wawancara

Raja Salman kalau bicara sering mengutip ayat Al-Quran

Muchlis Hanafi mengaku tidak sempat berfoto selfie dengan Raja Salman bin Abdul Aziz.

11 Maret 2017 13:21

Sebagai penerjemah tamu negara, termasuk saat Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz, Muchlis Hanafi mesti sigap dan tangkas. Sebab dia mesti menghadapi perubahan jadwal atau situasi di lapangan bisa berubah kapan saja.

Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama ini pun merasakan hal serupa usai Raja Salman berpidato di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kompleks parlemen, di hari kedua kunjungannya. "Banyak orang ingin berfoto selfie dengan beliau, saya ssampai tidak bisa mendekat saat mau keluar," kata Muchlis saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Berikut penuturan Muchlis Hanafi kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co.

Apa kesan Anda terhadap Raja Salman?

Beliau sosok sangat humanis, sangat bersahabat, dan kadang humoris. Selain beliau sangat religius. Tentu sebagai Khadim al-Haramain (Pelayan Dua Kota Suci), beliau sangat religius. Kalau bicara sering mengutip ayat-ayat Al-Quran.

Apa benar ketika penanaman pohon di Istana Bogor, Raja Salman meninggalkan acara karena azan asar berkumandang?

Oh tidak, itu kan semua agendanya selesai bertepatan dengan azan asar.

Seperti apa humanisnya Raja Salman?

Maksud saya beliau humanis adalah beliau ingin memberikan hyang terbaik, ingin memberikan manfaat kepada orang lain.   

Beliau juga bercerita masa mudanya, seperti kebanyakan orang, suka berburu, berenang.

Beliau berkukuh untuk menjemput langsung Presiden Joko Widodo di lobi hotel saat acara minum teh (digelar di Hotel Raffles, tempat Raja Salman menginap selama tiga hari di Jakarta), baru sama-sama naik ke atas.

Selesai acara Beliau turun ke bawah mengantar Pak Jokowi sampai ke kendaraan.

Apa kesan awal Raja Salman ketika mendarat di Halim?

Beliau sangat terharu melihat sambutan masyarakat. Mulai keluar bandar udara sudah banyak masyarakat menyambut. Beliau sangat terharu dengan itu. Begitu juga saat memasuki Kota Bogor. Masyarakat berdiri di sepanjang jalan dan bahkan ketika hujan mereka tidak bergerak dari tempatnya.

Kemudian di sepanjang jalan tol banyak orang turun untuk menyaksikan rombongan Raja Salman. Beliau sangat terkesan, terharu, melihat sambutan masyarakat begitu antusias.

Beliau sangat terkesan sekali dengan Bung Karno, pernah berkunjung ke Riyadh, lalu dalam pidatonya sering mengatakan saudara-saudara. Itu beliau ingat sekali.

Beliau terkesan sekali dengan Soekarno, sampai di hari pertama (kunjungannya) pada sore beliau memanggil Mbak Puan (Puan Maharani, putri dari mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri). Kemudian di hari kedua, juga ada pertemuan dengan keluarga Bung Karno.

Beliau juga menyampaikan, "Sambutan begitu meriah tidak heran karena masyarakat Indonesia dengan Saudi sudah lama bergaul, bersaudara. Saya tahu sejak dulu banyak orang Indonesia datang dan tinggal di Saudi, jadi warga negara dan bahkan ada yang menjadi pejabat tinggi negara."

Kenapa Raja Salman tidak membuka jendela limusin untuk melambaikan tangan kepada masyarakat menyambut dirinya di sepanjang jalan?

Itu kan tidak boleh prosedur tetapnya. Tapi saat di Bali, beliau sempat buka jendela dari dalam mobil saat masih di bandar udara. Lalu melihat anak-anak menari Pendet.

Apa saja percakapan selama dalam perjalanan dari Halim ke Istana Bogor?

Yah obrolan ringan seputar hubungan Indonesia dan Saudi ada sejak dulu. Lalu cerita soal hujan. Dia tadinya mengira sepanjang Jalan Tol Jagorawi itu hutan.

Dia juga cerita tentang cincin dia gunakan. Cincin itu ada nama Salman bin Abdul Aziz, bentuknya seperti stempel.

Apa keistimewaan cincin itu?

Dia bilang ini hanya melestarikan tradisi, kalau tanda tangan, cincin itu dicelupkan ke tinta untuk dicap ke dokumen akan ditandatangani.

Apa ada alasan rpibadi kenapa Raja Salman mau berkunjung ke Indonesia?

Dia cuma bilang, "Masyarakat Indonesia dan Saudi bersaudara, saya kemari untuk memperbarui hubungan sudah sangat erat. Itu yang beliau ucapkan.

Apa yang dimakan Raja Salman saat jamuan makan siang di Istana Bogor?

Saya tidak tahu karena saya tidak mendampingi.

Apa makanan Indonesia disukai Raja Salman?

Saya tidak tahu. Yang pasti, kalau sarapan dia makan kurma dan minum susu. Itu kebiasannya.

Berapa butir kurmanya?

Beliau bilang, "Tergantung, kalau saya lapar makan banyak (kurma)."

Kenapa Raja Salman memilih berlibur di Bali?

Tidak pernah saya dengar. Saya hanya menerima apa yang beliau sampaikan.

Apa yang disampaikan Raja Salman saat bertemu tokoh lintas agama?

Beliau menyatakan pentingnya dialog antar umat beragama.

Ide pertemuan dengan tokoh lintas agama dari Raja Salman atau Presiden Joko Widodo?

Saya tidak tahu.

Apa kesan Anda menjadi salah satu penerjemah buat Raja Salman selama melawat di Indonesia?

Biasa saja, ini tugas negara, dipercayakan kepada saya, saya jalankan dengan baik. Bagi saya menjadi penerjemah bagi presiden, kepala negara, atau tamu negara bukan pertama kali.

Sejak kapan Anda menjadi penerjemah bagi tamu negara?

Sejak 2006.

Apa Anda sempat berfoto selfie dengan Raja Salman?

Jangankan foto selfie, bersalaman saja tidak sempat.

Siapa saja keluarga Raja Salman diajak dalam lawatan di Indonesia?

Setahu saya cucunya.

Bagaimana dengan anak dan istrinya?

Saya tidak tahu.

Apa ada pesan khusus Raja Salman buat Anda?

Tidak ada.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Arab News)

Raja Salman segera lengser

Dia berencana turun takhta pada Januari 2018.

Palestinians have ashar prayer inside Al-Aqsa in the Old City of East Jerusalem, 28 July 2017. (Doc. Albalad.co)

We need muslims be there to protect Al-Aqsa

"Muslims are lost from Al-Aqsa. We need the muslims be there. We need to feel safe as we feel before."

Mufti Yerusalem Syekh Muhammad Husain. (Channel 2)

Raja Salman mengklaim berjasa redam krisis Al-Aqsa

Padahal Israel selama ini selalu mengandalkan Yordania saban kali konflik Al-Aqsa meletup. Sebab Yordania melalui lembaga Waqf berwenang mengelola kompleks Al-Aqsa.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israelis and Palestinians can learn about religious tolerance from Indonesia

"They did not take this decision after a serious examination of the consequences and the alternatives. It was done in fast, discussion over phone, unprofessional and in a very amateur way."





comments powered by Disqus