bisnis

Israel setuju ekspor gas alam cair ke Mesir

Volumenya 5 miliar meter kubik dalam tujuh tahun mendatang.

25 Desember 2015 05:48

Pemerintah israel telah memberi lampu hijau untuk mulai mengekspor gas alam cair ke Mesir, sebuah tanda bakal membaiknya hubungan kedua negara memanas lantaran pasokan energi.

Lewat pernyataan tertulis kemarin, Menteri Energi Israel Yuval Steinitz bilang Israel bakal mampu menjual 5 miliar meter kubik gas ke negara Nil itu dalam tujuh tahun mendatang, merupakan produksi dari ladang Tamar di lepas pantai Laut Tengah. "Setelah beberapa tahun tertunda dan mengalami perdebatan, kami mulai bergerak maju dan memposisikan Israel sebagai kekuatan gas alam cair regional," katanya.

Israel, telah lama menjadi pengimpor gas, berhasil menemukan sejumlah cadangan gas dalam jumlah besar, seperti ladang Tamar dan Leviathan. Mesir tadinya memasok gas ke Israel sesuai kesepakatan bermasa 20 tahun, namun mandek pada 2012 setelah berbulan-bulan jaringan pipa gas menghubungkan Mesir-Israel di Semenanjung Sinai diserang kelompok militan.

Pengadilan arbitrase internasional bulan ini memutuskan Mesir mesti membayar hampir US$ 2 miliar sebagai pengganti kerugian atas macetnya pasokan gas itu. Putusan inilah memicu ketegangan antara kedua negara.

Kairo mengatakan akan mengajukan banding dan membekukan pembahasan soal rencana mengimpor gas dari Israel. Tidak jelas apakah keputusan Israel buat menjual gas itu menandakan kedua negara telah menyelesaikan sengketa di antara mereka.

Awal tahun ini kontraktor ladang gas Tamar telah meneken perjanjian berjangka waktu tujuh tahun dengan Dolphinus Holdings - perusahaan mewakili konsumen non-pemerintah, industri, dan komersial - untuk membeli sedikitnya gas alam cair senilai paling tidak US$ 1,2 miliar. Menurut perjanjian itu, dalam tiga tahun pertama Israel harus mengekspor paling tidak 5 miliar meter kubik gas.

Tamar, diperkirakan memiliki cadangan 280 miliar meter kubik gas, dimiliki oleh Noble Energy, perusahaan berkantor pusat di Texas, Amerika Serikat, barengDerek Drilling dan Avner Oil Exploration, dua anak perusahaan dari Delek Group.

Mereka menjelaskan kesepakatan untuk menjual gas ke Mesir itu masih terganjal sejumlah aturan dan menunggu persetujuan lainnya.

Ketiga perusahaan ini juga mengelola ladang gas Leviathan, dengan jumlah cadangan gas lebih besar ketimbang Tamar.

Pesawat milik maskapai Emirates Airline di Bandar Udara Internasional Ratu Alia di Ibu Kota Amman, Yordania, 25 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Perlu empat tahun bagi Emirates buat melayani kembali semua rutenya

Emirates, terbang ke 157 kota di 83 negara sebelum ada pandemi Covid-19, memarkir semua pesawat penumpangnya Maret lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Todays Zaman)

Turki memulai lagi penerbangan kargo dengan Israel

Di hari sama pesawat kargo Israel mendarat di Istanbul, Erdogan mengecam rencana aneksasi wilayah Tepi Barat.

Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (Twitter/DXBMediaOffice)

70 persen perusahaan di Dubai terancam tutup gegara dampak Covid-19

Pertumbuhan ekonomi Dubai tahun lalu hanya 1,94 persen, paling rendah sejak krisis keuangan global pada 2008-2009.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.





comments powered by Disqus