bisnis

IMF perkirakan Arab Saudi tahun ini defisit 21,6 persen

Karena perang tidak kunjung berakhir, Libya pada 2011 surplus 11,6 persen, menurut IMF, tahun ini bakal defisit 79,1 persen.

08 Oktober 2015 15:37

Dalam laporan terbarunya IMF (Dana Moneter Internasional) memperkirakan Arab Saudi tahun ini mengalami defisit anggaran 21,6 persen dari produk domestik bruto. Itu gara-gara tetap melemahnya harga minyak mentah dunia, saat ini di bawah US$ 53 per barel.

Laporan IMF ini memperlihatkan bagaimana cepatnya harga minyak meroket sejak 2003 hingga memperkuat pendanaan publik Arab Saudi. Sampai tiga tahun lalu, negara pengkspor minyak terbesar sejagat ini menjalankan anggaran dengan surplus 12 persen dari produk domestik bruto.

Waktu itu harga minyak mentah dunia mencapai puncaknya, yakni US$ 130 tiap barel. Dua tahun kemudian posisinya terbalik, negara Kabah itu mengalami defisit anggaran 3,4 persen.

IMF menjelaskan defisit Arab Saudi itu bakal berkurang perlahan menjadi 14 persen dalam lima tahun mendatang.

Organisasi internasional ini bilang negara-negara kaya sumber alam sudah meraup laba dari ledakan harga selama 2000-an, di mana minyak dan logam mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah. "Itu sebenarnya menjadi keuntungan dan kesempatan besar bagi negara-negara itu untuk mempromosikan transformasi ekonomi dan pembangunan."

Sebelumnya IMF memperkirakan Arab Saudi tahun ini defisit US$ 170 miliar (Rp 2.356,2 triliun). Untuk menutupi kekurangan itu, Riyadh baru-baru ini menarik US$ 70 miliar (Rp 969,5 triliun) dananya di luar negeri.

Negara Arab pengekspor minyak lainnya - Libya, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman - juga menderita akibat melorotnya harga minyak dunia. Kuwait pernah menikmati surplus anggaran 34,7 persen di 2012, cuma akan menerima kelebihan 0,1 persen pada anggaran tahun depan. Tapi paling parah adalah Libya. Karena perang tidak kunjung berakhir, Libya pada 2011 surplus 11,6 persen, menurut IMF, tahun ini bakal defisit 79,1 persen.

Posisi anggaran Arab Saudi dibanding produk domestik bruto selama 2010-2020 sesuai data IMF

2010: surplus 3,6 persen 2011: surplus 11,2 persen 2012: surplus 12 persen 2013: surplus 5,8 persen 2014: defisit 3,4 persen 2015: defisit 21,6 persen 2016: defisit 19,4 persen 2017: defisit 17,6 persen 2018: defisit 16,2 persen 2019: defisit 14,8 persen 2020: defisit 14 persen

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Jet pribadi Challenger 604 terbang dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, mendarat di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 22 Oktober 2019. (Flightradar24)

Mulai besok, tarif VAT di Arab Saudi naik jadi 15 persen

Arab Saudi bareng UEA pertama kali memberlakukan VAT senilai lima persen sejak 1 Januari 2018.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Utang pemerintah Saudi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3.430 triliun

Jadwa Investment Company memprediksi Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar Rp 1.805 triliun atau 15,7 persen dari produk domestik brutonya.





comments powered by Disqus