bisnis

Para pekerja Binladin Group tuntut gaji belum dibayar

Saudi Binladin Group berutang kepada bank lokal dan internasional senilai US$ 30 miliar.

01 April 2016 04:40

Sejumlah pekerja Selasa lalu berkumpul di luar kantor Saudi Binladin Group, perusahaan konstruksi terbesar di Arab Saudi. Mereka menuntut perusahaan membayar gaji mereka sudah berbulan-bulan telat.

Mereka, banyak dari India, Pakistan, dan Mesir, mengecek daftar nama ditempel di tembok luar kantor berisi nama-nama pekerja akan dibayarkan gajinya. Mereka mengaku sudah tujuh bulan belum digaji.

"Tiap hari kami ke sini. Mereka bilang 'Datang besok, kemari lagi Ahad mendatang'. Mereka mengatakan kepada saya untuk bersabar," kata Ramadan as-Sayid Ahmad, teknisi listrik asal Mesir. Dia menambahkan sudah tidak digaji sejak November tahun lalu. "Saya terpaksa meminjam uang teman buat makan."

Binladin Group dibangun 86 tahun lalu oleh Muhammad bin Ladin, ayah dari mendiang pemimpin Al-Qaidah Usamah Bin Ladin. Perusahaan ini memperoleh kontrak US$ 1,23 miliar buat membangun gedung terjangkung sejagat, Menara Kerajaan, dan kontrak senilai US$ 3,4 miliar buat membangun jaringan kereta bawah tanah di Ibu Kota Doha, Qatar.

Perusahaan itu tahun ini mengalami konflik lantaran tidak mampu menggaji karyawannya. Perwakilan dari pekerja telat digaji, Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi, dan Binladin Group mencapai kesepakatan awal tahun ini di Kota Makkah buat menyelesaikan persoalan itu.

Sesuai perjanjian, ada tiga pilihan: pekerja di proyek rel kereta dibangun Binladin bisa tetap bekerja dan digaji, meninggalkan Arab Saudi dengan membawa pesangon, atau dipindah ke perusahaan lain di negara Kabah itu dan menerima pesangon.

Protes Selasa pekan ini berlangsung di kantor Binladin Group di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, dekat dengan proyek pembangunan kawasan bisnis Raja Abdullah senilai US$ 11,6 miliar. Distrik ini bakal dihuni bursa saham Arab Saudi, bank, dan perusahaan multinasional.

Binladin Group kebagian sebuah porsi besar dalam proyek itu. Namun sengketa akibat gaji karyawan belum dibayar bisa mempengaruhi pengerjaan bagian proyek menjadi tanggung jawab mereka.

Seperti perusahaan konstruksi lainnya di Arab Saudi, Binladin Group juga terkena akibat buruk lantaran pemerintah menghemat anggaran belanja negara. Binladin Group kian terdesak setelah Raja Salman bin Abdul Aziz September tahun lalu menghukum perusahaan ini tidak akan mendapat proyek baru dari pemerintah, setelah jatuhnya sebuah derek raksasa di Masjid Al-Haram, Makkah, menewaskan 111 jamaah haji.

Binladin Group menolak mengumumkan laporan keuangan mereka secara terbuka. Tapi dua sumber di industri perbankan di kawasan Teluk membisikkan perusahaan itu berutang kepada sejumlah bank lokal dan internasional sebanyak US$ 30 miliar.

Istana milik Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz di Tangier, Maroko. (Maghreb Daily News)

Puluhan ribu pekerja Binladin Group dikerahkan untuk bangun istana Raja Salman

Pembangunan istana itu selesai 1 Agustus lalu dan sudah digunakan Raja Salman buat liburan musim panas.

Saudi Binladin Group, perusahaan konstruksi terbesar di Arab Saudi. (Gulf Business)

Saudi Binladin Group akan kurangi staf dan berganti nama

Pemerintah Saudi sudah menguasai 35 persen saham dan mengambil alih manajemen di Binladin Group.

Logo Saudi Binladin Group. (Arab News)

Saudi Binladin Group bantah diambil alih oleh pemerintah Arab Saudi

Sejumlah pemilik saham sudah menyetujui penyelesaian perkara dengan memberi saham mereka kepada pemerintah.

Ilusstrasi soal Saudi Binladin Group. (Arab News)

Arab Saudi ambil alih Saudi Binladin Group

Penangkapan Abu Bakar Bin Ladin merupakan bagian dari upaya untuk merampas perusahaan keluarga tersebut.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Aktivis Saudi serukan boikot semua produk Turki

Para aktivis Arab Saudi itu menegaskan kampanye boikot produk Turki ini untuk menghukum Erdogan lantaran terlalu mencampuri urusan dalam negeri Saudi.

18 Desember 2018

TERSOHOR