bisnis

Hipermarket Lulu bisa jadi alternatif bagi konsumen muslim

"Karena kita umat muslim terbesar, pasar kita besar," kata Tutum.

12 Februari 2016 17:57

Wakil Ketua Umum APRINDO (Asosiasi pengusaha Ritel Indonesia) Tutum Rahanta menyambut baik kehadiran Lulu Group, jaringan ritel terbesar di Timur Tengah.

Ekspansi Lulu Group, ritel asal Ibu Kota Abu Dhabi, ke Indonesia dicapai dalam sebuah kesepakatan saat Presiden Joko Widodo melawat ke Uni Emirat Arab tahun lalu. Pada kesempatan itu, Chairman Lulu Group Yusuf Ali bilang pihaknya bakal menggelontorkan US$ 300 juta untuk investasi di Indonesia.

Tutum bilang sah-sah saja bila Lulu menyasar konsumen muslim merupakan penduduk mayoritas di Indonesia. "Karena kita umat muslim terbesar, pasar kita besar," kata Tutum saat dihubungi Albalad.co melalui telepon selulernya hari ini. "Mereka kalau mau menentukan posisi seperti itu silakan bagus. Saya kira masyarakat jadi banyak pilihan."

Lulu Group selama ini dikenal tidak menjual produk non-halal. Jaringan ritel ini menjadi sorotan internasional setelah menarik produk Trump Home dari semua tokonya setelah Donald Trump, bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, mengeluarkan komentar antimuslim.

Namun dia belum bisa memastikan seberapa besar pasar bisa direbut Lulu di Indonesia. Apalagi saat ini ada lebih dari 200 gerai hipermarket di tanah air. Hal ini, menurut dia, bergantung pada tiga hal. "Produk mereka sajikan bisa meyakinkan segmen pasar mereka ingin uber," ujarnya. "Kedua, lokasi. Ketiga, mungkin sambil mencocokkan lewat mencoba dan belajar dari kesalahan."

Masuknya Lulu ke Indonesia sebagai pemain ritel pertama dari Timur Tengah merupakan hal bersejarah. Tapi Tutum tidak yakin bakal ada jaringan ritel lain dari kawasan itu mengikuti jejak Lulu. "Saya tidak melihat Timur Tengah menghasilkan spesialis pemain global," tuturnya.

Informasi diperoleh Albalad.co, Lulu Group bakal meresmikan gerai pertama mereka di Cakung, Jakarta Timur, akhir April mendatang.

Kinerja Lulu terus meningkat. Tahun lalu diperkirakan meraup pendapatan US$ 5,8 miliar, menurut laporan tahunan berjudul Global Powers of Retailing dilansir Deloitte, perusahaan konsultan dan audit berkantor pusat di Kota New York, Amerika Serikat.

Lulu saat ini memiliki 121 hipermarkert dan supermarket di seantero Timur Tengah dan India. Mereka menggelontorkan dana hampir US$ 1,7 miliar untuk investasi besar-besaran di Mesir, Bahrain, Arab Saudi, India, Indonesia, dan Malaysia.

"Saya sangat yakin terhadap pasar ritel regional dan seperti di masa lalu, kami tidak akan melambatkan rencana ekspansi," Chairman Lulu Group Yusuf Ali, seperti dilansir Arabian Business. "Dalam dua tahun ke depan sangat penting bagi kami karena kami memasuki pasar baru di Mesir, Malaysia, Indonesia dan memperkuat kehadiran kami di kawasan Teluk serta India."

Menteri Keuangan Bahrain Syekh Ahmad bin Muhammad al-Khalifah. (Arabian Business)

Bahrain akan berlakukan VAT akhir tahun ini

Bahrain bakal kembali mengurangi subsidi atas bahan bakar, makanan, dan jasa.

Bandar Udara Raja Abdul Aziz baru di Kota Jeddah, Arab Saudi. (Arab News)

Saudi batalkan kesepakatan dengan Changi buat kelola bandar udara baru di Jeddah

Changi Airports International pada 2 Mei 2017 menyebutkan pihaknya telah mendapat izin untuk mengoperasikan Bandar Udara Raja Abdul Aziz baru selama 20 tahun.

Pesawat Saudi Arabian Airlines. (Arabian Business)

Saudi Arabian Airlines tidak lagi dapat subsidi

Maskapai ini berencana lakoni IPO sebelum akhir 2020.

Sekumpulan unta di sebuah gurun di Yordania. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Perusahaan UEA bikin susu unta buat bayi

Bisa dikonsumsi bayi berusia 1-3 tahun, terutama yang alergi terhadap susu formula berbahan dasar susu sapi.





comments powered by Disqus