IQRA

Turki Sehabis Kudeta (1)

Tergelincir menjadi diktator

Unjuk rasa propemerintah tidak kelihatan seperti opini publik demokratis. Malahan lebih mirip kontra revolusi kelompok islamis.

26 Juli 2016 20:16

Matahari mulai terbenam di Ankara dan orang-orang keluar dari stasiun kereta bawah tanah menuju Alun-alun Kizilay di jantung ibu kota Turki itu. Mereka mengibarkan bendera dan meneriakkan: "Allahu akbar!" dan "Mampuslah para pengkhianat!"

Dalam sebuah kedai kopi berjarak seratus meter dari Alun-alun Kizilay, Esra Can bergegas menjejalkan rokok dan telepon cerdas miliknya ke dalam dompet. Dia ingin segera tiba di apartemennya sebelum demonstrasi menyokong Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berlangsung. "Gerombolan orang di jalan tidak bisa diprediksi," katanya.

Can, perempuan mungil 30 tahun dengan rambut ikal coklat dan kuku dicat merah, bekerja sebagai perancang grafis di Ankara. Dia perokok dan kadang menenggak segelas anggur. Saban pemilihan umum, dia mencoblos Partai Sosial Demokrat atau kubu sayap kiri. Can mengaku selalu percaya pada demokrasi dan aturan hukum di Turki meski Erdogan cenderung berlaku lalim. Sekarang dia cemas negaranya sedang tergelincir ke arah kepemimpinan diktator.

Untuk pertama kali dalam waktu hampir 36 tahun, tentara Turki berupaya menggulingkan pemerintah Jumat dua pekan lalu. Mereka menguasai sebagian Istanbul dan Ankara, serta mengebom gedung parlemen. Sekitar 265 orang tewas dan paling sedikit 1.400 luka.

Seperti kebanyakan orang di Turki, Can meyakini pemerintah mampu menggagalkan usaha kudeta dan berharap horor 15 Juli itu bisa menyatukan rakyat. Tapi kini dia tengah menyaksikan dengan cemas karena Erdogan memanfaatkan kudeta itu untuk berkuasa secara mutlak.

Lima hari sehabis kudeta gagal ini, Erdogan mengumumkan negara dalam keadaan darurat dan secara sebagian membatalkan Konvensi Eropa soal Hak Asasi Manusia selama tiga bulan. Selama status darurat berlaku, dia berkuasa penuh: dia dapat menafikan hak-hak dasar asasi manusia, seperti hak untuk berkumpul dan kebebasan pers, pemerintah bisa memberlakukan jam malam, dan liputan media bisa dianggap ilegal.

Erdogan juga mengumumkan ingin membersihkan negara dari pengaruh Fethullah Gulen, ulama Turki menetap di Amerika Serikat dia tuduh sebagai dalang kudeta. Dia mau parlemen menyetujui penerapan kembali hukuman mati bagi orang-orang terlibat dalam kudeta gagal. Dia telah menyerukan rakyat Turki turun ke jalan dan alun-alun di seantero negeri.

Warga negara Turki mendengarkan seruan Erdogan itu. Saban malam ribuan orang berkumpul di tempat-tempat terkenal, seperti Alun-alun Kizilay di Ankara dan Alun-alun Taksim di Istanbul. Mereka membawa tiang gantungan dan memberi penghormatan terhadap pemimpin mereka Erdogan: "Katakan saja dan kami siap mati. Bilang saja dan kami siap membunuh siapa saja."

Kaum lelakinya menembakkan senjata ke udara dan para orator menghasut kebencian kepada Gulen melalui pengeras suara. Perdana menteri setia dengan Erdogan, Binali Yildrim, sudah mengatakan demokrasi telah diliburkan.

Namun bagi kaum oposisi, untuk orang=orang sekuler, kiri, dan liberal - buat orang seperti Can - unjuk rasa propemerintah tidak kelihatan seperti opini publik demokratis. Malahan lebih mirip kontra revolusi kelompok islamis.

Turki memang telah menolak militer mengambil alih kekuasaan, tapi negara ini sedang menghadapi penderitaan dan petaka berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Alat kelengkapan negara mandek dan ekonomi tergulung akibat gelombang pembersihan Erdogan sejak Jumat dua pekan lalu.

Politisi Barat memandang Ankara dengan kebingungan. Turki sudah lama menjadi pondasi arsitektur keamanan global dan merupakan kekuatan militer kedua dalam NATO (Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Turki juga menjadi benteng menghadapi Rusia dan Iran sekaligus basis operasi buat memerangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).   

Bersih-bersih mengerikan ala Erdogan telah membikin 60 ribu tentara, polisi, jaksa, hakim, dan pegawai negeri menjadi korban: ditahan atau diberhentikan. Kudeta Jumat dua pekan lalu sekaligus menggelincirkan Erdogan menjadi diktator. Demokrasi sudah diliburkan di Turki. 

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Turki akan bebaskan 38 ribu tahanan karena penjara kelebihan penghuni setelah kudeta

Keputusan itu berlaku bagi pelaku kejahatan sebelum 1 Juli 2016.

Sekitar 40 ribu warga Jerman berdarah Turki berunjuk rasa mendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kota Cologne, Jerman, 31 Agustus 2016. (Breit Bart)

Jerman larang siarkan pidato Erdogan

Hubungan kedua negara memang memburuk setelah Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan keprihatinan mendalam atas bersih-bersih ala Erdogan.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Balas dendam Erdogan

Lebih dari itu, dia ingin melaksanakan balas dendamnya untuk kian memperkuat kekuasaannya. Sehabis kudeta gagal itu, dia kini telah menjelma sebagai diktator.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017
Universal dan merusak
06 September 2016

TERSOHOR