bisnis

Bahrain hapus subsidi listrik dan air mulai Maret mendatang

Bahrain adalah negara terendah kedua memberlakukan tarif listrik di sektor industri dan perdagangan di antara enam anggota GCC.

06 Januari 2016 09:42

Bahrain bakal menghapus subsidi listrik dan air mulai Maret mendatang, sehingga tarif air dan listrik bakal berlipat dua bagi kaum ekspatriat dan industri besar.

Kenaikan tarif listrik dan air ini juga berlaku bagi warga negara Bahrain memiliki lebih dari satu rumah tangga. Namun tarif baru itu tidak akan dikenakan terhadap warga Bahrain dengan satu rumah tangga atau usaha kecil dan menengah.

Penghapusan subsidi listrik dan air itu merupakan bagian dari perombakan sistem subsidi dilakukan Bahrain. Tarif listrik dan air ini bakal naik bertahap dalam empat tahun.

Gulf Daily News melaporkan penghapusan subsidi atas dua layanan publik itu bakal menghemat anggaran negara US$ 1,1 miliar jika dilaksanakan secara penuh, US$ 769 juta pada listrik dan US$ 386 juta di air.

Menteri Energi Bahrain Dr Abdul Husain Mirza menjelaskan pemerintah tahun lalu dan pada 2016 mengalokasikan 350 juta dinar Bahrain atau kini setara Rp 13 triliun untuk subsidi listrik dan air. "Kami meyakini subsidi itu mengarah pada kaum tajir Bahrain, ekspatriat, pelancong asing, perusahaan industri dan perdagangan, kementerian dan lembaga-lembaga pemerintah," katanya dalam jumpa pers.

Dia mengakui rakyat Bahrain telah menggunakan listrik dan air berlebihan. "Jadi kenaikan tarif akan menyelamatkan program perlindungan dan tarif baru ini sejalan dengan tarif di negara-negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) lainnya."

Bahrain adalah negara memberlakukan tarif listrik dan air termurah ketiga bagi sektor rumah tangga di antara enam anggota GCC, terendah kedua buat tarif listrik di sektor industri dan perdagangan, dan terendah keempat untuk tarif air bagi non-rumah tangga.

Meski tarif listrik dan air bakal naik, posisi Bahrain di kalangan anggota GCC tetap sama. "Kami tetap memberikan layanan lebih murah," ujar Mirza.

Menteri Keuangan Bahrain Syekh Ahmad bin Muhammad al-Khalifah. (Arabian Business)

Bahrain akan berlakukan VAT akhir tahun ini

Bahrain bakal kembali mengurangi subsidi atas bahan bakar, makanan, dan jasa.

Bandar Udara Raja Abdul Aziz baru di Kota Jeddah, Arab Saudi. (Arab News)

Saudi batalkan kesepakatan dengan Changi buat kelola bandar udara baru di Jeddah

Changi Airports International pada 2 Mei 2017 menyebutkan pihaknya telah mendapat izin untuk mengoperasikan Bandar Udara Raja Abdul Aziz baru selama 20 tahun.

Pesawat Saudi Arabian Airlines. (Arabian Business)

Saudi Arabian Airlines tidak lagi dapat subsidi

Maskapai ini berencana lakoni IPO sebelum akhir 2020.

Ibu Kota Manama, Bahrain. (commons.wikimedia.org)

Bahrain dan Oman paling rentan di era rendahnya harga minyak global

IMF pernah memperingatkan Bahrain untuk secara signifikan mengurangi pengeluaran buat mengembalikan stabilitas anggaran dan meningkatkan kepercayaan investor.





comments powered by Disqus