kisah

Temu rahasia Netanyahu dan Syekh Abdullah an-Nahyan

Selama lima tahun terakhir, Netanyahu berusaha bertemu putera mahkota Abu Dhabi tapi belum berhasil.

21 Juli 2017 20:05

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diam-diam bertemu Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Abdullah bin Zayid an-Nahyan pada September 2012 di kamar hotel tempat Netanyahu menginap di Kota New York, Amerika Serikat.

Dua diplomat senior Barat menolak ditulis identitasnya mengungkapkan Netanyahu dan Syekh Abdullah bin Zayid lebih banyak membahas masalah program nuklir Iran. Namun keduanya juga menyinggung isu Palestina. Waktu itu, Syekh Abdullah bin Zayid bilang negaranya baru bisa membina hubungan resmi dengan Israel kalau ada kemajuan dalam proses perdamaian.

Pertemuan itu berlangsung pada 28 September 2012, di sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Sehari sebelumnya, Netanyahu berpidato mendesak masyarakat internasional segera menghentikan program senjata nuklir Iran.

Negara Mullah itu berkali-kali membantah tudingan memproduksi senjata nuklir. Hingga akhirnya pada Juli 2015 di Ibu Kota Wina , Austria, dicapai kesepakatan antara Iran dan Barat soal program nuklir Iran. Kesepakatan ini berujung pada pencabutan sanksi ekonomi terhadap negeri Persia itu Januari tahun lalu.

Pertemuan antara Netanyahu dengan para pejabat senior dari negara-negara Teluk Persia memang sangat jarang terjadi, sejak dia menjadi perdana menteri lagi untuk kedua kalinya pada 2009. Netanyahu memang berupaya mengadakan pertemuan dengan para petinggi negara-negara Arab Teluk tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Arab Saudi, UEA, dan Bahrain.

Hubungan Israel dan UEA sempat menegang setelah peristiwa pembunuhan komandan senior Hamas di Dubai pada januari 2010. Kepolisian Dubai meyakini insiden itu didalangi oleh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel).

Kedua diplomat Barat itu bilang Syekh Abdullah bin Zayid baru menyetujui permintaan untuk bertemu setelah dalam waktu lama Netanyahu mengirim pesan kepada para pejabat senior UEA melalui perantara. Pertemuan keduanya berlangsung di the Loews Regency Hotel, berlokasi di pojokan jalan antara East 61st Street dan park Avenue, tempat menginap Netanyahu selama lawatan di New York.   

Duta Besar UEA buat Amerika Serikat Yusuf al-Utaiba menemani Syekh Abdullah bin Zayid dalam pertemuan ini. Mereka memasuki hotel diam-diam lewat tempat parkir bawah tanah, kemudian naik ke kamar Netanyahu melalui lift khusus.

Yaakov Admiror, kemudian menjadi Penasihat Keamanan Nasional, bersama Sekretaris Militer Mayor Jenderal Johanan Locker mendampingi Netanyahu dalam pertemuan itu.

Pertemuan Syekh Abdullah bin Zayid dan Netanyahu berlangsung hangat dan keduanya lebih banyak membahas isu nuklir Iran. Dalam kesempatan ini, Syekh Abdullah bin Zayid memuji pidato Netanyahu di sidang Majelis Umum PBB mengenai program nuklir negara Mullah itu.

Syekh Abdullah Zayid juga mendrong Netanyahu untuk menerima proposal Liga Arab disampaikan dalam konferensi tingkat tinggi di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 2002. Semua negara Arab setuju membuka hubungan diplomatik dengan Israel bila Palestina menjadi negara merdeka dengan ibu kota Yerusalem Timur.

Syekh Abdullah bin Zayid menekankan UEA tertarik meningkatkan hubungan dengan negara Bintang Daud itu, namun tidak bisa dilakukan secara terbuka, selama proses perdamaian Palestina-Israel masih mandek.

Seorang pejabat senior Israel bercerita pada September tahun lalu mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni menghadiri jamuan makan siang terbatas, dengan Syekh Abdullah bin Zayid sebagai tamu kehormatan. Dia mengatakan ketika itu, UEA dan lima negara Arab Teluk lainnya ingin menormalisasi hubungan dengan Israel bila ada kemajuan dalam penyelesaian konflik melalui soluasi dua negara.

Dua diplomat Barat itu mengatakan selama lima tahun terakhir, Netanyahu berusaha keras agar bisa bertemu Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan. Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair juga beruoaya membantu tapi pertemuan tersebut tidak pernah terwujud. Blair diyakini merupakan teman dekat Syekh Muhammad bin Zayid dan sudah tahun belakangan bekerja sebagai penasihatnya.

Netanyahu teerus menjalin kontak dengan para petinggi UEA melalui Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Ron Dermer, merupakan sahabat dari Yusuf Utaiba. Keduanya sering bertemu membahas beragam isu regional dan global, kecuali persoalan Palestina.

Dermer pernah mengundang Utaiba menghadiri pidato Netanyahu di depan Kongres Amerika pada Maret 2015, di mana dia menolak program nuklir Iran. Namun Utaiba mdenolak undangan itu secara halus.

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

Jaringan pipa minyak melewati Negara bagian Rakhine, Myanmar. Saudi Aramco memakai pipa ini untuk memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina. (Gokunming.com)

Minyak Saudi darah Rohingya

Saudi Aramco memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina melalui jaringan pipa melewati Rakhine.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Mati perlahan di Yaman

Sebanyak 10,3 juta orang di antaranya amat sangat membutuhkan bantuan pangan. Sekitar 3,3 juta anak serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut.

Jamaah haji dari seluruh dunia melaksanakan salat di Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Agustus 2017. (Arab News)

Politisasi haji

Saudi meminta warga Suriah ingin berhaji mengajukan visa melalui badan dibentuk oposisi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

09 Oktober 2017
Minyak Saudi darah Rohingya
22 September 2017
Mati perlahan di Yaman
13 September 2017
Politisasi haji
30 Agustus 2017
Darah Mina tunggakan Saudi
28 Agustus 2017

TERSOHOR