bisnis

Produksi minyak Kuwait bakal normal dalam tiga hari

Gaji rata-rata pekerja sektor minyak di Kuwait sekitar US$ 22 ribu sebulan, dibanding gaji bulanan pegawai negeri rata-rata US$ 4.200.

21 April 2016 07:42

Perusahaan negara Kuwait Petroleum Corporation (KPC) memperkirakan produksi minyak bakal kembali normal dalam tiga hari, setelah serikat pekerja minyak dan gas Kuwait kemarin mengakhiri mogok massal.

Mogok kerja ribuan buruh itu selama tiga hari sejak Ahad pekan lalu mengakibatkan produksi minyak Kuwait anjlok dari tiga juta barel sehari menjadi 1,5 juta barel.

"Secara bertahap produksi akan kembali normal ke angka tiga juta barel per hari dalam tiga hari," kata juru bicara KPC Syekh Talal Khalid as-Sabah.

Perdana Menteri Kuwait Syekh Jabir Mubarak as-Sabah kemarin telah bertemu pimpinan serikat kerja setelah mereka menghentikan mogok massal. Dia menambahkan pemerintah sepenuhnya menghormati segala hak pekerja sesuai undang-undang. "Tapi tidak mungkin mememnuhi semua permintaan di bawah tekanan mogok kerja dan terganggunya kepentingan vital," katanya dalam keterangan tertulis, seperti dilansir kantor berita resmi Kuwait News Agency.

Serikat pekerja minyak dan gas Kuwait mendesak pemerintah membatalkan rencana penerapan skema baru penggajian. Sebab mereka cemas gaji dan insentif mereka terima selama ini bakal berkurang.

Syekh Jabir bilang KPC tidak akan memotong gaji dan fasilitas karyawan. Namun dia menambahkan perusahaan bakal mengurangi kenaikan gaji di masa depan sesuai penghematan dilakukan negara lantaran defisit.

Dia menjelaskan gaji rata-rata pekerja sektor minyak di Kuwait sekitar US$ 22 ribu sebulan, dibanding gaji bulanan pegawai negeri rata-rata US$ 4.200.

Anas as-Saleh, pelaksana tugas Menteri Perminyakan Kuwait, mengatakan KPC berencana memotong tingkat kenaikan gaji tahunan dari 7,5 persen menjadi lima persen dari gaji dasar.  

Kuwait mengalami surplus anggaran selama 16 tahun berurutan karena tingginya harga minyak. Namun sejak harga emas hitam global melorot pada pertengahan 2014, Kuwait mengalami defisit di tahun anggaran 2015/2016 berakhir 31 Maret lalu.

Untuk tahun anggaran 2015-2016, defisit anggaran diprediksi US$ 38 miliar, setara dengan 30 persen dari produk domestik bruto.

Kuwait telah mencabut subsidi atas harga jual diesel dan minyak tanah. Negara Arab Teluk ini berencana menghapus pula subsidi atas listrik, air, dan bensin.  

Ladang minyak di Kuwait. (kpc.com.kw)

Kuwait Petroleum batalkan banyak tender dan kontrak

Proyek energi surya Dabdada senilai Rp 26,7 triliun baru-baru ini juga dibatalkan.

Menteri Perminyakan Kuwait Bakhit arRasyidi. (Supplied)

Menteri perminyakan Kuwait mundur

Dalam 20 tahun terakhir, Kuwait sudah memiliki 15 menteri perminyakan.

Ladang minyak di Kuwait. (kpc.com.kw)

Kuwait hentikan ekspor minyak ke Amerika

Kuwait telah menggeser ekspor minyaknya ke negara-negara Asia, saat ini mencapai 80 persen dari total volume ekspor minyak Kuwait.

Fasilitas milik Kuwait Petroleum Corporation. (Arabian Business)

Kuwait Petroleum akan gelontorkan US$ 500 miliar untuk naikkan kapasitas produksi

Produksi minyak mentah Kuwait saat ini sekitar 3,15 juta barel sehari.





comments powered by Disqus