kisah

Tantang rezim lenyap tiga pangeran

Dalam dua tahun terakhir, tiga pangeran asal Arab Saudi hilang diculik dan hingga kini tidak diketahui nasibnya, karena getol mengkritik rezim Bani Saud.

16 Agustus 2017 21:29

Subuh pada 12 Juni 2003, seorang pangeran diantar ke sebuah istana di pinggiran Kota Jenewa, Swiss. Namanya Sultan bin Turki bin Abdul Aziz, sedangkan istana dituju kepunyaan Raja Arab Saudi Fahad bin Abdul Aziz.

Pangeran Abdul Aziz bin Fahad, putra kesayangan Raja Fahad, mengundang Pangeran Sultan bin Turki untuk sarapan bareng. Dia meminta Pangeran Sultan kembali ke Arab Saudi. Dia bilang konflik meletup akibat kritik Pangeran Sultan terhadap kepemimpinan Raja Fahad akan diselesaikan.

Pangeran Sultan menolak. Pangeran Abdul Aziz kemudian menelepon seseorang. Menteri Urusan Islam Arab Saudi Syekh Saleh asy-Syekh - juga hadir dalam ruangan sama - segera pergi. Tidak lama berselang, sekelompok lelaki bertopeng menerobos masuk. Mereka memukuli pangeran Sultan dan mengikat kedua tangannya, lalu menusukkan sebuah jarum ke lehernya.

Dalam keadaan pingsan, Pangeran Sultan, 49 tahun, diangkut ke bandar udara di Jenewa. Dia lalu dibawa masuk ke dalam sebuah pesawat Medevac sudah siap terbang.

Hanya itu yang diingat Pangeran Sultan. Dia menceritakan penculikan dirinya tersebut beberapa tahun kemudian di sebuah pengadilan Swiss.

Di antara anak buah Pangeran Sultan, menunggu sang majikan kembali ke hotel tempat menginap di Jenewa sepulang sarapan, adalah Eddie Ferreira, staf komunikasinya. "Kami tidak bisa menghubungi tim keamanan. Itulah kecurigaan pertama," kata Ferreira mengenang kejadian itu, seperti disiarkan dalam film dokumenter BBC Arabic kemarin malam. "Kami berusaha menelepon pangeran, tidak ada respon, tak ada jawaban."

Kemudian sorenya, datang dua tamu tidak disangka.

"Duta besar Saudi untuk Swiss tiba bersama manajer hotel dan meminta kami semua beres-beras dan segera keluar dari hotel," ujar Ferreira. "Dia bilang Pangeran (Sultan bin Turki) telah berada di Riyadh, layanan kami tidak diperlukan lagi dan kami dapat pergi."

Setahun sebelum penculikan itu, Pangeran Sultan bin Turki tiba Eropa untuk menjalani perawatan medis. Di sana dia mulai memberikan wawancara-wawancara mengkritik pemerintah Saudi. Dia mengecam pelanggaran hak asasi manusia, mengeluhkan korupsi dilakukan pangeran dan pejabat, serta menyerukan serangkan perubahan.

Bahkan sejak 1932, ketika Raja Abdul Aziz bin Saud merupakan pendiri Arab Saudi berkuasa, negara Kabah itu diperintah secara absolut dan tidak menolerir penentang penguasa.

Setelah diculik dari Jenewa, Pangeran Sultan bin Turki bolak balik dipenjara dan menjalani status tahanan rumah di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. Karena kesehatannya terus memburuk, keluarga kerajaan pada 2010 mengizinkan dia berobat ke Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Tapi apa yang dilakukan di negara adikuasa itu malah makin membikin keluarga kerajaan berang. Dia mengajukan gugatan ke pengadilan di Swiss, menuding Pangeran Abdul Aziz bin Fahad dan Syekh saleh asy-Syekh bertanggung jawab atas penculikannya pada 2003.

Pengacaranya asal Amerika Clyde Bergstresser berhasil emmperoleh catatan medis dari Rumah Sakit Khusus Raja Faisal di Riyadh, di mana Pangeran Sultan bin Turki dirawat di sana pada 13 Juni 2003. Catatan itu menyebutkan sebuah tabung telah ditempatkan ke dalam mulutnya untuk membantu dia bernapas ketika sedang dibius. Satu sisi diafragmanya rusak, kemungkinan akibat dipukuli saat diculik.  

Untuk pertama kalinya seorang pangeran senior Saudi mengajukan gugatan pidana terhadap anggota keluarga kerajaan di sebuah pengadilan di negara Barat.

Namun Bergstresser bilang aparat berwenang Swiss kurang bergairan menangani kasus tersebut.

"Tidak ada yang dilakukan untuk mencari tahu apa yang terjadi di bandar udara (pada 12 Juni 2003)," tutur Bergstresse. "Siapa pilotnya? Rute penerbangan mereka setelah pesawat itu tiba dari Arab Saudi? Penculikan ini terjadi di wilayah Swiss dan orang akan berpikir ada sesuatu yang menarik bagaimana itu terjadi."

Pada Januari 2016, Pangeran Sultan bin Turki tengah menginap di sebuah hotel eksklusif di Ibu Kota paris, Prancis, ketika Pangeran Saud bin Saif an-Nasr juga diculik.

Pangeran Sultan bin Turki berencana mengunjungi ayahnya, juga pengkritik pemerintah Saudi, tinggal di Ibu Kota Kairo, Mesir.  Meski pernah diculik pada 2003, dia menerima tawaran dari Konsulat Saudi untuk menggunakan sebuah jet pribadi.

Pangeran Sultan bin Turki pada 1 Februari 2016 akhirnya terbang dari Paris bersama sekitar 18 orang anggota rombongannya, termasuk satu dokter pribadi, perawat, dan para pengawal dari Amerika dan Eropa.

Dua anggota rombongan bercerita bagaimana Pangeran Sultan bin Turki kembali diculik.

"Kami dibawa ke landasan dan di sana sudah terparkir sebuah pesawat raksasa...ada tulisan Arab Saudi di bodinya," kata seorang anggota rombongan Pangeran Sultan bin Turki.

"Hanya saja yang aneh adalah ada banyak kru dalam pesawat dan semuanya lelaki," ujar satunya lagi.  

Pesawat Boeing 747 itu kemudian lepas landas dan layar monitor di kursi pesawat menunjukkan pesawat ini terbang menuju Kairo. Namun setelah perjalanan berlangsung sekitar 2,5 jam, layar monitor itu mati.

Pangeran Sultan bin Turki sedang tidur dalam ruangan di pesawat pribadi itu, tapi dia bangun sejam sebelum mendarat. Dia melihat melalui jendela dan kelihatan cemas.

Setelah mengetahui pesawat bakal mendarat di Arab Saudi, Pangeran Sultan mulai memukuli pintu kokpit dan menangis minta tolong. Seorang anggota kru pesawat meminta dia rombongan pangeran tetap di kursi masing-masing.

Sehabis mendarat di Riyadh, lusinan mobil dan kendaraan militer, tentara dan polisi bersenjata berat segera mengepung. Pangeran Sultan bin Turki kemudian ditarik keluar pesawat seraya menendang dan berteriak histeris menuju sebuah mobil.

Dia kemudian berteriak kepada rombongannya, memberitahu mereka semua sudah diculik dan mereka harus memberitahu kedutaan besar masing-masing. Sejak saat itu, Pangeran Sultan bin Turki tidak pernah lagi terlihat di depan publik.

Semua anggota rombongannya, termasuk beberapa gadis Barat, ditahan tiga hari di Arab Saudi.

Pertama-tama, semua peralatan elektronik dan paspor mereka disita. Mereka kemudian dibawa ke sebuah hotel di Riyadh oleh tentara Saudi bersenjatakan senapan mesin.

Selalu dalam penjagaan petugas bersenjata dan tanpa paspor membuat 18 anggota rombongan Pangeran Sultan bin Turki tdak bisa meninggalkan hotel. Semua telepon seluler dan peralatan elektronik mereka lalu dikembalikan setelah menghapus gambar dan bukti-bukti penculikan, kecuali satu fto terlewat.

Di hari ketiga, seluruh anggota rombongan Pangeran Sultan bin Turki itu digiring ke dalam sebuah kamar di hotel itu. Di sana seorang pejabat militer Saudi meminta maaf atas ketidaknyaman tersebut dan meminta mereka semua menandatangani dokumen-dokuemn dalam bahasa Arab tidak mereka pahami isinya.

Para penculik itu lantas menanyakan ke mana mereka ingin pergi. Mereka lalu dibawa ke bandar udara di Riyadh. Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka diangkut ke dalam sebuah pesawat beberapa menit sebelum lepas landas dan paspor mereka dikembalikan.

Pangeran Sultan bin Turki adalah satu dari tiga pangeran Saudi diculik kembali ke negara asalnya dalam dua tahun terakhir. Ketiganya getol mengkritik rezim Bani Saud berkuasa di negara Kabah itu.

Dalam waktu hampir bersamaan dengan hilangnya Pangeran Sultan bin Turki, Pangeran Saud bin Saif an-Nasr bin Saud bin Abdul Aziz bernasib serupa. Dia gemar berjudi di kasino dan bermalam di hotel-hotel mahal di Eropa.

Pada Maret 2014, dia mulai mengkritik Kerajaan Saudi di akun Twitternya. Dia menyerukan para pejabat Saudi terlibat dalam penggulingan Presiden Mesir Muhammad Mursi setahun sebelumnya diadili. Dia menuduh miliaran dolar Amerika bantuan Saudi kepada mesir telah dicuri di tahun-tahun terakhir kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Dia secara terbuka menyerukan pencopotan Pangeran Muhammad bin Salman, sejak 21 Juni lalu ditunjuk sebagai Putera Mahkota Arab Saudi Pada 5 September 2015, ketika seorang pangeran Saudi menerbitkan sebuah surat berisi seruan buat mengkudeta Raja Salman bin Abdul Aziz, Pangeran Saud satu-satunya anggota keluarga kerajaan mengumumkan dukungan atas seruan itu.

Namun empat hari kemudian Twitternya bungkam dan Pangeran Saud bin Saif hilang.

Menurut Pangeran Khalid bin Farhan, juga pembelot, Pangeran Saud dijebak dalam penerbangan menggunakan sebuah jet pribadi dari Milan ke Roma untuk membahas sebuah kesepakatan bisnis dengan satu perusahaan Rusia-Italia, ingin membuka cabang di kawasan Arab Teluk.  

"Intelijen Saudi telah mengatur keseluruhan operasi penculikan itu," kata Pangeran Khalid. "Sekarang nasib Pangeran Saud mirip Pangeran Turki (bin Bandar), dalam penjara bawah tanah."

Pangeran Turki bin Bandar bin Muhammad bin Abdurrahman tadinya seorang polisi berpangkat mayor, bertugas mengawasi keluarga kerajaan. Namun karena sengkta tanah warisan, dia kahirnya dipenjara.

Setelah dibebaskan, dia mengasingkan diri ke Paris dan meminta suaka politik. Pada 2009, Pangeran Turki mulai menyerukan reformasi di Arab Saudi daan pada Maret 2011 dia muncul di media Iran.

Pada 2012, Pangeran Turki mulai mengunggah rekaman-rekaman video ke YouTube, meminta reformasi di Arab Saudi. Dia melakoni hal ini selama tiga tahun dan akhirnya hilang pada 2015.

Setelah mencoba mencari tahu keberadaan Pangeran Turki, rekannya, Wail al-Khalaf - narablog sekaligus aktivis - menemukan sebuah artikel dalam sebuah surat kabar terbitan Maroko Di sana ditulis Pangeran Turki tadinya mau kembali ke Prancis setelah mengunjungi Maroko ketika dia ditangkap dan dipenjara. Kemudian ada permintaan deportasi dari pemerintah saudi, kemudian dikabulkan pengadilan di Maroko.

Sebelum diculik ke Saudi, Pangeran Turki sempat memberikan buku tulisannya kepada Wail. Di sana dia menyatakan dirinya sadar bisa diculik atau bahkan dibunuh karena getol mengkritik pemerintah Saudi. "Saya tahu saya bakal diculik atau mereka akan membunuh saya. Saya juga tahu bagaimana mereka melanggar hak-hak saya dan rakyat Saudi."

Masih tersisa satu pembelot lagi dari keluarga Kerajaan Saudi, yakni Pangeran Khalid bin Farhan. Dia kabur ke Jerman pada 2013. Dia bilang kini tinggal dirinya tersisa dari pangeran Saudi pembelot tinggal di Eropa.

"Saya  sudah yakin sejak lama. Jika mereka bisa melakukan itu (menculik saya), mereka telah melakukan saat ini," kata Pangeran Khalid. "Saya sangat hati-hati tapi itulah harga dari kebebasan saya."

Jaringan pipa minyak melewati Negara bagian Rakhine, Myanmar. Saudi Aramco memakai pipa ini untuk memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina. (Gokunming.com)

Minyak Saudi darah Rohingya

Saudi Aramco memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina melalui jaringan pipa melewati Rakhine.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Mati perlahan di Yaman

Sebanyak 10,3 juta orang di antaranya amat sangat membutuhkan bantuan pangan. Sekitar 3,3 juta anak serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut.

Jamaah haji dari seluruh dunia melaksanakan salat di Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, Agustus 2017. (Arab News)

Politisasi haji

Saudi meminta warga Suriah ingin berhaji mengajukan visa melalui badan dibentuk oposisi.

Tragedi Mina menewaskan ribuan jamaah haji saat prosesi pelemparan jumrah, Kamis, 24 September 2015. (Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi)

Darah Mina tunggakan Saudi

Atas nama takdir, pemerintah Arab Saudi gengsi mengaku bersalah, apalagi meminta maaf.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Minyak Saudi darah Rohingya

Saudi Aramco memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina melalui jaringan pipa melewati Rakhine.

22 September 2017
Mati perlahan di Yaman
13 September 2017
Politisasi haji
30 Agustus 2017
Darah Mina tunggakan Saudi
28 Agustus 2017

TERSOHOR