bisnis

Raja Salman perintahkan penghematan besar-besaran

Semua pejabat dilarang membeli mobil, furnitur, atau perabot baru.

09 Oktober 2015 09:35

Defisit anggaran akibat melemahnya harga minyak mentah dunia, telah membuat Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz mengeluarkan perintah: para pejabatnya mesti melakoni penghematan besar-besaran.

Menurut sejumlah memo rahasia dikeluarkan Raja Salman kepada Menteri Keuangan Ibrahim bin Abdul Aziz al-Assaf, penguasa negara Kabah itu menjelaskan secara terinci penghematan perlu dilakoni semua kementerian.

Sebuah memo berkategori Amat Rahasia dan Benar-benar Mendesak, bertanggal 28 September 2015, Raja Salman menginstruksikan menghentikan semua proyek baru, menyetop pembelian mobil, furnitur, atau perlengkapan baru, membekukan semua penunjukan dan promosi, menghapus pembayaran kompensasi bagi properti, dan meniadakan perjanjian penyewaan baru.

Belanja dari anggaran dan proyek berjalan di kuartal keempat tidak boleh melebihi 25 persen dari total anggaran disetujui. Pengeluaran atas perjalanan dan belanja terkait bisnis lainnya dilarang melebihi 15 persen dari dana telah direncanakan.

Raja Salman juga mengharuskan pengiriman pendapatan dari minyak ke kas kementerian keuangan mesti lebih dipercepat. Dia menegaskan seluruh instruksinya itu harus segera dilaksanakan.

Dalam laporan terbarunya, IMF (Dana Moneter Internasional) memperkirakan negara Kabah itu tahun ini mengalami defisit 21,6 persen dari produk domestik bruto. Dalam perkiraan sebelumnya, IMF menyebut defisit Saudi di angka US$ 170 miliar atau kini setara Rp 2.277,5 triliun.

IMF menjelaskan defisit anggaran Saudi ini bakal berlaku hingga 2020. Untuk menutupi kekurangan anggaran itu, Riyadh baru-baru ini menarik US$ 70 miliar dananya di luar negeri.

Melorotnya harga minyak mentah dunia hingga di bawah US$ 50 tiap barel bertepatan dengan mahalnya ongkos mesti dikeluarkan Saudi dalam Perang Yaman. "Defisit dipompa oleh keputusan Salman memberikan bonus dua bulan gaji bagi pegawai negeri setelah dia naik takhta," kata David Butter, ahli Arab Saudi di lembaga pengkajian the Chatham House.

Dia menambahkan ada banyak persoalan sudah lama membelit Saudi. Negara ini tidak memiliki sumber pemasukan utama selain minyak. Pendapatan dari pajak amat kecil dan tidak ada pajak pertambahan nilai. Ada banyak subsidi di semua sektor kehidupan dan belanja gaji pegawai sangat membebani.

Profesor Steffen Hertog dari the London School of Economic and Politics menyebut perintah Raja Salman itu sebagai peringatan. "Mereka belum kehabisan fulus saat ini," ujarnya. "Mereka hanya belanja amat boros lebih dari pendapatan mereka miliki."

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi alami defisit Rp 160 triliun di kuartal ketiga 2020

Secara keseluruhan, pendapatan Saudi dari bidang di luar minyak meroket hingga 63 persen ketimbang tahun lalu.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi proyeksikan defisit tahun ini sebesar 12 persen

Negara Kabah itu memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini akan minus 3,8 persen, lebih optimistis ketimbang taksiran IMF, yakni minus 6,8 persen.

Wakil Presiden Jusuf Kalla melepas keberangkatan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Brunei Darussalam di Bandar Udara Halim Perdana kusuma, Jakarta, 4 Maret 2017. (TMW)

Gaji Raja Salman Rp 11,8 triliun sebulan

Utang pemerintah Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman bin Abdul Aziz berkuasa pada Januari 2015, menurut data dilansir Bank Dunia.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.





comments powered by Disqus