bisnis

Tidak digaji enam bulan, seribuan pekerja perusahaan konstruksi di Jeddah mogok

Presiden Kadin Arab Saudi Abdurrahman az-Zamil mengakui sektor konstruksi di negara Kabah itu tengah tercekik.

18 Februari 2016 07:11

Lebih dari seribu pekerja di sebuah perusahaan konstruksi besar di Kota Jeddah, Arab Saudi, mogok kerja lantaran belum dibayarkan gajinya setengah tahun terakhir.

Saking kesalnya dengan manajemen perusahaan, para pekerja itu mencabut sambungan listrik perusahaan, seperti dilansir media setempat. Sebagian yang lain merusak properti dan menyerang staf administrasi saat berunjuk rasa di depan pintu gerbang perusahaan.

Pekerja bernama Ahmad Salim bilang mereka sudah tidak digaji lebih dari enam bulan. "Pekerja asing dan Saudi juga sudah terlalu lama tidak memperoleh bayaran," katanya.

Mogok kerja ini seolah memperkuat pernyataan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Arab Saudi, sektor konstruksi di negara Kabah itu tengah tercekik. Presiden Kadin Arab Saudi Abdurrahman az-Zamil menyurati Raja Salman bin Abdul Aziz meminta dia bertindak mengatasi hal itu.

Zamil bilang sejumlah perusahaan bahkan sudah setengah tahun terakhir belum mendapat pembayaran dari pemerintah. "Jika penundaan pembayaran berlanjut, perusahaan-perusahaan ini terancam gagal menyelesaikan proyek atau bahkan keluar dari bisnis itu," tulis Zamil dalam suratnya.

Surat itu menekankan sektor konstruksi di negara Kabah itu sedang menghadapi beragam tekanan.

Pekerja lainnya, Khalid al-Jahni, mengungkapkan perusahaan telah berjanji membayar sebagian gaji dalam dua pekan, tapi tidak terbukti.

Muhammad Nuruddin mengatakan dia belum gajian setengah tahun meski harus bekerja delapan jam sehari.

Juru bicara Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi Khalil Aba al-Khail bilang pihaknya akan menindaklanjuti persoalan itu. "Kementerian telah menerima sejumlah protes dan sudah menghentikan semua layanan terhadap perusahaan itu," ujarnya.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Tiga alasan IPO Aramco bakal ditunda

IPO lima persen saham Aramco, merupakan inti dari Visi Saudi 2030 untuk mengembangkan perekonomian non-minyak, diprediksi bisa meraup dana US$ 100 miliar.

Kapal di pelabuhan Ras Lanuf, Libya. (Trade Arabia)

Pencurian minyak rugikan Libya US$ 750 juta setahun

Sebelum terjadi revolusi, Libya mempunyai cadangan minyak 48 miliar barel, menghasilkan 1,6 juta barel minyak per hari.

Kilang minyak di kawasan ekonomi khusus Duqm, Oman. (Gulf Business)

Proyek kilang senilai US$ 7 miliar di Oman mulai dikerjakan

Proyek kilang di Duqm itu dijadwalkan rampung pada 2022.

Seorang pegawai perempuan sebuah pompa bensin di Ibu Kota Kairo, Mesir, tengah mengisin tangki bensin sebuah mobil, 15 Maret 2016. (Ayat at-Tawi/Ahram Online)

Produksi minyak Mesir naik jadi 657 ribu barel sehari

Kairo bertekad mengakhiri impor minyak mulai tahun depan.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Tiga alasan IPO Aramco bakal ditunda

IPO lima persen saham Aramco, merupakan inti dari Visi Saudi 2030 untuk mengembangkan perekonomian non-minyak, diprediksi bisa meraup dana US$ 100 miliar.

23 April 2018

TERSOHOR