bisnis

Saham Etisalat terbuka bagi pemodal asing

Maksimal saham boleh dibeli 20 persen dan mereka tidak memiliki hak suara.

07 September 2015 06:39

Etisalat, perusahaan telekomunikasi asal Uni Emirat Arab (UEA), bakal mengizinkan pemodal asing dan institusi membeli saham perusahaan itu. Kebijakan telah disetujui dewan direksi Etisalat ini mulai berlaku 15 September atau Selasa pekan depan.

Etisalat merupakan perusahaan terbuka terbesar kedua di UEA. Namun saham mereka selama ini hanya bisa dimiliki oleh warga negara itu dan semua institusi tidak dibolehkan.

Manajemen Etisalat Juni lalu menyatakan bakal melonggarkan aturan untuk membolehkan investor luar negeri dan insitusi membeli saham perusahaan itu maksimal 20 persen. Tapi bulan lalu Etisalat bilang para pemegang saham asing dan lembaga ini tidak mempunyai hak suara.

Perusahaan telekomunikasi didirikan pada 1976 itu beroperasi di 15 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Etisalat  - berkantor pusat di Ibu Kota Abu Dhabi - merupakan operator telepon seluler terbesar ke-17 di dunia dengan lebih dari 150 juta pelanggan.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di Ibu Kota Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar berencana naikkan investasi di Amerika jadi US$ 45 miliar

Investasi QIA di Amerika saat ini berjumlah US$ 30 miliar.

Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Khalid al-Falih saat wawancara khusus dengan stasiun televisi Al-Arabiya, di sela lawatannya ke Cina, 31 Agustus 2016. (Al-Arabiya)

Arab Saudi kurangi produksi minyak 800 ribu barel bulan ini

Bulan depan, produksi dikurangi lagi seratus ribu barel menjadi 7,1 juta barel per hari.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

Jumlah cadangan minyak Arab Saudi 268,5 miliar barel

Saudi memiliki cadangan gas sebesar 325,1 triliun kaki kubik

Pesawat Kenya Airways. (eturbonews.com)

Pesawat Kenya tujuan Israel dilarang lintasi wilayah udara Sudan

Basyir menolak membina hubungan diplomatik dengan Israel.





comments powered by Disqus