bisnis

Iran tolak penetapan batas produksi minyak

"Ketika Iran masih dikenai sanksi, beberapa negara (produsen minyak) malah menaikkan produksi dan mereka telah menyebabkan harga minyak jatuh," kata Mahdi Asali.

17 Februari 2016 22:00

Iran menyatakan bakal menolak pembatasan produksi minyak mengikuti level pengangkatan bulan lalu.

"Meminta Iran menetapkan batas produksi minyak tidak masuk akal," kata utusan Iran untuk OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) Mahdi Asali hari ini, seperti dilansir surat kabar the Shargh. "Ketika Iran masih dikenai sanksi, beberapa negara (produsen minyak) malah menaikkan produksi dan mereka telah menyebabkan harga minyak jatuh."

Menteri Perminyakan Venezuela Eulogio Del Pino, Menteri Perminyakan Irak Adil Abdil Mahdi, dan Menteri Energi Qatar Muhammad Saleh as-Sada hari ini terbang ke Ibu Kota Teheran untuk bertemu Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh. Mereka bakal membujuk negeri Persia itu menyetujui penetapan batas produksi minyak.

Kesepakatan soal batas produksi minyak mengikuti level produksi Januari tahun ini dicapai kemarin dalam pertemuan tertutup di Ibu Kota Doha, Qatar. Pertemuan ini dihadiri Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali an-Naimi, Menteri Energi Rusia Alexander Novak, Menteri Energi Qatar Muhammad Saleh as-Sada, dan Menteri Perminyakan Venezuela Eulogio Del Pino. Uni Emirat Arab dan Kuwait menyatakan bakal menaati persetujuan itu.

"Bagaimana mereka bisa mengharapkan Iran bekerja sama sekarang dan membayar kerugian?" ujar Asali. "Kami telah berulang kali bilang Iran akan memompa produksi minyak mentah hingga ke level sebelum terkena sanksi."

Iran mengekspor sekitar 2,5 juta barel minyak per hari sebelum mendapat sanksi pada 2012, karena dicurigai mengembangkan senjata nuklir. Sanksi itu mengakibatkan produksi minyak negara Mullah ini anjlok ke angka 1,1 juta barel per hari.

Namun sehabis sanksi dicabut bulan lalu, Iran sudah mengekspor 1,3 juta barel minyak tiap hari. Teheran berkomitmen bulan depan menaikkan produksi menjadi dua juta barel sehari. Survei dirilis Reuters 5 Januari lalu menunjukkan produksi minyak Iran 2,9 juta barel per hari pada Desember 2015.

Ali an-Naimi menjelaskan penetapan batas produksi sebagai permulaan dari proses untuk menstabilkan pasar dan menaikkan harga minyak. Dia menambahkan mereka bakal mengkaji kesepakatan ini dalam beberapa bulan mendatang dan memutuskan apakah perlu diambil langkah lain buat menstabilkan dan menaikkan harga pasar. “Kami ingin memenuhi permintaan. Kami mau harga minyak stabil,” tuturnya.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi akan kurangi lagi produksi minyaknya satu juta barel mulai bulan depan

Mulai bulan depan, produksi minyak Saudi menjadi 7,492 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas produksi lebih dari 12 juta barel saban hari.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

Sepuluh negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia

OPEC memproduksi 41 persen dari total produksi minyak dunia. Pada 2018, 13 negara anggota OPEC mengekspor 25 juta barel minyak sehari atau 54 persen dari total ekspor minyak dunia sebesar 46 juta barel per hari.

Kilang milik Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia kepunyaan Arab Saudi. (saudiaramco.com)

OPEC dan non-OPEC sepakat kurangi produksi minyak 10 juta barel sehari pada Mei dan Juni

Arab Saudi tadinya berencana memproduksi 12,6 juta barel minyak per hari mulai 1 April.

Kilang minyak di Iran. (Press TV)

Iran temukan ladang minyak baru dengan cadangan 50 miliar barel

Jumlah cadangan minyak negara Mullah itu saat ini sekitar 150 miliar barel.





comments powered by Disqus