bisnis

Krisis energi di negeri Firaun

Mesir kini bergantung pada pasokan energi dari Israel.

12 Maret 2015 17:46

Setelah Israel menguasai Semenanjung Sinai pada 1967, negara Zionis ini menyedot minyak dari wilayah itu selama 1970-an. Berdasarkan Perjanjian Camp David pada 1979, Sinai bukan saja dikembalikan kepada Mesir, tapi negara ini juga mesti memasok minyak ke Israel di tahun-tahun berikutnya.

"Perjanjian itu menjamin Israel berhak meminta pasokan minyak dari Semenanjung Sinai," kata Profesor James Stocker dari Trinity Washington University kepada Al-Jazeera. Karena Israel begitu bergantung terhadap minyak dari Sinai pada 1970-an, "Mereka ingin memastikan kebutuhan energi mereka terpenuhi menggunakan ladang-ladang minyak di sana."

Bukan sekadar soal suplai energi, kesepakatan Camp David juga mempererat kerja sama Mesir dan Israel di bidang militer serta intelijen.

Pada 1994, setahun setelah Perjanjian Oslo, di mana Palestina secara resmi mengakui Israel, Mesir dan Israel berada di posisi kian mudah untuk melangkah ke tahap lanjutan dari proses normalisasi hubungan. Di tahun itu, Israel menanamkan modal US$ 1,2 miliar untuk membangun sebuah kilang minyak di Kota Aleksandria, disebut Kilang Minyak Timur Tengah (MIDOR). Kontrak bisnis ini mendekatkan hubungan para pejabat intelijen kedua negara.

Husain Salim, mantan pejabat intelijen Mesir, melakukan kesepakatan dengan Yossi Maiman, bekas agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Salim juga menugaskan anak didiknya, insinyur bernama Samih Fahmi buat mengawasi MIDOR.

Selanjutnya, Fahmi, dengan bantuan Salim, menjadi menteri perminyakan Mesir. "Kehadiran Samih Fahmi sebagai menteri menentukan era baru bagi sektor energi di Mesir, di mana sumber-sumber daya dikelola oleh intelijen Mesir," ujar Hatim Azzam, anggota parlemen Mesir pada 2012, kepada Al-Jazeera.

Berkat Fahmi sebagai menteri perminyakan, Salim mampu membangun perusahaan sendiri diberi nama the East Mediterranean Gas (EMG) bersama rekannya dari Israel, Maiman. EMG mendapat proyek membangun jaringan pipa menghubungkan kota pantai Al-Arisy di Mesir dengan Ashkelon di selatan Israel dengan satu tujuan: memasok gas alam Mesir ke Israel.

Lantaran koneksinya dengan Presiden Mesir Husni Mubarak dan Fahmi, Salim bisa memperoleh kontrak buat EMG mendapatkan gas Mesir dengan harga di bawah pasar lantas dijual murah ke Israel, berkat bantuan rekan bisnisnya, Maiman.

Mika Minio Paluelo, ahli energi, menjelaskan pemilik EMG Husain Salim dan Yossi Maiman membeli gas dari mesir seharga US$ 3 lalu dijual kepada Israel senilai US$ 4,5. "Kesepakatan ini merugikan rakyat Mesir lebih dari US$ 11 miliar," katanya.

Dugaan korupsi ditambah dengan kontroversi politik seputar kesepakatan penjualan gas ke Israel, berkontribusi terhadap pemberontakan menyapu seantero Mesir pada 25 Januari 2011.

Sebuah koalisi luas dari demonstran akhirnya disokong militer memaksa Presiden Husni Mubarak lengser pada 11 Februari. Sayangnya, hal itu terjadi setelah Husain Salim, orang paling bertanggung jawab dalam kontrak penjualan gas ke Israel, kabur dari Mesir.

Kemarahan rakyat Mesir atas ekspor gas ke Israel tetap ada walau Mubarak sudah tumbang. Sedikitnya 15 serangan bom terhadap jaringan pipa di Sinai telah menghentikan aliran gas ke Israel pada 2011. Dewan Militer Tertinggi, berkuasa di era transisi selepas rezim Mubarak, dipaksa menyetujui seruan buat menghentikan ekspor gas ke negara Zionis itu.

Setelah Muhammad Mursi resmi menjadi presiden pada Juni 2012, menyusul kemenangannya dalam pemilihan presiden bebas dan adil pertama sepanjang sejarah Mesir, dia kelihatannya berusaha membasmi korupsi di sektor energi. Samih Fahmi dan Husain Salim, telah mengasingkan diri ke Spanyol, dihukum 15 tahun penjara atas peran mereka menjual gas alam ke Israel di bawah harga pasar.

Singkatnya masa kepemimpinan Mursi membikin dia tidak bisa berbuat banyak memerangi korupsi di bidang energi. "Presiden Mursi menghadapi banyak tekanan dengan semua jaringan korupsi di intelijen dan militer," kata Azzam. "Jaringan korupsi energi ini merupakan salah satu alasan kuat kenapa para pemimpin dan jenderal-jenderal angkatan darat memutuskan menumbangkan Mursi."

Menjelang kudeta militer 3 Juli 2013, kelangkaan energi menjadi sebuah isu memicu kebencian rakyat Mesir terhadap pemerintahan Mursi. "Keputusasaan Mesir. Ada antrean di luar pompa-pompa bensin. Hampir tiap malam ada pemadaman listrik. Anda tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi," ujar Mika Minio-Paluello.

Namun kelangkaan energi semasa Mursi kelihatannya sengaja dibuat. "Militer Mesir menggunakan suplai bensin sebagai senjata untuk menjatuhkan Mursi," tutur Azzam. "Sehari setelah kudeta, antrean hilang dan semuanya kembali normal."

Meski begitu, sektor energi Mesir tahun lalu masih terus berjuang. Presiden baru Jenderal Abdil Fattah as-Sisi, memimpin kudeta atas Mursi pada Juli 2013, menghadapi krisis energi amat parah di seantero negeri.

Untuk membikin persoalan kian rumit, setelah militer Mesir menghentikan pasokan gas ke Israel, Yossi Maiman melalui EMG mengajukan gugatan terhadap pemerintah Mesir. EMG menuding pemerintah melanggar kontrak telah diteken semasa rezim Mubarak. Perjanjian bisnis ini menyebut EMG selama 15 tahun akan memasok gas ke Israel tanpa ada gangguan.

Gugatan ini sengaja diajukan ke mahkamah internasional, bukan ke pengadilan Mesir. EMG menuntut uang pengganti US$ 8 miliar akibat kerugian disebabkan pemerintah Mesir.

Perusahaan asal Spanyol Union Fenosa juga menggugat US$ 6 miliar karena Mesir gagal memasok gas ke negara itu sesuai kesepakatan. Sejumlah perusahaan internasional menuntut pula pembayaran utang Mesir senilai US$ 20 miliar.

Sedangkan Yossi Maiman memiliki harga sendiri untuk berdamai. "Saya akan minta US$ 50 miliar."

Buat mengatasi kelangkaan energi, Sisi telah menghapus larangan bagi perusahaan minyak dan gas swasta beroperasi di Mesir mengimpor dari negara lain. Impor ini mesti melalui pihak ketiga, yakni perusahaan berkantor pusat di Amerika Serikat Noble Energy. "Ini kelihatan seperti sebuah kompromi akan membiarkan Husain Salim dan Yossi Maiman tetap mendapatkan banyak fulus," kata Mika Minio-Paluello.

Sisi juga berupaya mendapatkan kontrak pembelian gas dari Israel, tentunya dengan harga sedikit lebih tinggi ketimbang pernah Mesir ekspor ke negara itu. Untuk ini, Mesir mesti berkorban: mengizinkan Israel mengakses fasilitas pembekuan gas di Mesir serta memberi izin bagi kapal-kapal tanker Israel melewati Terusan Suez buat menjual gas mereka ke Asia.

Mantan Menteri Perminyakan Samih Fahmi telah dibebaskan dari penjara setelah pengadilan memutuskan harus ada sidang ulang, sedangkan dakwaan terhadap Husain Salim kelihatannya bakal dibatalkan.

Salim tampaknya bakal kembali ke Mesir dan industri gelap energi bersifat korup di negara itu bakal kembali menggeliat.

Mereka yang terlibat dalam kontrak tipu-tipu penjualan gas Mesir ke Israel

Husain Salim

Mantan pejabat beralih menjadi pengusaha papan atas, Husain Salim, adalah arsitek utama mendalangi kontrak penjualan gas Mesir ke Israel. Dia akhirnya kabur ke Spanyol, dia juga warga negara sana, saat revolusi meletup di Mesir. Dia khawatir disasar lantaran kesepakatan rahasia soal penjualan gas ke negara Zionis itu.

Selama bekerja di badan intelijen Mesir pada 1960-an dan 1970-an, Salim juga mengejar pelbagai proyek. Pada 1970-an dia menjadi teman dekat Husni Mubarak, akhirnya menjadi wakil presiden. Kedekatan ini membikin dia mudah memperoleh lisensi, termasuk proyek perumahan elite serta kontrak minyak dan gas di Semenanjung Sinai.

Pada 1990-an Salim bersama rekannya dari Israel Yossi Maiman membangun perusahaan bernama MIDOR (the Middle East Oil Refinery). Salim lalu menunjuk Samih Fahmi sebagai bos MIDOR. Dia menggunakan kedekatannya dengan Mubarak hingga akhirnya Fahmi ditunjuk sebagai menteri perminyakan.

Pada 2000-an, lewat perusahaan barunya juga bareng Maiman, EMG (the East Mediterranean Gas), Salim memperoleh kontrak penjualan gas ke Israel. Sebelum jaringan pipa EMG menghubungkan Kota Al-Arisy di Mesir dan Kota Ashkelon di Israel diresmikan, Salim menjual semua sahamnya di EMG dan dia untung miliaran dolar.

Pengadilan Mesir pada 2012 memvonis Salim dan Samih Fahmi bersalah dalam penjualan gas ke Israel di bawah harga pasar. Tapi kelihatannya dakwaan terhadap Salim bakal dibatalkan oleh Kejaksaan Agung Mesir, memuluskan jalan Salim kembali ke Mesir.

Yossi Maiman

Seperti Husain Salim, Yossi Maiman adalah mantan agen Mossad beralih menjadi pengusaha. Dilahirkan di Jerman dan besar di Peru, dia meraih kekayaan lewat proyek-proyek berskala besar, seperti jasa layanan keuangan di berbagai negara, termasuk Amerika Selatan.

Pada 1994 Maiman bareng Salim membangun MIDOR di Kota Aleksandria, Mesir. Dia menaruh modal US$ 250 juta dari total investasi US$ 1,2 miliar. Sisanya berasal dari Salim dan investor pribadi lainnya. Melalui perusahaan EMG dibangun juga bareng Salim, mereka memperoleh kontrak penjualan gas Mesir ke luar negeri. Maiman dan Salim dilaporkan meraup laba miliaran dolar dari proyek ini.

Setelah revolusi meletup di Mesir pada 2011, pasokan gas ke Israel terhenti. Inilah membuat Maiman menuntut ganti US$ 8 miliar kepada pemerintah Mesir. Kasus ini masih diproses di mahkamah internasional.

Samih Fahmi   

Samih Fahmi, dianggap sebagai anak didik Husain Salim, ialah seorang insinyur ditunjuk Salim memimpin MIDOR di Aleksandria pada 1997.

Setelah keluar dari MIDOR, Salim membantu Fahmi menjadi memnteri perminyakan Mesir menjabat sejak 1999-2011. Di masa jabatannya itulah, Fahmi memberi kontrak penjualan gas ke Israel kepada EMG, perusahaan patungan dibikin oleh Salim dan Yossi Maiman.

Pada 2012 pengadilan Mesir memvonis Fahmi dan Salim 15 tahun penjara atas dakwaan korupsi dan terlibat penjualan gas ke Israel di bawah harga pasar. Dia dibebaskan dari penjara awal tahun lalu lantaran pengadilan memerintahkan sidang diulang.

Shabtai Shavit

Shabtai Shavit merupakan mantan direktur Mossad. Dia adalah sahabat Yossi Maiman. Dia ditunjuk oleh Maiman sebagai pejabat senior di EMG, perusahaan bikinan Maiman dan rekannya, Husain Salim.

Husni Mubarak

Mantan Presiden Mesir Husni Mubarak bertanggung jawab atas banyak perjanjian penjualan gas Mesir ke Israel pada 1990-an dan 2000-an. Dia berteman dekat dengan Husain Salim dan menghadiahi dia pelbagai kemudahan untuk mendapat proyek di Semenanjung Sinai.

Ketika EMG, perusahaan bikinan Salim dan rekannya dari Israel Yossi Maiman, mendapat kontrak penjualan gas selama 15 tahun ke Israel, semua itu berkat restu Mubarak dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.

Setelah dilengserkan lewat protes besar-besaran rakyat Mesir di seantero negara itu, Mubarak diadili dengan pelbagai macam dakwaan, termasuk menerima suap dari Salim untuk proyek pembangunan vila di Sinai.

Yosef Paritzky

Yosef Paritzky, menjabat menteri energi Israel pada 2003-2004, melakukan sejumlah kesepakatan dengan Menteri Perminyakan Mesir Samih Fahmi soal kemungkinan pembelian gas Mesir.

Meski begitu, Paritzky tidak suka dengan kesepakatan penjualan gas Mesir ke Israel melalui EMG, perusahaan patungan milik Husain Salim dan Yossi Maiman. "Kesepakatan itu begitu rahasia dan amat ditutupi," katanya kepada Al-Jazeera. "Kontrak ini amat tidak transparan sehingga menarik perhatian."

Dengan memakai harga di bawah pasar, Paritzky mengakui kesepakatan penjualan gas ini sangat menguntungkan Israel. "Harganya menggelikan," ujarnya.

Kereta cepat Haramain melayani rute Makkah-Madinah beroperasi mulai 11 Oktober 2018. (Saudi Gazette)

Kereta cepat Makkah-Madinah beroperasi mulai Kamis pekan ini

Dengan kereta Haramain, perjalanan Makkah-Madinah hanya butuh waktu dua jam saja.

Kios buku di Albalad, kawasan kota tua di Ibu Kota Amman, Yordania, April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Arab Saudi, Kuwait, dan UEA simpan US$ 1 miliar di Bank Sentral Yordania

Saudi, Kuwait, dan UEA juga berkomitmen memberikan fulus US$ 500 juta saban tahun selama lima tahun untuk membantu anggaran Yordania.

Ladang minyak di Kuwait. (kpc.com.kw)

Kuwait hentikan ekspor minyak ke Amerika

Kuwait telah menggeser ekspor minyaknya ke negara-negara Asia, saat ini mencapai 80 persen dari total volume ekspor minyak Kuwait.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Arab Saudi proyeksikan defisit US$ 34 miliar tahun depan

Arab Saudi baru lepas dari defisit pada 2023.





comments powered by Disqus