bisnis

Arab Saudi bakal berlakukan VAT dalam dua tahun

Besarannya lima persen.

31 Desember 2015 12:04

Menteri Keuangan Arab Saudi Ibrahim al-Assaf mengatakan negaranya akan memberlakukan VAT (pajak pertambahan nilai) dalam dua tahun ke depan.

"VAT bakal diterapkan bertahap dan komplet dalam dua tahun, merupakan batas waktu untuk diberlakukan di negara-negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) pada 2018," kata Assaf, seperti dilansir surat kabar Al-Hayat kemarin. "Besarannya sekitar lima persen, ini terendah di dunia."

Saat pengumuman anggaran 2016 Senin pekan ini, Kementerian Keuangan Arab Saudi bilang rencana pemberlakukan VAT akan dikoordinasikan dengan negara-negara Arab Teluk lainnya.

Wakil Menteri Keuangan Uni Emirat Arab (UEA) Yunis Haji al-Khouri awal bulan ini menjelaskan penerapan pajak di kawasan itu ditargetkan mulai terlaksana tiga tahun mendatang. IMF (Dana Moneter Internasional) telah menyarankan UEA memberlakukan VAT lima persen.

VAT merupakan salah satu cara bisa dilakoni enam negara Arab Teluk - Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman - buat mengatasi defisit anggaran akibat merosotnya harga minyak mentah global.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Utang pemerintah Saudi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3.430 triliun

Jadwa Investment Company memprediksi Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar Rp 1.805 triliun atau 15,7 persen dari produk domestik brutonya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Penurunan cadangan devisa Saudi tercepat dalam 19 tahun

Saudi memproyeksikan defisit US$ 50 miliar tahun ini atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

Arab Saudi proyeksikan defisit Rp 699 triliun pada 2020

"Privatisasi adalah prioritas utama pemerintah," ujar Muhammad al-Jadaan.





comments powered by Disqus