IQRA

Turki Sehabis Kudeta (3)

Balas dendam Erdogan

Lebih dari itu, dia ingin melaksanakan balas dendamnya untuk kian memperkuat kekuasaannya. Sehabis kudeta gagal itu, dia kini telah menjelma sebagai diktator.

01 Agustus 2016 08:52

Ketika para pemberontak mulai menembaki gedung parlemen, Mustafa Yeneroglu, legislator dari AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), bareng kolega-koleganya tengah menyusun pernyataan bersama mengecam kudeta. Aparat keamanan kemudian memandu para anggpta parlemen ini melalui debu dan asap menuju tempat berlindung di lantai bawah tanah. Yeneroglu bertahan di sana beberapa jam sambil mencari tahu apa yang tengah terjadi melalui telepon cerdas miliknya.

Di Ankara, pasukan melakukan kudeta menyerbu markas militer dan intelijen, serta menahan panglima angkatan bersenjata Hulusi Akar. Stasiun televisi dan radio milik pemerintah TRT juga disasar. Di lokasi perlindungannya, Yeneroglu bersiap untuk mati. Dia menulis pesan singkat kepada istrinya, tengah berada di Kota Cologne, Jerman, bersama tiga anak mereka. "Tetap tabah, rawatlah anak-anak."

Namun Muharrem Kose, kolonel baru saja dipecat, dan Akin Ozturk, jenderal bintang empat dan mantan kepala staf angkatan udara - keduanya dipercaya sebagai pemimpin kudeta - hanya menguasai sebagian dari militer. Upaya kudeta cepat dilumpuhkan lantaran para jenderal dan perwira papan atas menyatakan sokongan kepada pemerintah.

Lebih dari itu, rakyat Turki menolak mendukung kudeta. Seluruh partai politik mengutuk pemberontakan itu, pendukung dan penentang Erdogan sama-sama turun ke jalan. Pada Sabtu subuh, usaha kudeta itu berhasil digagalkan.

Namun perpecahan dan kecurigaan segera merebak di Turki beberapa jam sehabis kudeta. Masyarakat terbelah, sebagian memandang kudeta 15 Juli sebagai awal dari era kediktatoran, sebagian lagi melihat kudeta gagal itu merupakan usaha buat menamatkan demokrasi Turki.

Rumeysa Kalin, 22 tahun, sejatinya tumbuh bareng Erdogan. Ayahnya, Ibrahim Kalin, adalah juru bicara presiden namun dia tidak ingat kapan Erdogan tidak menentukan kehidupan keluarganya dari hari ke hari. "Dia pemimpin kuat, orang bisa mengarahkan rakyat," katanya.

Setahun lalu, dia menyelesaikan kuliah jurusan hukum di sebuah universitas elite di Turki dan sekarang bekerja di sebuah firma hukum, selain aktif dalam organisasi kepemudaan AKP. Dia fasih berbahasa Inggris tapi menolak bersalaman dengan lelaki bukan muhrim.

Kalin adalah contoh generasi muda Turki memuliakan Erdogan. Ketika kabar kudeta tiba di akun Twitter dan Facebooknya, dia tengah mencuci pakaian di rumah orang tuanya di Ibu Kota Ankara. Dia lalu bergegas ke masjid untuk salat hajat, berharap upaya menggulingkan Erdogan itu gagal. Tunangannya, mahasiswa biologi molekuler, sedang dalam perjalanan ke pusat Ankara untuk bergabung dengan demonstran antikudeta. Dia berusaha meyakinkan Kalin lewat telepon: "Jangan takut. Allah bersama kita."

Beberapa hari kemudian, pasangan ini ikut dalam unjuk rasa menyokong Erdogan di Alun-alun Kizilay di jantung Ankara. "(Kudeta) 15 Juli telah membawa Erdogan dan rakyat Turki kian dekat," ujar Kalin.
 
Bagi orang-orang meragukan Erdogan, pernyataan itu terdengar seperti ancaman. Esra Can, perancang grafis dari Ankara, bahkan berpikir untuk pindah dari Turki. Suatu malam di pekan lalu, sekelompok lelaki brewok membawa tongkat bisbol berpatroli di kawasan tempat tinggalnya, sebuah intimidasi bagi para pembangkang Erdogan. "Saya merasa tidak aman lagi tinggal di negara ini," tutur Can.

Dalam sebuah prosesi penguburan seorang korban kudeta, para peziarah meneriakkan: "Kami ingin hukuman mati (diberlakukan lagi)!" Turki terakhir kali melaksanakan eksekusi mati pada 1980-an dan hukuman jenis ini dihapuskan pada 2004.

Di Kota Istanbul, kelompok islamis menyerang orang-orang menenggak bir di tempat umum. Di beberapa kota besar dan kecil di Anatolia, ekstremis muslim merusak gereja dan menyerbu komunitas Syiah Alawi. "Properti dan para perempuan dari tentara ikut kudeta adalah rampasan perang negara," kata seorang wakil ketua klub bisbol terbesar di Turki.

Menurut istri seorang kapten, orang-orang mengibarkan bendera Turki sambil mengacungkan jari tengah kini rutin melewati permukiman tentara dan keluarga mereka di Istanbul. Pembuat roti, merupakan istri seorang perwira militer, sekarang tiba-tiba saja berhenti berjualan.

Paling buruk, kata seorang wanita menolak ditulis namanya, adalah ketidakpastian soal masa depan. Dia bilang suami dari temannya telah ditangkap dan pihak keluarga tidak tahu alasannya. Dia diduga terlibat kudeta karena dalam mobilnya ditemukan sejumlah senjata. Dia menambahkan polisi pekan lalu tiba di lingkungan tempat tinggalnya dengan membawa daftar nama dan telah membekuk sejumlah serdadu.

Erdogan bukannya berusaha menenangkan suasana mencekam itu, dia malah kian memecah belah. Dia menyebut kaum oposisi sebagai kanker sedang tumbuh. Dia berjanji menciptakan masa depan Turki lebih cerah dan bebas dari para pengkhianat. Seorang penasihat ternama Erdogan sudah menyarankan untuk melonggarkan aturan kepemilikan bersenjata.

Erdogan bukan cuma mau balas dendam. Lebih dari itu, dia ingin melaksanakan balas dendamnya untuk kian memperkuat kekuasaannya. Sehabis kudeta gagal itu, dia kini telah menjelma sebagai diktator.

Ambisi telah membikin dia selalu berjuang untuk sampai di puncak kekuasaan. Pandangannya soal dunia selalu berupa "kami melawan mereka." Karena itulah dia biasa menghancurkan para musuhnya dan para jenderal berencana menggulingkan kekuasannya pada 2007.

Ketika polisi secara brutal membubarkan demosntrasi damai kaum pecinta lingkungan di Taman Gezi pada November 2013, banyak pengamat menduga karier politiknya bakal tamat. Tapi dia selamat. Sebulan kemudian, dia juga lolos dari skandal korupsi melibatkan pula putranya.

Tapi dengan tiap perseteruan sudah dimenangkan Erdogan, tingkatan musuhnya kian naik. Hingga sebelum skandal korupsi melibatkan putranya terbongkar, dia masih menganggap Fethullah Gulen, kini dia tuding sebagai otak kudeta 15 Juli, sebagai teman.

Gulen sekarang telah menjadi musuh terbesar Erdogan. Dia tinggal di kota kecil Saylorsburg, Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, sekitar dua jam bermobil dari Kota New York. Untuk masuk ke tempat tinggal Gulen, pengunjung bakal diperiksa seorang petugas keamanan berpakaian serba hitam dengan sebuah pistol revolver di pinggang. Di balik gerbang tampak properti keren dan mahal. Tamannya tertata rapih dan bangunannnya serba modern.

Seperti Erdogan, Gulen juga kaum islamis. Mirip Erdogan pula, di muka umum dia seolah hidup sederhana. Padahal gerakan Hizmet bikinannya kaya dan berpengaruh. Para pengikutnya mendirikan surat-surat kabar, rumah sakit, perusahaan asuransi, universitas, dan sekolah di 140 negara, termasuk Indonesia.

Gulen mengklaim ingin menyebarkan Islam versi modern. Namun para pengkritiknya menyebut gerakan Gulen adalah sekte rahasia dan sulit ditembus, seperti Scientology buatan artis Hollywood Tom Cruise atau gerakan Opus Dei di agama Katolik.

Ketika AKP berkuasa pada 2002, komunitas Gulen awalnya dinilai sebagai sekutu logis. Erdogan, waktu itu menjabat perdana menteri, menunjuk para pengikut Gulen untuk posisi-posisi kunci dalam lembaga hukum dan administrasi. Dengan bantuan Gulen pula, Erdogan bisa menepis kritikan dari militer dan masyaraat sipil.   

Tapi kemesraan itu sudah lewat. Erdogan kini membalas dendam terhadap Gulen karena dianggap berusaha menggulingkan kekuasaannya.

Kutbettin Gulen, adik kandung Fethullah Gulen, ditangkap polisi Turki di Kota Gaziemir, Provinsi Izmir, Turki, pada 2 Oktober 2016. (Twitter)

Turki tahan adik Gulen

Kutbettin Gulen adalah saudara kandung pertama Gulen ditahan sejak kudeta gagal 15 Juli lalu.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato lewat aplikasi telepon video Face Time menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan menentang usaha kudeta pada 16 Juli 2016. Face Time termasuk media sosial sering kali diblokir oleh Erdogan. (Screen Grab)

Geliat Gulen di Indonesia

Yayasan Pasiad di Indonesia ditutup karena tidak mendapat rekomendasi dari Kedutaan Beesar Turki. "Apa mungkin mereka bakal memberi rekomendasi?"

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato lewat aplikasi telepon video Face Time menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan menentang usaha kudeta pada 16 Juli 2016. Face Time termasuk media sosial sering kali diblokir oleh Erdogan. (Screen Grab)

Semua mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad diminta tinggalkan Turki

Turki telah menahan tiga mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Pasiad.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017
Universal dan merusak
06 September 2016

TERSOHOR