bisnis

Arab Saudi dan Rusia sepakat tetapkan batas produksi minyak

Level produksi Januari tahun ini menjadi batas produksi selanjutnya.

16 Februari 2016 20:14

Bukannya mengurangi produksi buat mendongkrak harga, dua produsen minyak terbesar sejagat, Arab Saudi dan Rusia, hari ini sepakat menetapkan batas produksi minyak. Qatar dan Venezuela juga setuju dengan pengangkatan minyak di Januari tahun ini sebagai batas produksi selanjutnya.

Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan rahasia dihadiri Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali an-Naimi, Menteri Energi Rusia Alexander Novak, Menteri Energi Qatar Muhammad Saleh as-Sada, dan Menteri Perminyakan Venezuela Eulogio Del Pino di Ibu Kota Doha, Qatar.

Sada, tahun ini giliran menjabat Presiden OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak), menggambarkan pertemuan di Doha itu sebagai sebuah keberhasilan. "Langkah ini berguna untuk menstabilkan pasar," katanya dalam jumpa pers bareng ketiga rekannya itu.

Harga minyak dunia terus melorot sejak pertengahan 2014 hingga di bawah US$ 30 sebarel, terendah dalam satu dasawarsa terakhir. Keterpurukan berlanjut lantaran 13 negara anggota OPEC Desember tahun lalu memutuskan tidak akan mengurangi produksi minyak.

"Penetapan batas produksi sesuai level Januari memadai bagi kebutuhan pasar, kami yakin," ujar Naimi. Dia menambahkan pasokan bakal menurun karena rendahnya harga minyak mentah global saat ini. Tapi dia juga mengakui permintaan akan meningkat.

Menurut IEA (Badan Energi Internasional), produksi minyak Arab Saudi Januari tahun ini 10,2 juta barel per hari, sedangkan Rusia menghasilkan hampir 10,9 juta barel saban hari. Di bulan sama, Venezuela memompa 2,4 juta barel dan Qatar memproduksi 680 ribu barel minyak tiap hari.

Naimi menjelaskan penetapan batas produksi sebagai permulaan dari proses untuk menstabilkan pasar dan menaikkan harga minyak. Dia menambahkan mereka bakal mengkaji kesepakatan ini dalam beberapa bulan mendatang dan memutuskan apakah perlu diambil langkah lain buat menstabilkan dan menaikkan harga pasar. "Kami ingin memenuhi permintaan. Kami mau harga minyak stabil," tuturnya.

Del Pino menambahkan pembicaraan lanjutan dengan Iran dan Irak akan dilakukan besok, agar kedua negara ini juga mau mengikuti batas produksi.

Eugen Weinberg, kepala riset komoditas di Commerzbank AG, Frankfurt (Jerman), membenarkan Iran dan Irak perlu diajak dalam kesepakatan itu. "Jika Iran dan Irak tidak menjadi bagian dari perjanjian itu, penetapan batas produksi ini tidak bermanfaat. Bahkan juga ada keraguan soal tingkat kepatuhan atas kesepakatan itu," katanya, seperti dilansir Bloomberg.

Iran telah berkomitmen bakal menaikkan ekspor minyak mereka hingga dua juta barel sehari tahun ini. Volume ekspor minyak dari negara Mullah itu sekarang 1,3 juta barel per hari.

Irak juga sama. Produksi minyak negeri 1001 Malam itu bulan lalu mencapai rekor, yakni 4,35 juta barel sehari dan berniat menggenjot lagi produksi mereka.

Kesepakatan soal batas produksi ini dicapai setelah berbulan-bulan Arab Saudi dan Rusia bersaing dalam memperebutkan pasar minyak. Riyadh telah mengambil langkah jarang dilakukan dengan menjual minyak ke negara-negara Eropa Timur, sedangkan Rusia mengambil alih jatah ekspor minyak Arab Saudi ke Cina.

Olivier Jakob, direktur pelaksana di perusahaan konsultan Petromatrix GmBh, menilai penetapan batas produksi itu tidak akan segera mengerek harga minyak dunia. "Tapi ia menciptakan sebuah dasar lebih baik bagi pemulihan harga di pertengahan kedua (tahun ini)."

Menteri Energi, Industri dan Suymber Daya Mineral Arab Saudi Khalid al-Falih saat wawancara khusus dengan stasiun televisi Al-Arabiya, di sela lawatannya ke Cina, 31 Agustus 2016. (Al-Arabiya)

Lobi Putin dan kesepakatan OPEC

Indonesia membekukan keanggotaannya di OPEC.

Khalid al-Falih, Chairman Saudi Aramco sekaligus Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi. (Arab News)

OPEC sepakati pengurangan produksi minyak

Kesepakatan ini berlaku mulai Januari 2017.

Emir Kuwait Syekh Sabah al-Ahmad as-Sabah. (The Iran Project)

Kuwait prediksi defisit melonjak hampir 50 persen

Kementerian Keuangan memperkirakan pendapatan negara sebesar 7,4 miliar dinar dan belanja 18,9 miliar dinar.

Ibu Kota Manama, Bahrain. (George Mathew/Flickr)

Anggota kabinet Bahrain dapat BMW baru meski defisit membengkak

Defisit anggaran Bahrain tahun ini dan tahun depan membengkak menjadi Rp 184,3 triliun.





comments powered by Disqus