kisah

Tebusan US$ 1 miliar dan isolasi Qatar

Sebanyak US$ 700 juta diberikan kepada Iran dan milisinya, sisanya dibyarakan kepada dua kelompok pemberontak Suriah berafiliasi dengan Al-Qaidah.

07 Juni 2017 11:32

Qatar telah membayar uang tebusan hingga US$ 1 miliar untuk membebaskan 26 anggota rombongan pemburu asal negara itu, termasuk sebelas pangeran dari keluarga Ats-Tsani, diculik ketika berburu di selatan Irak. Barangkali inilah salah satu pemicu sejumlah negara tetangga memutus hubungan diplomatik dengan Qatar.

Arab saudi, bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Yaman Senin lalu memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Mereka beralasan negara Arab mungil itu mendukung terorisme.

Para komandan kelompok militan dan pejabat pemerintah di Timur Tengah bilang kepada the Financial Times, Doha telah menggelontorkan fulus US$ 1 miliar untuk membebaskan 26 orang tersebut dan sekitar 50 pemberontah ditangkap jihadis di Suriah. Uang itu dibayarkan kepada Tahrir asy-Syam dan Ahrar asy-Syam, dua pemberontak Suriah berafiliasi dengan Al-Qaidah, dan sejumlah pejabat Iran.

Kesepakatan dicapai April lalu itu mencemaskan negara-negara tetangga Qatar. "Pembayaran uang tebusan itu seperti jerami mematahkan punggung unta," kata seorang pengamat politik di kawasan Arab Teluk.

Doha membantah tudingan menyokong kelompok-kelompok teroris dan menyebut blokade atas negaranya tanpa alasan kuat.

Seorang sumber dekat dengan pemerintahan Qatar membenarkan soal pembayaran uang tebusan itu, namun dia mengaku tidak mengetahui jumlahnya dan kepada siapa fulus itu dibayarkan.

Seperti Arab Saudi, UEA, dan Bahrain, Qatar juga sekutu Amerika Serikat. Negara adikuasa itu memiliki sebuah pangkalan militer di Qatar, dihuni sekitar sepuluh ribu tentara Amerika.

Namun diplomasi Qatar dipandang sulit didikte. Dalam sejarahnya, Qatar berhubungan dengan segala jenis kelompok kontroversial, mulai dari kaum pemberontak di Darfur, Sudan, hingga milisi Taliban di Afghanistan dan Hamas di Jalur Gaza.

Qatar mengklaim sebagai negara netral agar bisa menjadi penengah di berbagai konflik Timur Tengah. Tapi Saudi dan UEA melihat Qatar berperan ganda dan melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain, seperti di Libya dan Suriah.

"Jika Anda ingin bagaimana Qatar membiayai jihadis, jangan lihat selain pembayaran uang tebusan itu," ujar seorang tokoh oposisi Suriah telah bekerja sama dengan seorang mediator Al-Qaidah dalam proses pertukaran tawanan di Suriah. "Ini bukan yang pertama, ini bagian dari rangkaian sejak permulaan perang (di Suriah)."

The Financial Times juga berbicara dengan kedua pihak terlibat dalam pertukarwan tawanan, termasuk dua pejabat pemerintah, tiga pemimpin milisi Syiah Irak, dan dua pemimpin pemberontak Suriah.

Menurut sejumlah pejabat di Timur Tengah, sekitar US$ 700 juta dibayarkan kepada beberapa pejabat Iran dan milisi Syiah dukungan negara Mullah itu. Sebanyak US$ 200 juta hingga US$ 300 juta diberikan kepada Tahrir asy-Syam dan Ahrar asy-Syam.

Orang-orang terlibat dalam pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu menjelaskan kesepakatan itu menunjukkan bagiamana Qatar diduga telah menggunakan uang tebusn buat mendanai para jihadis di Suriah. Namun bagi negara-negara tetangganya, isu terbesar adalah Qatar telah membiayai Iran, musuh bebyutan Arab Saudi selalu dituduh menebar konflik di dunia Arab.

Konflik ini bermula ketika Kataib Hizbullah, milisi Syiah di Irak, menculik rombongan pemburu dari Qatar pada Desemnber 2015. Tiga pemimpin milisi Syiah di Irak mengatakan tawanan itu disekap di Iran.

Dua diplomat Timur Tengah meyakini motif dari penculikan itu untuk menaikkan posisi tawar Hizbullah dan Iran dalam proses pembebasan pejuang Syiah ditawan kelompok Sunni Tahrir asy-Syam di Suriah.

Pembayaran uang tebusan ini juga terkait sebuah kesepakatan lain soal pertukaran penduduk di empat kota di Suriah. Dua kota dihuni warga Sunni dan dua kota berpenduduk penganut Syiah.

Seorang diplomat Barat menilai kesepakatan pertukaran penduduk di empat kota tersebut menyamarkan usaha Qatar untuk pembayaran uang tebusan. "Iran dan Qatar sudah lama berusaha menutup kesepakatan pembebasan rombongan pemburu Qatar dan mereka akhirnya menemukan penyamaran itu," tuturnya.

Menurut dua tokoh oposisi Suriah memiliki hubungan dekat ddengan dua pemberontak menerima uang tebusan dari Qatar, negara Arab Teluk itu telah menggunakan kesepakatan evakuasi penduduk di empat kota untuk membayar US$ 120-140 juta kepada Tahrir asy-Syam dan US$ 80 juta untuk Ahrar asy-Syam.

"Qatar membayar siapa saja, apa tujuannya? Mereka hanya ingin menghancur negara kami," kata seorang komandan pemberontak Suriah.

Seorang pejabat Timur Tengah mengungkapkan total uang diberikan kepada dua kelompok jihadis itu hampir US$ 300 juta. "Bila ditambahkan dengan uang diberikan kepada Iran dan milisi sokongannya, berarti Qatar menghabiskan US$ 1 miliar untuk kesepakatan gila ini," ujarnya.

Namun para komandan milisi Syiah di Irak kecewa karena kebagiansedikit. Setahu mereka, Iran memperoleh US$ 400 juta. "Itu membuat beberapa di antara kami frustasi sebab kesepakatan awalnya tidak seperti itu."

Tapi yang membingungkan, Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi April lalu meminta kepada utusan Emir Qatar agar fulus dalam beberapa tas berjumlah US$ 500 juta diserahkan buat membantu Pasukan Mobilisai Rakyat, merupakan payung dari sekitar 40 milisi Syiah di Irak tengah memerangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Mosul.

Tidak jelas apakah uang itu bagian dari tebusan US$ 1 miliar dibayar Qatar atau tambahan.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Qatar tarik US$ 20 miliar dari cadangan devisa buat dana penyangga ekonomi

Moody's bulan lalu menyebutkan Qatar sudah menyuntikkan US$ 38,5 miliar ke dalam perekonomiannya sejak krisis diplomatik meletup.

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

Penyair asal Qatar Muhammad bin Futais al-Marri. (Al-Arabiya)

Qatar cabut kewarganegaraan penyair karena bela Saudi

Qatar bulan lalu mencabut status kewarganegaraan atas 55 orang dari suku Al-Murrah.

Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani pada 16 Agustus 2017 bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Jeddah, Arab Saudi. (Supplied)

Qatar tahan 20 pangeran membangkang terhadap emir

Menurut para pangeran tersebut, mereka ditahan sebab memiliki hubungan langsung dengan Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

09 Oktober 2017
Minyak Saudi darah Rohingya
22 September 2017
Mati perlahan di Yaman
13 September 2017
Politisasi haji
30 Agustus 2017
Darah Mina tunggakan Saudi
28 Agustus 2017

TERSOHOR