kisah

Proyek berdarah di Awamiyah

PBB menilai rencana pemerintah Saudi merenovasi Distrik Al-Musara bisa merusak warisan sejarah dan budaya di sana.

17 Mei 2017 21:49

Situasi mencekam membekap kawasan permukiman Al-Musara di Awamiyah, kota Syiah kuno di Provinsi Qatif, timur Arab Saudi, Rabu dini hari pekan lalu. Pasukan negara Kabah dengan sokongan kendaraan lapis baja mengepung wilayah itu.

Jalan-jalan diblokir dan hanya disisakan satu pintu keluar masuk Awamiyah. Menjelang subuh baku tembak meletup dan hingga artikel ini dilansir, tiga orang terbunuh termasuk bayi lelaki berusia dua tahun, serta 14 lainnya cedera.

Konflik berdarah ini bermula saat pemerintah Arab Saudi meluncurkan proyek peremajaan Distrik Al-Musara berumur 400 tahun itu. Untuk membangun pusat-pusat perbelanjaan, restoran, pusat kebudayaan, dan apartemen maka perlu merobohkan 488 rumah tua di Al-Musara.

Para aktivis sudah menyebarluaskan foto dan rekaman video di media sosial, menunjukkan buldoser-buldoser dikawal kendaraan militer bersenjata.

Namun warga Syiah - berjumlah sepuluh persen dari total penduduk Saudi - sudah terlanjur kecewa dengan pemerintah. Mereka merasa duperlakukan berbeda di negara bermayoritas aliran Wahabi. 

Karena itu, ketika Revolusi Arab meletup pada 2011 dan berhasil menggulingkan rezim Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, Husni Mubarak di  Mesir , dan Muammar Qaddafi di Libya, para penganut Syiah di Saudi juga turun ke jalan mengecam rezim Bani Saud berkuasa sejak negara Kabah itu berdiri pada 1932. 

Sakit hati pemeluk Syiah di Saudi memuncak setelah ulama Syiah tersohor Syekh Muhammad Nimr an-Nimr - berkampung halaman di Awamiyah - dieksekusi mati bareng puluhan narapidana kasus terorisme pada Januari tahun lalu. 

Eksekusi Syekh Nimr inilah memperburuk hubungan Saudi dan Iran, memanas setelah Teheran menuntut Riyadh bertanggung jawab atas Tragedi Mina di musim haji 2015, menewaskan lebih dari dua ribu jamaah. Saudi kemudian memutus hubungan diplomatik dengan Iran sehabis pengunjuk rasa di Teheran membakar Kedutaan Besar Saudi.

Rencana renovasi Al-Musara ini memang benar-benar kontroversial. Bulan lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta pemerintah Saudi menghentikan proyek itu karena bisa merusak warisan sejarah dan budaya di Awamiyah. 

"Penduduk sudah ditekan dengan banyak cara, termasuk pemutusan jaringan listrik, memaksa warga meninggalkan rumah dan usaha mereka tanpa diberi pilihan tepat, mereka diberi kompensasi tidak mencukupi, dan paling buruk mereka tidak tahu mau pindah ke mana," kata Lailani Farha, pelapor khusus PBB soal hak atas tempat tinggal.

Seorang warga Awamiyah menolak ditulis namanya merasa kuatir Al-Musara bakal dirusak pemerintah. "Benar-benar menyakitkan melihat pemerintah merusak kota bersejarah dan arkeologis seperti Al-Musara telah berusia ratusan tahun," ujarnya.

Aktivis setempat Amin Nimr mengakui kekerasan meletup di Awamiyah lantaran pemerintah memakai tangan besi saat menanggapi seruan reformasi. 

"Saya meyakini pemerintah sejak awal pada 2011 menghadapi tuntutan demonstran dengan cara militer, pakai cara polisi," tuturnya. "Karena itulah segalanya berubah menjadi kacau." 

Dalam keterangan tertulis Jumat pekan lalu, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menjelaskan para pekerja di proyek renovasi Al-Musara ditembaki dan kendaraan mereka dibom. 

Jawad Daghir, 2 tahun, dan seorang warga Pakistan tewas ditembak. 

Kementerian Dalam Negeri tidak menyebut kapan insiden itu terjadi. Mereka cuma bilang para penyelundup narkotik dan senjata berupaya menghambat proyek tersebut, dengan melancarkan serangan dari rumah-rumah telah ditinggalkan.

The European Saudi Human Rights Organization (ESHRO) mengatakan gerbang Awamiyah sudah diblokir menggunakan blok-blok beton.

Warga mengaku kekurangan air bersih dan hanya bisa mendapat pasokan listrik lewat generator pribadi. 

Amin Nimr menyayangkan kebrutalan dilakukan pasukan Saudi terhadap warga negaranya sendiri. "Benar-benar sulit bagi mereka dan Anda bisa membayangkan kendaraan-kendaraan militer ini, mereka dapat menembak 24 jam," katanya. "Orang-orang tidak bisa tidur."

Karena kesewenangan penguasa, renovasi Al-Musara telah menjelma menjadi proyek berdarah.

 

Pangeran Sultan bin Turki, diculik pada 1 Februari 2016 karena getol mengkritik pemerintah Arab Saudi. (Hugh Miles)

Tantang rezim lenyap tiga pangeran

Dalam dua tahun terakhir, tiga pangeran asal Arab Saudi hilang diculik dan hingga kini tidak diketahui nasibnya, karena getol mengkritik rezim Bani Saud.

Hotel Palmyra di Kota Baalbik, Libanon, tidak pernah tutup sehari pun sejak dibuka pada 1874. (Blogbaladi.com)

Sejarah Libanon di Palmyra

Sepanjang lebih dari 140 tahun, melewati dua perang dunia dan satu perang saudara selama 15 tahun

Situasi di Awamiyah, kota Syiah dikepung pasukan Arab saudi sejak Mei 2017. (Twitter)

Potret buram Awamiyah

"Di Arab Saudi bila Anda ingin melanggar hak asasi manusia dan menumpas pemberontak, seratus persen masih memungkinkan bahkan di abad ke-21 ini," ujar Adubasi.

Kostum Neymar setelah bergabung dengan klub milik Qatar, Paris Saint-Germain. (Twitter/@PSG_inside)

Transfer Neymar dan sukses diplomasi Qatar

Kepindahan Neymar ke PSG ini merupakan sukses diplomasi Qatar dalam menghadapi tekanan dari Arab Saudi sekawan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Tantang rezim lenyap tiga pangeran

Dalam dua tahun terakhir, tiga pangeran asal Arab Saudi hilang diculik dan hingga kini tidak diketahui nasibnya, karena getol mengkritik rezim Bani Saud.

16 Agustus 2017
Sejarah Libanon di Palmyra
14 Agustus 2017

TERSOHOR