kisah

Yahudi di negara Syiah

Iran memiliki komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah selain Israel.

10 Mei 2017 19:42

"Benjamin Netanyahu dan anti-Semit saling membutuhkan," kata Siamak Morsadegh, anggota parlemen Iran. "Mereka saling memasok apa yang mereka perlukan, intolrransi dan kebencian. 

Morsadegh adalah wakil di parlemen untuk masyarakat Yahudi di Iran, komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah selain Israel. Orang-orang Yahudi kian berkurang di Timur Tengah setelah negara Israel berdiri pada 1948.

Israel sudah lama memandang Iran sebagai musuh, ancaman nyata. Beberapa tahun belakangan Israel berupaya menggalang dukungan untuk mencegah tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Eropa dengan Iran, namun upaya negaraZionis itu gagal.

Kesepakatan dicapai pada Juli 2015 dan Januari tahun lalu sanksi ekonomi atas Iran dicabut. 

Morsadegh, 50 tahun, satu-satunya wakil orang Yahudi di parlemen Iran. Dia terpilih setelah mengalahkan dua kandidat Yahudi lainnya dalam pemilihan parlemen tahun lalu.

"Faktanya Iran adalah tempat di mana orang-orang Yahudi merasa aman dan kami bahagia tinggal di sini," ujar dokter bedah itu. "Kami bangga menjadi orang Iran. Saya tahu ini tidak sesuai konsep Zionis tapi ini adalah kenyataan."

Dia menegaskan tidak ada paksaan bagi orang-orang Yahudi tetap tinggal di negara Mullah itu. "Orang-orang Israel menawarkan fulus kepada orang-orang Yahudi Iran untuk pindah ke Israrl tapi kami memilih hidup di sini," tuturnya.

Morsadegh menilai perlakuan Netanyahu dan pemerintahannya telah memicu kesulitan bagi kaum Yahudi di negara mana saja.

Dia mengakui masih ada sedikit hal diskriminatif terhadap orang Yahudi di Iran. Dia mencontohkan soal uang darah mesti dibayar kepada keluarga korban kalau orang Yahudi menjadi pelaku kekerasan. 

Morsadegh ikut dalam rombongan Presiden Hasan Rouhani ke New York, Amerika Serikat, ubtuk merundingkan program nuklir Iran. Pengaruh dan minatnya lebih dari sekadar agama.

Dia bilang sangat jarang orang Yahudi Iran tertarik terjun ke politik. Kebanyakan berkutat di kedokteran dan farmasi. 

Dokter bedah ini menekankan kaum Yahudi di Iran hidup aman dan tenang. Tidak seperti di Eropa dan Amerika di mana sinagoge mesti dijaga ketat.

Terdapat sekitar 60 sinagoge di seantero negeri Mullah, termasuk enam di Ibu Kota Teheran. Di Iran hidup 10-20 ribu orang Yahudi. Mereka sangat jarang menikah dengan komunitas lain.

Albalad.co tahun lalu mengunjungi dua sinagoge di Teheran. Letaknya di tengah permukiman masyarakat dan gampang ditemukan.

Arik, pemasok peralatan listrik berusia 36 tahun, membenarkan orang Yahudi di Prancis kini terancam. Keluarga abangnya tinggal di Ibu Kota Paris. 

"Situasinya benar-benar buruk buat mereka," katanya. "Di sana ada orang berkulit putih rasis dan geng muslim mengganggu mereka. Situasinya makin memburuk."

Arik menjelaskan geng-geng muslim itu bukan berisi orang-orang Syiah, tapi Sunni menjadi ekstrem karena terpengaruh propaganda Wahabi dari Arab Saudi. Dia menambahkan orang-orang Yahudi di Paris harus berpatroli siang malam buat menjaga sinagoge dan rumah mereka.

Ketika Netanyahu mengunjungi Paris sehabis serangan teror pada November 2015 di kantor redaksi majalah Charlie Hebdo, dia menyerukan orang-orang Yahudi di Prancis untuk segera pindah ke Israel. Dia mengatakan Prancis dan Eropa Barat tidak lagi aman untuk kaum Yahudi.

Pemerintah Prancis mengkritik ucapan Netanyahu itu. "Prancis tanpa orang Yahudi bukan Prancis namanya...Kalau seratus ribu orang Yahudi pindah dari sini, negar ini bisa dicap gagal," ujar Perdana Menteri Manuel Valls, beristrikan perempuan Yahudi.

Tetap saja emigrasi Yahudi Prancis ke Israel meningkat dan meroket setelah Teror Paris. 

Arik menjelaskan Iran tempat sangat aman bagi pelancong asing, tidak seperti Mesir, Tunisia, atau Turki beberapa kali diguncang serangan teroris. "Ada banyak hal bisa dilihat di sini (Iran), termasuk sejarah Yahudi sudah berusia berabad-abad," tuturnya.

Ada beragam versi mengenai sejarah orang Yahudi di Iran. Ada yang meyakini orang Yahudi pertama tiba di Iran saat Raja Shalmaneser V, penguasa Kerajaan Asiria, mengirim sepuluh suku Yahudi hilang ke sana pada 722 Sebelum Masehi.

Versi lain menyebutkan gelombang kedatangan kaum Yahudi ke Iran terjadi pada 586 Sebelum Masehi, ketika mereka diusir dari Kerajaan Babilonia. Eksodus orang Yahudi ke Israel dimulai setelah negara Bintang Daud ini dibentuk pada 1948, namun sekitar seratus ribu lainnya memilih bertahan di Iran waktu Syah Reza Pahlevi berkuasa pada 1970-an.

Kala itu, Iran merupakan benteng Barat atas komunis dan memiliki hubungan baik dengan Israel, terutama di bidang keamanan. Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) membantu Iran membikin Savak, polisi rahasia. 

Israel juga menjual persenjataan senilai US$ 75 juta ke Iran, saat negar Persia ini berperang melawan Irak pada 1980-1988. Sedangkan Iran memasok kebutuhan minyak Israel selepas Perang Enam Hari, Juni 1967.

El Al pun memiliki penerbangan langsung Tel Aviv-Teheran.

Ketika pemberontakan terhadap Syah Iran meletup, sejumlah tokoh Yahudi ikut berunjuk rasa. Beberapa ribu orang Yahudi berdemonstrasi menentang Syah ikut ditahan.

Sehabis kemenangan Revolusi Islam 1979 dan berkuasanya Ayatullah Khomeini, Iran memutus semua hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel. Kantor Kedutaan Besar Israel di Teheran diubah menjadi kantor PLO (Organisasi Pembebasan Palestina).

Israel menolak membayar utang kepada Iran dalam bisnis jaringan pipa minyak. Meski pengadilan di Swiss pada Mei 2015 memutuskan supaya Israel melunasi utang US$ 1,1 miliar itu, pemerintahan Netanyahu menolak dengan alasan Iran musuh mereka.

Sejumlah aktivis Yahudi ditangkap setelah rezim Mullah memimpin. Paling mengejutkan bagi komunitas Yahudi di Iran adalah penangkapan atas pengusaha Yahudi tersohor Habib Elghanian, dengan tudingan menjadi mata-mata Israel. Dia kemudian divonis hukuman mati dan eksekusi dengan cara ditembak. 

Para sesepuh Yahudi lalu menggelar rapat darurat. Dua rabbi dan empat pegiat politik muda dikirim sebagai utusan dari Teheran ke Qom, pusat pengajaran Syiah di Iran, buat menemui Khomeini.

Setelah sebuah pertemuan panjang diakhiri makan malam, Khomeini menyatakan orang Yahudi di Iran adalah kaum nasionalis dan berbeda dengan Yahudi Zionis. Karena itu, mereka diizinkan menetap di negeri Persia tersebut.

Semasa Presiden Mahmud Ahmadinejad berkuasa pada 2005-2013, kegamangan terjadi. Di awal pemerintahannya, Ahmadinejad bilang Holocaust atau pembantaian orang-orang Yahudi oleh pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua, tidak perah terjadi.

Ketua Komite Yahudi Iran Harun Yashayaei menyurati Ahmadinejad untuk memprotes pernyataan itu. Mantan Presiden Muhammad Khatami dan Ali Akbar Velayati, kepala tim penasohat kebijakan luar negeri bagi pemimpin tertinggi Ali Khamenei, ikut mengkritik ucapan Ahmadinejad itu.

Seorang pengurus Sinagoge Abdullah Zadeh di Teheran mengungkapkan jumlah jemaat Yahudi beribadah kian bertambah setelah Revolusi 1979. "Karena kami tinggal di Republik Islam, negara religius," tuturnya. Amat sedikit orang Yahudi kesengsem pada politik. Mereka lebih fokus dengan agama dan itu lebih aman."

 

 

 

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

Jaringan pipa minyak melewati Negara bagian Rakhine, Myanmar. Saudi Aramco memakai pipa ini untuk memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina. (Gokunming.com)

Minyak Saudi darah Rohingya

Saudi Aramco memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina melalui jaringan pipa melewati Rakhine.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Mati perlahan di Yaman

Sebanyak 10,3 juta orang di antaranya amat sangat membutuhkan bantuan pangan. Sekitar 3,3 juta anak serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut.

Jamaah haji dari seluruh dunia melaksanakan salat di Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Agustus 2017. (Arab News)

Politisasi haji

Saudi meminta warga Suriah ingin berhaji mengajukan visa melalui badan dibentuk oposisi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

09 Oktober 2017
Minyak Saudi darah Rohingya
22 September 2017
Mati perlahan di Yaman
13 September 2017
Politisasi haji
30 Agustus 2017
Darah Mina tunggakan Saudi
28 Agustus 2017

TERSOHOR