa lantai hotel termahal di sana untuk menggelar pesta bersama teman-temannya. Beberapa penata rambut asal Italia setia mendampingi ke mana saja Al-Mutasim pergi.

Saking penasaran, Talitha pernah bertanya berapa pengeluaran rutin Al-Mutasim. Jawabannya sungguh mengejutkan: US$ 2 juta saban bulan. Karena itu wajar saja dia banyak mendapat hadiah, termasuk tas-tas merek Louis Vitton dan sebuah jam tangan kelewat mahal. Untuk mencukur rambut saja, dia berani merogoh kocek hingga US$ 7 ribu.

Gaya hidup Saiful Islam juga parlente. Dia memiliki sebuah kompleks peristirahatan di tepi pantai di kawasan Rigatta, sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil dari Midan Syuhada. Panjang pagarnya saja sekitar dua kilometer. Di sana terdapat 90 rumah berukuran 200 meter persegi. "Ini menjadi tempat pesta Saiful Islam bersama teman-temannya," kata seorang pemberontak.

Masing-masing rumah memiliki ruang tamu, ruang keluarga, tiga kamar tidur, dan dapur dilengkapi perabotan. Kini vila itu menjadi barak sementara milisi anti-Qaddafi. Seorang lelaki tengah asyik menonton televisi berukuran sekitar 42 inchi saat saya berkunjung ke sana, Sabtu, 10 September 2011. Satunya lagi tengah astik tidur di atas sofa.

Peralatan makan di vila milik Saiful Islam berlapis emas dan gelas kristal untuk minum. Lemari pakaiannya dipenuhi merek-merek ternama, seperti Versace dan Armani. Sepatu karya perancang terkenal masih banyak belum dipakai. Semua kamar tidurnya bergaya Italia dengan karpet merek Pierre Cardin dan ranjang Burberry.

Lelaki mendapat gelar MSc. dan Ph.D dari the London School of Economic and Political Science (biasa disebut LSE) ini juga mempunyai sebuah rumah mewah di Winnington Close, Hampstead Garden, pinggiran utara Ibu Kota London, Inggris. Di sana cuma ada tujuh rumah dan kediaman Saiful Islam adalah nomor 7. Vila seharga US$ 15 juta itu dia beli pada 2009. Namun harganya baru-baru ini diperkirakan menyentuh angka US$ 16 juta.

Rumah mewah Saiful Islam ini memiliki delapan kamar tidur, sebuah kolam renang, jacuzzi, ruang sauna, dan bioskop. Bahkan bangunan ini dilengkapi tempat sampah diatur secara elektronik. Bila ingin menginap di sana, dia akan datang dengan rombongan dua Mercedes antipeluru berwarna hitam.

Saiful Islam adalah pengunjung setia pusat-pusat hiburan malam ternama di London. Dia bergaul dengan kalangan papan atas Inggris. Dia mengaku berteman baik dengan mantan perdana menteri Tony Blair (kini utusan khusus kwartet untuk Timur Tengah), Lord Mandelson (bekas menteri tenaga kerja), keluarga Rotschild (konglomerat keturunan Yahudi), dan keluarga kerajaan Inggris. Dia bahkan pernah dijamu oleh Duke of York (Pengeran Andrew) di Istana Buckingham dan Kastil Windsor.

Pergaulannya juga melebar hingga kalangan akademisi. Profesor David Held dari LSE dua tahun lalu mengundang Saiful Islam memberi kuliah berjudul Libya: Past, Present, and Future. Profesor ilmu politik sekaligus direktur Program Riset Afrika Utara (didanai Saiful Islam) ini merupakan orang kepercayaan pemimpin Partai Buruh Ed Miliband. Dia juga pernah berkunjung ke Libya pada Februari 2011.

Berkat lobi putranya itu pula, Kolonel Qaddafi pada Desember 2006 bisa menyampaikan kuliah jarak jauh buat mahasiswa LSE. Kuliah umum ini dihadiri para petinggi kampus top itu, termasuk Lord Anthony Giddens (mantan direktur LSE pada 2002) dan Dr Alia Brahimi duduk di barisan depan. Dr Brahimi, 30 tahun, memperkenalkan Qaddafi sebagai "Pemimpin Persaudaraan" kepada peserta hadir saat itu.

Lord Giddens, 73 tahun, pernah diundang secara khusus pada 2007 ke Tripoli untuk membahas masalah politik dengan Qaddafi. Selepas itu, melalui artikelnya di the News Statesman, dia memuji-muji pemimpin Libya itu sebagai orang kalem, bicaranya jelas, dan pemikirannya cerdas.

Dalam artikelnya di the Guardian, dia yakin Qaddafi akan melakukan reformasi politik. Dia menilai sistem satu partai dianut Libya bukan sebuah rezim otoriter karena Qaddafi benar-benar populer di mata rakyat. Lord Giddens adalah guru intelektual Tony Blair dan penggagas politik Jalan Ketiga.

Saiful Islam pun tidak lepas dari sanjungan selama berkuliah di sana. "Dia adalah seseorang memandang ke arah demokrasi, masyarakat sipil, dan nilai-nilai liberal dalam untuk sumber inspirasinya," kata Profesor David Held, pembimbingnya.

Walau disertasi Saiful Islam dikecam sebagai hasil jiplakan, ahli ekonomi Lord Desai, 70 tahun, juga menjadi anggota tim penguji, menegaskan dia layak mendapat gelar doktor. "Saya menguji dia dua jam. Kami terkesan dengan bagaimana idealnya (pandangan Saiful Islam)."

Kalau sedang ke Ibu Kota Wina, Austria, dia tidak perlu repot-repot menginap di hotel. Di sana Saiful Islam mempunyai sebuah vila di pinggiran kota itu. Dia akan menitipkan dua harimau putih kesayangannya di kebun binatang Wina. Dua binatang buas itu pun pernah dia ajak saat menghadiri sebuah pesta di Jerman.

Kehidupan Saiful Islam juga tidak lepas dari perempuan. Saat melawat ke Australia pada 2002, dia bersama 20 anggota rombongannya menggelar pesta seks tengah malam di Port Douglas, Queensland. Dia pernah berpacaran dengan aktris asal Israel Orly Weinermann.

As-Saadi al-Qaddafi dikenal suka bepergian ke luar negeri meski dilarang oleh ayahnya. Dia gila pesta. Menurut Davinka Mircheva, mantan pacarnya, As-Saadi pada 2007 memboyong kelompok musik pop the Pussycat Dolls seharga 500 ribu pound sterling untuk tampil dalam acara ulang tahunnya di Cannes, Prancis. Mircheva juga penggemar grup asal Los Angeles, Amerika Serikat, itu.

Di sana As-Saadi menyewa sebuah vila bergaya Arab dengan harga delapan ribu pound sterling saban hari. Sebanyak 30 undangan hadir disuguhkan sampanye Cristal, cokelat Lenotre, kaviar, dan cerutu sambil menikmati band beranggotakan lima perempuan cantik itu tampil di depan kolam renang.

Dia juga mempunyai mobil sport Bugatti Veyron seharga satu juta pound sterling dan sebuah Lamborghini berwarna kuning. Untuk berlayar dia mempunyai kapal pesiar mewah diberi nama Al-Farah (kesenangan). "Saadi tidak pernah peduli soal harga. Seseorang selalu membayar tagihannya," kata perempuan asal Bulgaria ini.

Mantan penari klub malam ini mengungkapkan As-Saadi selalu membawa koper hitam berisi uang ribuan dolar. Jika kehabisan, dia tinggal menghubungi Kedutaan Besar Libya terdekat untuk membawakan sekoper fulus lagi. Dia bisa menghabiskan US$ 272 juta saban tahun untuk membiayai gaya hidupnya serba wah itu.

As-Saadi bertemu pertama kali dengan Mircheva di klub malam the Pink Paradise di Paris pada Mei 2004. Dia langsung menyatakan perasaan sukanya setelah gadis 21 tahun itu selesai tampil di atas panggung. As-Saadi, ketika itu memakai setelan serba putih seharga lima ribu pound sterling, pun rela membayar seribu pound sterling hanya untuk mengajak Nikki (nama panggung Mircheva) mengobrol selama sejam di ruangan khusus. Bahkan besoknya dia mengajak Mircheva berlibur ke Karibia dengan jet pribadinya. Namun ajakan itu ditolak.

Tapi As-Saadi tidak mau menyerah. Tiap beberapa pekan sekali dia terbang ke Paris hanya untuk mengejar Mircheva. Dia biasa menginap di kamar hotel bertarif 3.500 pound sterling per malam di hotel George V atau Plaza Athenee. Dia selalu menyewa dua limusin hitam untuk dia dan para pengawalnya. Dia bisa tiga jam di klub itu hanya untuk merayu Mircheva agar mau diajak jalan. Gadis asal Bulgaria ini selalu menolak dengan alasan takut.

Dia pernah menerima surat cinta dari As-Saadi ditulis tangan di atas kertas catatan berlogo Hotel George V. Isinya: "Saya terbang dengan sayap-sayap cinta untukmu...Saya tidak ingin menghilangkan perasaan ini...Kamu membangunkan saya dari dalam setelah waktu panjang,"

Dalam hitungan bulan, Mircheva menerima hadiah perhiasan Bulgari seharga 20 ribu pound sterling. Terdiri dari anting-anting, sebuah cincin dan kalung terbuat dari emas putih bertabur berlian. Baru pada Oktober 2005, dia menerima ajakan As-Saadi. Kencan pertama mereka adalah menonton film Four Brothers di sebuah bioskop di kawasan Champs-Elysees, Paris, harga tiketnya tujuh pound sterling per orang.

Sejak itu, dia menerima hadiah-hadiah mahal dari As-Saadi, seperti jam tangan Audemars Piguet seharga 25 ribu pound sterling, pakaian nilainya sama, dan makan malam menghabiskan sepuluh ribu pound sterling di sebuah restoran Rusia di Paris. Keduanya menjalin hubungan enam tahun. Bahkan As-Saadi sudah beristri berkali-kali melamar Mircheva dan selalu ditolak.

Pada 2009, keduanya berlibur ke Tanzania sambil menikmati taman safari selama sepekan. Mereka menginap di pondok sewanya 600 pound sterling semalam. Ketika itulah mereka berfoto bersama dan itu menjadi satu-satunya foto. "Dia sangat penakut. Dia tidak suka difoto," kata Mircheva.

Selain berbelanja, keduanya kerap menghabiskan waktu di hotel tempat As-Saadi menginap. Kadang mereka tidur seranjang. Tapi Mircheva menegaskan mereka hanya berciuman dan tidak pernah bercinta. "Saya tidak mau karena saya tahu dia akan tidur dengan banyak perempuan. Itu membuat dia marah."

Ke mana pun bepergian, As-Saadi selalu didampingi lebih dari enam orang, termasuk pelayan lelaki bernama Langry. Dia kerap memanggil mereka semua pembantu. Dia ingin dipanggil dengan sebutan insinyur, sedangkan Al-Mutasim menyukai sapaan dokter. "Dia suka mabuk berat dan menyetel musik keras-keras pada tengah malam," ujar Mircheva. As-Saadi menggemari penyanyi rap 50 Cent.

Satu waktu, Mircheva pernah memergoki As-Saadi, dikenal biseksual, tengah tidur berduaan dengan seorang lelaki di Hotel Plaza Athenee. "Mereka berselimut dan tubuh bagian atas keduanya telanjang," ujarnya. Dia mengaku baru sekali melihat As-Saadi memakai obat terlarang dan dia pun pernah ditawari kokain saat mereka berada di sebuah klub malam.

As-Saadi, sekarang berlindung di Niger, diyakini hidup di sebuah vila mewah di samping istana presiden di Ibu Kota Nimey. "Dia hidup nyaman. Dia tinggal di kompleks seluas lebih dari 14 ribu meter persegi," kata Gary Peters, lelaki asal Australia sudah menetap di Kanada sejak tahun 2000. Dia ikut membantu Saadi serta Safiyah bersama tiga anaknya kabur dari Libya.

Kontraktor keamanan swasta ini sudah bekerja dengan keluarga Qaddafi sejak 2004. Meski melayani Saiful Islam dan Hannibal, mantan personel the Royal Australian Army ini lebih banyak bekerja untuk As-Saadi.

Saiful Arab al-Qaddafi memiliki peran terbatas dalam rezim ayanya. Sejak 2006, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di Munich, Jerman. Dia dikatakan terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Teknik Munich. Tapi tak seorang pun mengaku pernah melihat dia belajar di kampus itu. Kehidupannya jarang tercium media.

Sama seperti kakak-kakaknya, gaya hidupnya pun royal. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pesta-pesta dan mengebut di jalan dengan delapan mobil sport miliknya, termasuk Bentley Continental GT, Cadillac, Ferrari, Jeep, dan  sebuah Hummer berpelat diplomatik milik Kedutaan Besar Libya di Berlin.

Dia baru menjadi berita hangat setelah berkelahi dengan tukang pukul klub malam 4004. Kejadiannya berawal ketika dia bersama seorang gadis 19 tahun, diduga pelacur dari Rusia, sedang asyik bergoyang. Menjelang tengah malam, gadis cantik itu mulai melepas penutup tubuhnya satu-satu. Sejumlah pengunjung memprotes tindakan itu.

Akibatnya, gadis itu diusir keluar oleh penjaga keamanan. Karena tidak terima, Saiful Arab cekcok hingga baku pukul dengan salah satu petugas keamanan juga berasal dari Rusia. Keduanya luka ringan. Sebuah goresan membekas di kepala Saiful Arab. Insiden pada 2006 itu sempat merepotkan hubungan diplomatik kedua negara.

Dia lantas mengontak seorang kenalannya asal Bosnia dan meminta lelaki itu menuntut balas. "Saya dijanjikan US$ 150 ribu jika berhasil membunuh dia. Kalau saya memotong satu kakinya, saya hanya dapat setengah," ujar orang suruhan Saiful Arab itu kepada polisi. Penyelidikan dalam kasus itu dihentikan dengan alasan tidak cukup bukti.

Dua tahun  berselang, dia diyakini menggunakan mobil-mobil berpelat Kedutaan Besar Libya untuk menyelundupkan senjata dari Prancis ke Jerman. Lagi-lagi investigasi atas kasus itu diakhiri walau banyak saksi membenarkan.

Dia kembali lolos dari hukuman setelah bertengkar dengan seorang polisi lalu-lintas. Buat kejahatan semacam itu, warga Jerman bisa dihukum. Namun dia dapat melenggang bebas setelah makan malam dengan kepala kepolisian Munich.

Satu-satunya sanksi hukum pernah diterima adalah ketika polisi menyita Ferrari F430 seharga US$ 170 ribu miliknya karena knalpotnya berisik. Dia cuma didenda seratus pound sterling.

Majalah Der Spiegel melaporkan Kementerian Luar Negeri Jerman lima kali mengingatkan para pejabat hukum di Munich agar tidak memproses perkara melibatkan Saiful Arab karena bisa menimbulkan ketegangan hubungan diplomatik kedua negara. Selama 2006 hingga 2010, dia sudah terlibat sebelas kasus hukum, mulai dari penyelundupan senjata, perkelahian, mengemudi tanpa surat izin, sampai menghina polisi.

Keluarga Qaddafi dikenal royal terhadap para pesohor papan atas dunia. Al-Mutasim pernah menggelar pesta malam tahun baru 2009 di Pulau Saint Barts di Karibia. Dia membayar Mariah Carey US$ 1 juta hanya untuk menyanyikan empat lagu.

Giliran kakaknya, Hannibal, menggelar acara serupa setahun kemudian di pulau yang sama di Nikki Beach Club. Dia membayar Beyonce Knowles US$ 2 juta hanya untuk menyanyi sejam. Usher ikut menghibur para tamu hingga waktu pergantian tahun.

Tapi tidak diketahui berapa bayaran diterima penyanyi R&B itu. Pesta ini dihadiri sejumlah selebritas papan atas dunia, seperti Jay-Z (suami Beyonce), Jon Bon Jovi, George Michael, 50 Cent, Lindsay Lohan, dan dua model (Miranda Kerr serta Victoria Silvstedt).

Nelly Furtado juga pernah dibayar US$ 1 juta untuk menyanyi selama 45 menit. "Pada 2007 saya menerima US$ 1 juta dari keluarga Qaddafi untuk tampil 45 menit menghibur para tamu di sebuah hotel di Italia," tulis Furtado dalam akun Twitternya, Maret 2011.

Lionel Richie pernah menghibur Muammar Qaddafi dalam peringatan 20 tahun serangan Amerika Serikat terhadap rumahnya di Bab al-Aziziyah. Di acara berlangsung pertengahan April 2006 itu, dia menyanyikan lima lagu terlarisnya. "Hana akan merasa terhormat malam ini karena pada kenyataan kalian semua melekatkan perdamaian pada namanya," kata Richie kepada hadirin saat itu.

Tiga tahun kemudian, dia tampil lagi untuk merayakan 40 tahun berkuasanya sang diktator. Pada 2005, 50 Cent tampil buat seorang putra Qaddafi di sela Festival Film Venice.

Saiful Islam dan saudara-saudara kandungnya adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher. Masing-masing pernah mengundang ketiga pesohor itu di ulang tahun mereka dengan bayaran lebih dari 600 ribu pound sterling.

Persaingan juga terjadi di antara tiga anak Qaddafi – Saiful Islam, As-Saadi, dan Al-Mutasim Billah - dipandang berpotensi menggantikan kedudukan ayah mereka. Kunjungan Saiful Islam ke Washington pada 2008 membuat marah para saudara kandungnya, terutama Al-Mutasim sangat ambisius. Saat itu dia bertemu penasihat keamanan nasional Condoleeza Rice (kemudian menjadi menteri luar negeri).

Setahun kemudian, giliran Al-Mutasim bertamu ke Amerika. Lelaki memiliki pasukan khusus dengan anggaran sekitar US$ 1,2 miliar ini bertemu Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton. Dengan bantuan pemerintah Mesir, Al-Mutasim pernah berupaya mengkudeta ayahnya namun gagal. Al-Mutasim membentuk pasukan khusus itu untuk menyaingi unit tempur elite milik adik bungsunya, Khamis al-Qaddafi.

Muhammad, As-Saadi, dan Al-Mutasim juga pernah berebut lisensi untuk mendirikan pabrik Coca Cola di Libya. Setelah Aisyah turun tangan, Muhammad akhirnya bersedia mundur dari bisnis minuman bersoda itu.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Banyak versi terjemahan nama

Menurut sebuah tulisan di blog ABC News pada 2009, terdapat 112 cara media menulis nama lelaki ini sejak 1998.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

boneka qaddafi

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

23 Januari 2016
Pribadi eksentrik
02 Januari 2016
Tidak suka pangkat jenderal
26 Desember 2015
Banyak versi terjemahan nama
19 Desember 2015

TERSOHOR