IQRA

Borosnya Keluarga Bani Saud (1)

Buang fulus rombongan liburan Salman

Raja Salman memiliki selusin apartemen di Paris senilai US$ 35 juta. Dia juga memiliki sebuah vila supermewah di Cote d'Azur, Prancis, dan satu istana di Marbella, Costa del Sol, Spanyol.

06 Maret 2017 16:20

Ketika Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Turki April tahun lalu, dia membawa rombongan 300 orang. Tapi hanya untuk mempersiapkan sebuah hotel supermewah di Ibu Kota Ankara, untuk tempat dia menginap, menghabiskan fulus US$ 10 juta.

Media lokal menyebut rombongan Raja Salman menyewa 500 mobil mewah untuk transportasi di Ankara dan Istanbul. Pesawat-pesawat kargo dipakai buat mengangkut barang-barang pribadi penguasa negara Kabah itu. Keseluruhan biaya kunjungan Raja Salman dan rombongannya di Turki selama lima hari diperkirakan US$ 18 juta.

Tentu saja anggaran itu bakal membengkak saat Raja Salman dan rombongannya melawat ke Indonesia, termasuk berlibur di Bali. Selain jarak terbang lebih jauh rombongan dibawa juga banyak, 1.500 orang. Raja Salman juga membawa keperluan pribadinya: dua limusin supermewah, satu eskalator, sebuah sofa, dan televisi 80 inchi.

Di Jakarta selama 1-3 Maret, rombongan Raja Salman menginap di empat hotel di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, yakni Raffles, JW Marriott, Ritz Carlton, dan Westin. Liburan di Bali, 4-12 Maret, mereka memborong lima hotel di Nusa Dua: St Regis, Ritz Carlton, Laguna, Hilton, dan Mulia.

Musim panas lalu, Raja Salman juga baru saja selesai membangun sebuah istana di Tangier, Maroko. Kompleks istana menghadap Samudera Atlantik ini dilengkapi fasilitas kesehatan, dapur dengan bahan-bahan masakan didatangkan dari Prancis, sejumlah tempat pendaratan helikoter, dan sebuah tenda besar ukuran pertunjukan sirkus tempat Raja Salman berpesta dan menghibur rombongan besarnya.

Istana baru Raja Salman ini dikelilingi tembok tinggi dipasangi kamera pengawas dan dijaga tentara Maroko.

Meski pemerintah Arab Saudi membatalkan proyek-proyek senilai US$ 250 juta di dalam negeri karena defisit, namun pembangunan istana Raja Salman tetap dilanjutkan hingga selesai.

Harta keluarga kerajaan dari cadangan minyak, ditemukan saat ayahnya Raja Salman sekaligus pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz bin Saud, berkuasa lebih dari 75 tahun lalu. Penjualan emas hitam ini menghasilkan miliaran dolar masuk ke kantong keluarga kerajaan.

Alhasil, kaum bangsawan Bani Saud supertajir bisa memiliki vila supermewah di Prancis dan istana di Saudi, rekening bank dalam jumlah amat besar di Swiss, pakaian mahal di balik abaya, dan pelesiran naik sejumlah kapal pesiar supermewah terbesar di dunia tanpa ketahuan masyarakat umum.

Raja Salman menjadi bos dari bisnis keluarga Bani Saud secara tidak resmi dikenal dengan nama "Al Saud Inc." Masih melorotnya harga minyak mentah global memicu pertanyaan apakah keluarga kerajaan - dengan pangeran dan puteri berjumlah ribuan serta terus bertambah - masih bisa hidup mewah dan boros.

"Rakyat mempunyai lebih sedikit ketimbang sebelumnya, tapi kekayaan keluarga kerajaan tetap sama," kata Pangeran Khalid bin Farhan, anggota keluarga Kerajaan Saudi membelot dan tinggal di Jerman. "Ada banyak uang negara dirahasiakan dan itu diputuskan oleh raja sendiri."

Sekarang ini adalah periode mencemaskan bagi keluarga Bani Saud, dipimpin oleh Raja Salman berusia 82 tahun dan sudah terkena paling sedikit satu kali stroke dan kemungkinan dialah raja terakhir dari enam anak tersisa pendiri Arab Saudi. Dia mesti bergulat dengan keluarga superbesarnya, mulai dari yang kaya hingga berstatus miliarder, terbiasa mendapat keistimewaan dan banyak harta sejak dilahirkan.

Baru dua tahun berkuasa, Raja Salman telah melanggar tradisi, dengan memotong rantai suksesi biasanya diberikan kepada adik. Tapi dia malah menyulut pergolakan dengan mengangkat keponakannya, Pangeran Muhammad bin Nayif sebagai putera mahkota, dan anak kesayangannya, Pangeran Muhammad bin Salman, menjadi wakil putera mahkota.

Dia mencopot sejumlah pangeran tersohor dari kursi gubernur dan menteri, berusaha memperkuat kekuasaan tapi sekaligus menimbulkan konflik keluarga.

Arab Saudi juga tengah menghadapi persoalan serius di seberang perbatasan. Perang menghabiskan biaya di Yaman, konflik di Suriah dan Irak, serta persaingan dengan Iran dalam berebut pengaruh di Timur Tengah. Semua ini bisa memunculkan masalah ekonomi dan akhirnya akan membikin rakyat bergolak kalau subsidi selama ini mereka nikmati dipotong terlalu banyak. Banyak pangeran juga kuatir pembocoran kekayaan mereka bisa memprovokasi kritik masyarakat.

Pendapatan dari perusahaan minyak negara Saudi Aramco sejak lama menjadi sumber belanja pemerintah. Sebagian anggota keluarga telah menentang rencana Wakil Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman untuk menjual lima persen saham Aramco, selain di bursa domestik, kemungkinan di pasar saham New York dan London.

Mereka beralasan IPO (penjualan saham perdana) Aramco, dijadwalkan semester kedua 2018, mewajibkan audit atas Aramco sehingga ketahuan berapa pendapatan Aramco diberikan untuk anggaran pemerintah dan berapa yang dinikmati keluarga Bani Saud.  

Kecemasan tersebut membikin sejumlah pangeran senior diam-diam mencari alternatif lain ketimbang melakukan IPO Aramco. Meski begitu para pejabat Saudi bilang rencana itu tetap berjalan.
 
Menghadapi defisit sangat besar, pemerintah memotong gaji pegawai negeri dan mencabut subsidi, sehingga harga bensin serta tarif listrik dan air naik. Arab Saudi mulai menjual obligasi di pasar domestik dan internasional. Lowongan pegawai negeri juga dipangkas.

IMF (Dana Moneter Internasional) memperkirakan Arab Saudi mengalami defisit selama 2015-2020. Buat menutupi defisit, pada Desember 2015, Arab Saudi menaikkan harga bensin meski tetap termasuk yang termurah di dunia. Menurut beberapa sumber, Riyadh berencana mengerek lagi harga bensin hingga 30 persen mulai Juli tahun ini.

Kaum ningrat Bani Saud juga ikut kena getahnya, menurut Anas al-Qusayir, juru bicara Kementerian Kebudayaan dan Informasi. Dia bilang jatah bulanan bagi pangeran puteri kerajaan juga dikurangi. Meski begitu, beberapa pangeran tetap bergaya hidup mewah dan boros, menurut sejumlah warga Saudi dekat dengan keluarga kerajaan.

"Di bawah kepemimpinan Salman, para pangeran tetap menikmati lebih banyak keistimewaan. Sistem tunjangan bagi mereka tidak berubah," ujar Steffen Hertog, profesor di the London School of Economics, telah menulis buku soal ekonomi politik Arab Saudi berjudul Princes, Brokers, and Bureaucrats.

Sebagian keluarga Bani Saud masih doyan belanja besar. Dania Sinno, agen properti di Belles Demeures de France, menjelaskan banyak keluarga Kerajaan Saudi telah membeli properti di Paris tahun lalu. Dia baru-baru ini menjual sebuah apartemen seluas hampir 1.022 meter persegi di kawasan elite Rue Octave-Feuillet kepada seorang puteri Arab Saudi seharga lebih dari US$ 30 juta.

Raja Salman sendiri memiliki banyak properti di Prancis. Dia mempunyai selusin apartemen di 16th Arrondissement, Paris, senilai US$ 35 juta. Dia juga memiliki sebuah vila supermewah di Cote d'Azur, Prancis, dan satu istana di Marbella, Costa del Sol, Spanyol.

Sang raja tentu saja tidak kekurangan pilihan di negaranya sendiri. Ada banyak istana dan vila tempat berlibur, membentang mulai tepi Laut Merah hingga pesisir Teluk Persia. Namun kompleks istana baru di Tangier kelihatannya bakal menjadi tempat favorit buat berleha-leha.

Saat liburan musim panasnya di istana baru tersebut, ratusan sedan Mercedes dan Range Rover hitam terparkir di sekitar istana. Semua staf mesti meninggalkan telepon seluler mereka di gerbang agar tidak ada foto kegiatan liburan Raja Salman tersiar.

Namun akun Twitter @mujtahidd berhasil membocorkan berapa biaya pembangunan istana Raja Salman di Tangier, mobil-mobil mewah, dan hotel-hotel bintang lima diborong saat rombongan Raja Salman berlibur ke sana.

Qusayir menekankan semua pengeluaran itu dari kantong pribadi Raja Salman bukan duit pemerintah.

Beberapa staf bekerja di istana Raja Salman di Tangier kebagian rezeki: berhaji gratis.

Foto Mansur bin Hasan bin Ali al-Fahid al-Amiri, penyerang Istana As-Salam milik Raja Salman bin Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi. Insiden itu berlangsung pada 7 Oktober 2017 dan menewaskan dua pengawal istana. (SPA)

Arab Saudi rilis foto penyerang istana milik Raja Salman

Pelaku membawa sebuah Kalashnikov dan tiga bom molotov

Desain Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, milik Raja Salman bin Abdul Aziz. (sshic.com)

Istana Raja Salman diserang, dua pengawal terbunuh

Pelaku adalah warga negara Arab Saudi berumur 28 tahun.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz sempat bingung saat turun dari pesawat setibanya di Ibu Kota Moskow, Rusia, 5 Oktober 2017, karena eskalator emasnya mandek. (Twitter)

Eskalator emas mandek saat Raja Salman turun dari pesawat

Kunjungan Raja Salman ke Rusia ini untuk membahas rendahnya harga minyak global dan krisis Suriah dengan Presiden Vladimir Putin.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Al-Arabiya)

Raja Salman izinkan perempuan Saudi menyetir mobil mulai tahun depan

Arab Saudi selama ini menjadi satu-satunya negara di dunia mengharamkan kaum hawa mengemudi mobil.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017

TERSOHOR