bisnis

Emir Qatar bilang negara tidak bisa lagi kasih segalanya murah

"Kekayaan tak terkira selama bertahun-tahun di negara ini telah menciptakan situasi bergantung kepada negara untuk menyediakan semuanya," kata Syekh Tamim.

04 November 2015 14:58

Melorotnya harga minyak mentah global dalam dua tahun terakhir - di kisaran US$ 50 per barel - telah menggoyahkan keyakinan pemimpin Qatar terhadap kekuatan fulus mereka.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani kemarin mengakui negara tidak lagi mampu menyediakan segalanya gratis atau murah. Dia meminta kepada seluruh rakyatnya berinisiatif untuk menjadikan Qatar menjadi bangsa besar dan kuat tanpa terlalu bergantung kepada negara.

Syekh Tamim, naik takhta dua tahun lalu, mengakui subsidi dalam jumlah sangat besar dan beragam kemudahan telah membikin rakyat Qatar kurang bersemangat untuk maju. "Kekayaan tak terkira selama bertahun-tahun di negara ini telah menciptakan situasi bergantung kepada negara untuk menyediakan semuanya," kata Syekh Tamim kepada 45 anggota Dewan Syura Qatar, seperti dilansir Qatar News Agency.

Syekh Tamim tidak menyebut apakah negara mngalami defisit tahun ini atau tahun depan. Tapi pidatonya itu mengisyaratkan kenaikan anggaran tidak akan sampai dua digit seperti dekade sebelumnya.

"Anggaran ini akan memusatkan perhatian pada efisiensi terhadap belanja pemerintah," ujarnya. "Juga bertujuan memajukan pertumbuhan dan perluasan sektor non-minyak untuk menganekaragamkan sumber-sumber pendapatan negara."

Sebagai negara pengekspor gas alam cair terbesar sejagat, nilai penjualan gas Qatar menukik 40 persen ketimbang tahun lalu menjadi US$ 3,6 miliar pada September tahun ini.

Akibat melemahnya harga emas hitam, Qatar mengakui tahun depan bakal mengalami defisit 4,9 persen dari produk domestik bruto dan 3,7 persen di 2017.

Syekh Tamim mendesak untuk mengakhiri pemborosan dan birokrasi berlebihan. "Kita tidak akan membiarkan korupsi keuangan dan administratif atau penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi, atau menghilangkan standar profesional demi kepentingan sendiri."

Dia meminta semua perusahaan harus menghentikan mencari perlindungan kepada negara dan lebih kreatif untuk maju sendiri. Dia mengumumkan evaluasi terhadap semua perusahaan negara tengah dilakukan dan subsidi bagi sejumlah perusahaan akan dihapus.

Fathir (kanan) dan Raja berpose di depan lambang Qatar dalam acara National Day of Qatar di Hotel Raffles, Jakarta, 18 Desember 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar diprediksi defisit lebih dari US$ 7 miliar pada 2018

Setelah 15 tahun mengalami surplus, Qatar untuk pertama kali mendapat defisit tahun lalu senilai US$ 12 miliar.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Qatar berencana terbitkan obligasi internasional senilai US$ 9 miliar

Abu Dhabi pekan lalu menjual obligasi senilai US$ 10 miliar, tidak lama setelah Arab Saudi meraup US$ 12,5 miliar dari penerbitan obligasi internasional ketiganya.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Defisit Qatar tahun ini diprediksi US$ 7,8 miliar

Pemerintah akan menyetujui kontrak baru senilai US$ 13 miliar tahun ini, berfokus pada proyek-proyek insfrastruktur, transportasi, dan yang berkaitan dengan persiapan Piala Dunia 2020.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Travel Magma)

Qatar proyeksikan tahun depan defisit US$ 7,8 miliar

Negara penghasil gas terbesar sejagat itu tahun ini memproyeksikan defisit US$ 12,8 miliar, yang pertama dalam 15 tahun terakhir.





comments powered by Disqus