IQRA

Arab Saudi dan Ekstremisme (2)

Universal dan merusak

ISIS mengajarkan buku-buku pelajaran resmi Saudi di sekolah-sekolah mereka bikin hingga milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu mampu menerbitkan buku versi mereka sendiri tahun lalu.

06 September 2016 12:25

Sejauh mana pengaruh Arab Saudi di negara-negara muslim sangat bergantung pada kondisi setempat. Di sebagian Afrika dan Asia Tenggara, misalnya, ajaran agama versi negara Kabah itu telah mengubah tradisi agama ke arah konservatif dalam hal kaum hawa mesti berjilbab dan lelaki harus berjenggot.

Di kalangan komunitas imigran muslim di Eropa, pengaruh Saudi merupakan salah satu faktor pendorong ke arah radikalisasi dan bukan faktor paling signifikan. Di negara-negara terbelah, seperti Pakistan dan Nigeria, aliran fulus dari Saudi dan ideologinya telah menelurkan perpecahan dalam beragama dan secara rutin menyulut pertikaian mematikan.

Bagi kelompok minoritas di banyak negara, ajaran Islam eksklusif versi Saudi, dengan penistaan atas Yahudi, Kristen, Syiah, Sufi, dan aliran lainnya, telah membikin sebagian orang terpikat dengan Al-Qaidah, ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), serta kelompok jihadis lainnya.

Arab Saudi sendiri tidak hanya menghasilkan pendiri Al-Qaidah Usamah Bin Ladin, negara Kabah ini juga memproduksi 15 dari 19 pembajak pesawat dalam serangan teror 11 September 2001, pengirim pengebom bunuh diri terbanyak ke Irak setelah invasi Amerika Serikat pada 2003, dan pemasok jihadis terbesar kedua setelah Tunisia untuk ISIS, yakni 2.500 orang.

Mehmet Gormez, ulama senior Turki bercerita ketika Janurai tahun ini dia bertemu para ulama Saudi di Ibu Kota Riyadh, pemerintah Arab Saudi telah mengeksekusi mati 47 orang atas kasus terorisme, 45 di antara mereka adalah warga negara Arab Saudi. "Orang-orang ini telah belajar Islam 10 atau 15 tahun di negaranya sendiri. Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan di Saudi?" kata Gormez kepada the New York Times.

Dia berpendapat paham Wahabi menolak pluralisme, toleransi, dan keterbukaan atas ilmu pengetahuan dan pelajaran, sejatinya menjadi ciri khas Islam sejak lama.

Hal paling memalukan bagi pemerintah Arab Saudi adalah ISIS mengajarkan buku-buku pelajaran resmi Saudi di sekolah-sekolah mereka bikin hingga milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu mampu menerbitkan buku versi mereka sendiri tahun lalu.

Menurut Jacob Olidort, peneliti di the Washington Institute for Near East Policy, dari 12 kitab diterbitkan kembali oleh ISIS, tujuh di antaranya merupakan karangan dari Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri paham Wahabi.

Mantan imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah Syekh Adil al-Kalbani menyesalkan hal itu dalam wawancara televisi Januari lalu. "Para pemimpin ISIS telah memperoleh ide-ide (brutal dan biadab) ditulis di kitab-kitab kita, prinsip-prinsip kita (Wahabi)."

Paling tidak dalam dua dasawarsa terakhir, Arab Saudi telah mendistribusikan terjemahan Al-Quran berbahasa Inggris dengan tambahan arti di surat pertamanya: "Orang-orang mendapat kemurkaan Allah (seperti orang Yahudi) dan orang-orang tersesat (seperti orang Kristen)."

Sayyid Husain Nasr, Profesor Studi Islam di Universitas George Washington, bilang tambahan itu merupakan kebohongan dan tidak ada dasarnya dalam tradisi Islam.

Menurut William McCants, peneliti dari Brookings Institution, banyak pejabat Amerika Serikat - pernah bekerja sama dalam pemberantasan terorisme dengan Arab Saudi - mengakui soal bahaya ajaran Wahabi disebarluaskan negara itu. Karena masalah ini begitu sensitif, mereka segan membahas secara terbuka.

Apalagi Saudi jor-joran mendanai riset-riset profesor dan pusat-pusat penelitian di universitas-universitas di Amerika, termasuk lembaga-lembaga paling elite, juga menerima guyuran fulus Saudi. Hal ini menghalangi munculnya riset mengenai pengaruh negatif dari paham Wahabi.

Seorang mantan pejabat Amerika mulai berani bicara adalah Farah Pandith, utusan khusus pertama bagi seluruh negara-negara muslim. Selama 2009-2014, dia mengunjungi kaum muslim di 80 negara dan sampai pada kesimpulan: pengaruh Saudi merusak dan universal.    

"Di tiap tempat saya kunjungi, kehadiran paham Wahabi merusak," tulis Farah di the New York Times tahun lalu. Dia mengatakan Amerika Serikat mestinya menghentikan pelatihan imam-imam ekstremis, menolak buku-buku pelajaran dan terjemahan gratis dari Saudi karena isinya penuh kebencian. Dia menegaskan Amerika harus mencegah Saudi menghancurkan situs-situs agama dan budaya lokal sebenarnya menjadi bukti tentang keberagaman Islam.

Namun sebagian ahli Islam dan ekstremisme menolak gagasan Arab Saudi bertanggung jawab atas munculnya gelombang radikalisme dan jihad brutal. Mereka menekankan ada banyak faktor memicu terjadinya terorisme atas nama Islam, termasuk tindakan represif pemerintahan sekuler di Timur Tengah, ketidakadilan dan perpecahan, pembajakan Internet untuk propaganda teroris, dan intervensi Amerika di dunia muslim, mulai dari perang anti-Soviet di Afghanistan hingga invasi Irak.

Para ahli itu menambahkan ideologi-ideologi abad ke-20 paling mempengaruhi jihadis modern, seperti Sayyid Qutb di Mesir dan Abul Ala Maududi dari Pakistan, mencapai tingkat ekstrem mereka, yakni pandangan anti-Barat tanpa banyak masukan ide dari Saudi. Al-Qaidah dan ISIS, melecehkan penguasa Saudi, juga menjadi penyebab munculnya terorisme atas nama Islam.

"Amerika sepertinya mempunyai seseorang buat disalahkan, seorang individu, sebuah partai politik, atau negara," ujar Robert S. Ford, mantan Duta Besar Amerika untuk Suriah dan Aljazair. "Namun persoalannya lebih rumit. Saya tidak akan sembarangan menuding Saudi."

Robert dan para ahli lainnya menilai paham Wahabi mengajarkan orang untuk taat kepada penguasa, bukan mendorong ke arah terorisme buat mengahncurkan negara. Mereka bilang banyak ulama dilatih Saudi diam dan lebih sibuk dengan beribadah ketimbang mengurus masalah politik.

Khususnya sejak 2003, ketika Al-Qaidah mulai melancarkan serangan teror di negaranya, Arab Saudi bertindak lebih agresif untuk membungkam para ulama mengajarkan kekerasan, memotong aliran dana bagi teroris, dan bekerja sama dengan intelijen Barat buat menggagalkan sejumlah serangan teror.

Menurut Kementerian Islam Arab Saudi, selama 2004-2012, 3.500 imam dipecat karena menolak berhenti menyerukan pandangan radikal dan 20 ribu lainnya dilatih ulang. Namun Komisi Kebebasan Agama Internasional di Amerika meragukan pelatihan itu mengajarkan toleransi.

Seorang peneliti Amerika dengan banyak pengalaman di Arab Saudi - minta namanya dirahasiakan agar bisa bebas ke negara Kabah itu untuk penelitian - meyakini pengaruh Saudi kerap dibesar-besarkan dalam politik Amerika. Dia menyebut pengaruh Saudi mirip perubahan iklim. Suhu hanya naik satu derajat tapi sudah mampu melelehkan es di kutub. Ajaran Islam versi Saudi pun begitu. Berperan di banyak negara dalam cara-cara sulit diprediksi dan sukar dilacak namun kerap berpengaruh.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz duduk bersebelahan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di ruang paripurna gedung Nusantara, kompleks parlemen, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz saat tiba di gedung Nusantara, kompleks DPR, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Kerajaan emas hitam

Dalam dokumen Panama Papers, disebutkan Raja Salman membeli sebuah kapal pesiar supermewah dan beberapa properti bernilai jutaan dolar Amerika Serikat di London.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Buang fulus rombongan liburan Salman

Raja Salman memiliki selusin apartemen di Paris senilai US$ 35 juta. Dia juga memiliki sebuah vila supermewah di Cote d'Azur, Prancis, dan satu istana di Marbella, Costa del Sol, Spanyol.

Empat anggota milisi Jabhat Fatih asy-Syam mengeluarkan ancaman menembak mati Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jika dia tidak dihukum atas kasus penistaan agama. (Albalad.co/Istimewa)

Sebut Wahabi sumber ekstremisme dan terorisme, menteri agama Tunisia dicopot

Menteri Agama Tunisia Nuruddin al-Khadimi pada 2012 bilang sekitar 400 dari lima ribu lebih masjid di negaranya telah jatuh ke tangan kaum Salafi ultra-konservatif.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017
Bahaya ideologi Wahabi
30 Agustus 2016

TERSOHOR