bisnis

Bahrain hapus subsidi listrik dan bahan bakar tahun depan

Pendapatan negara itu merosot 60-70 persen karena harga minyak melorot.

17 November 2015 22:11

Untuk mengurangi defisit anggaran akibat melorotnya harga minyak mentah global, Bahrain berencana menghapus subsidi listrik dan bahan bakar untuk kendaraan bermotor tahun depan.

Sebagai negara pengekspor minyak, seperti negara-negara Arab Teluk lainnya, Bahrain bertahun-tahun memberikan subsidi dalam jumlah besar terhadap beragam barang dan layanan jasa, seperti makanan, bahan bakar, listrik, dan air. Kebijakan ini diambil untuk menjaga harga benar-benar murah sehingga rakyat tenteram.

Namun sejak harga emas hitam itu menukik setahun terakhir, kini di kisaran US$ 50 per barel, defisit anggaran pemerintah Bahrain membengkak. Alhasil, pemberlakuan subsidi menjadi kian sulit ditanggung. "Kami sudah mulai mencabut subsidi dan kami akan menghapus subsidi listrik dan bahan bakar tahun depan," kata Menteri Perindustrian dan Perdagangan Bahrain Zayid bin Rasyid az-Zayani kepada kantor berita Reuters hari ini, di sela konferensi soal investor berlangsung di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Dia bilang rencana pencabutan subsidi listrik dan bahan bakar itu sedang dikaji. Dia menambahkan tidak ada satu pun negara penghasil minyak kebal atas rendahnya harga komoditas itu.

Menurunnya harga minyak merupakan pendapatan utama enam negara Arab di Teluk Persia - Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait - memaksa mereka mengetatkan pengeluaran atau mencabut subsidi. Tapi Bahrain paling besar tekanannya lantaran cadangan devisa mereka lebih kecil. Menurut Zayani, pendapatan negaranya merosot 60-70 persen sebab harga minyak rendah.

Bulan lalu Bahrain mencabut subsidi daging dan ayam sehingga harga kedua barang ini naik lebih dari dua kali lipat. April tahun ini pemerintah menaikkan harga jual gas alam untuk industri.

Bahrain juga akan memberlakukan biaya untuk semua layanan disediakan lembaga pemerintah, selama ini amat murah atau gratis. Manama berencana mencari alternatif sumber pendapatan negara di luar minyak.

Ibu Kota Kuwait City, Kuwait. (emirates.com)

Kuwait proyeksikan defisit US$ 25 miliar untuk anggaran belanja mendatang

Rencana anggaran ini disusun berdasarkan asumsi harga minyak dunia US$ 55 per barel.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di Ibu Kota Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar berencana naikkan investasi di Amerika jadi US$ 45 miliar

Investasi QIA di Amerika saat ini berjumlah US$ 30 miliar.

Sinagoge di Ibu Kota Manama, Bahrain, satu-satunya rumah ibadah Yahudi di negara Arab Teluk tersebut. (Al-Arabiya)

Tiga negara Arab Teluk talangi defisit Bahrain

Bahrain tahun lalu mengalami defisit US$ 5 miliar dan tahun ini diperkirakan US$ 3,5 miliar.

Ibu Kota Manama, Bahrain. (commons.wikimedia.org)

Bahrain dan Oman paling rentan di era rendahnya harga minyak global

IMF pernah memperingatkan Bahrain untuk secara signifikan mengurangi pengeluaran buat mengembalikan stabilitas anggaran dan meningkatkan kepercayaan investor.





comments powered by Disqus