IQRA

Arab Saudi dan Ekstremisme (1)

Bahaya ideologi Wahabi

Arab Saudi telah merusak tradisi Islam toleran di beragam negara.

30 Agustus 2016 10:01

Calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan pesaingnya dari kubu Republik Donald Trump berbeda pandangan dalam banyak isu, kecuali Arab Saudi. Hillary begitu menyayangkan soal dukungan dana Arab Saudi terhadap sekolah dan masjid-masjid radikal di seluruh dunia telah menelurkan terlalu banyak generasi muda berpandangan ekstresmis. Trump pernah menyebut negara Kabah itu sebagai penyumbang fulus terbesar bagi terorisme.

Farah Pandith, diplomat pertama Amerika bertugas di negara-negara muslim dan sudah mengunjungi 80 negara berpenduduk mayoritas penganut Islam, menyimpulkan Saudi telah menghancurkan tradisi Islam toleran di beragam belahan dunia. "Jika Saudi tidak mengendurkan apa yang sedang mereka lakukan saat ini, bakal ada konsekuensi politik, budaya, dan ekonomi," tulis Farah tahun lalu.

Para pengamat di televisi dan kolumnis di surat kabar menyalahkan Arab Saudi sebagai penyebar jihad kekerasan. " Di stasiun televisi HBO, Bill Maher menilai ajaran Saudi berasal dari Abad Pertengahan. Di koran the Washington Post, Fareed Zakaria menulis negeri Dua Kota Suci itu telah menciptakan sebuah monster dalam dunia Islam.

Gagasan itu telah menjadi sebuah pengetahuan umum: Arab Saudi mengekspor ajaran Islam kaku, fanatik, patriotik, fundamentalis dikenal dengan paham Wahabi, telah memicu lahirnya ekstremisme dan terorisme global. Proyek Negara Islam menyerukan kekerasan atas Barat telah menginspirasi serangan teroris di berbagai negara, sebuah debat usang soal pengaruh Saudi terhadap Islam relevan dengan situasi saat ini.

Dalam masalah Islam ekstremis, Saudi berperan sebagai bahan bakar sekaligus pemadam kebakaran. "Mereka mempromosikan sebuah ajaran Islam sangat beracun telah menciptakan garis tegas antara sejumlah kecil pengikut sejati dan pihak lain, muslim dan non-muslim," kata William McCants, peneliti dari Brookings Institution. "Di saat sama, mereka juga rekan dalam kontraterorisme."

Para pemimpin Saudi berupaya menjalin hubungan baik dengan Barat dan menilai kekerasan dilakukan jihadis sebagai ancaman bisa mengancam kekuasaan mereka, terutama sekarang, ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah melancarkan 25 serangan teror dalam delapan bulan terakhir, menurut data pemerintah Saudi.

Usaha penguasa Saudi membina hubungan damai dengan Barat ini juga didorong oleh persaingan mereka dengan Iran dan legitimasi mereka bergantung pada kaum ulama. Dua tujuan bertolak belakang ini kelihatan dari sikap tidak konsisten Saudi.

Thomas Hegghammmer, ahli terorisme dari Norwegia dan pernah menjadi penasihat pemerintah Amerika, bilang akibat paling penting dari campur tangan Saudi adalah memperlambat evolusi Islam, mennganjal penerimaan alamiah oleh Islam terhadap dunia kian beragam dan terkait secara global. "Mestinya terjadi reformasi Islam di abad ke-20, namun Saudi telah mencegah hal itu terjadi lewat ajaran versi mereka," ujarnya.

Pengaruh Saudi memang mencengangkan, menyentuh hampir semua negara memiliki penduduk muslim. Mulai dari Masjid Gothenburg di Swedia hingga Masjid Raja Faisal di Chad, dari Masjid Raja Fahad di Los Angeles sampai Masjid Pusat Seoul di Korea Selatan.

Dukungan berasal dari pemerintah Saudi, keluarga kerajaan, lembaga amal Saudi, dan organisasi-organisasi didanai Saudi, termasuk WML (Liga Muslim Dunia), WAMY (Majelis Pemuda Muslim Dunia), dan IIRO (Organisasi Bantuan Islam Internasional), memasok prasarana dan sarana pengajaran Wahabi.

Ada sebuah konsensus global menyebut ajaran Islam versi Saudi telah merusak tradisi Islam lokal di lusinan negara, merupakan hasil dari gelontoran fulus puluhan miliar dolar selama setengah abad. Para pekerja imigran dari Asia Selatan, tinggal bertahun-tahun di Arab Saudi dan membawa Islam ala Saudi ketika kembali ke negara asalnya. Di banyak negara, ajaran Wahabi telah mendorong munculnya pembenaran atas nama agama, berkontribusi terhadap dukungan mayoritas dalam sejumlah jajak pendapat di Mesir, Pakistan, dan negara lain untuk merajam orang karena berzinah dan membunuh muslim menjadi murtad.    

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz duduk bersebelahan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di ruang paripurna gedung Nusantara, kompleks parlemen, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz saat tiba di gedung Nusantara, kompleks DPR, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Kerajaan emas hitam

Dalam dokumen Panama Papers, disebutkan Raja Salman membeli sebuah kapal pesiar supermewah dan beberapa properti bernilai jutaan dolar Amerika Serikat di London.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Buang fulus rombongan liburan Salman

Raja Salman memiliki selusin apartemen di Paris senilai US$ 35 juta. Dia juga memiliki sebuah vila supermewah di Cote d'Azur, Prancis, dan satu istana di Marbella, Costa del Sol, Spanyol.

Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh. (Arab News)

Sebar Wahabi lewat buku pelajaran agama

Saudi sebenarnya sudah melakukan reformasi pendidikan, namun kontrol ulama atas tempat publik, pendidikan, dan indoktrinasi agama menyulitkan pelaksanaannya.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017
Universal dan merusak
06 September 2016

TERSOHOR