bisnis

Susahnya punya rumah di Arab Saudi

"Tujuan pajak 2,5 persen itu bukan untuk meraup pendapatan, tapi mendorong pembangunan permukiman."

23 Mei 2016 11:23

Di pinggiraan Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, gurun begitu luas perlahan mulai ditelan hutan beton.

Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk di Riyadh berlangsung sangat cepat. Hanya setengah juta penghuni pada 1970-an, kini membengkak menjadi lebih dari tujuh juta orang.

Meski begitu, sekitar 40 persen dari luas Riyadh masih berupa lahan kosong.

Harga rumah telah naik dalam beberapa tahun belakangan. Banyak tuan-tuan tanah memilih membiarkan lahannya tidak dipakai dengan harapan harga kian membubung tinggi.

Alhasil, warga Arab Saudi ingin memiliki rumah makin frustasi. Anda tidak perlu berjalan jauh di Riyadh untuk bertemu orang-orang ingin membeli rumah tapi tidak terjangkau.

"Harga rumah meroket dalam sepuluh tahun terakhir," kata Sahal, pegawai perusahaan produk pertanian berusia 30-an tahun. "Beberapa teman saya menghabiskan hampir setengah dari gaji mereka buat menyewa rumah. Kebanyakan teman saya tinggal di rumah sewaan."

Pertumbuhan dramatis penduduk ditambah kurangnya pembangunan telah mengakibatkan krisis perumahan di sebagian besar kota di negara Kabah itu.

Untuk mengatasi kekuarangan lahan buat membangun rumah, pemerintah awal bulan ini memberlakukan pajak 2,5 persen setahun atas tanah kosong, dikenal dengan sebutan pajak tanah putih. Pemerintah berharap kebijakan ini bisa menaikkan jumlah warga Arab Saudi pemilik rumah setidaknya lima persen pada 2020.

Beruntung Sahal masih bujangan dan tinggal di kediaman orang tua. "Jika bisa, besok pun saya ingin membeli rumah, tapi dengan harga masuk akal," ujarnya.

Abdurrahman, karyawan sebuah universitas di Riyadh, sudah berupaya memiliki rumah sejak mulai bekerja 12 tahun lalu. Hasilnya nihil. Dia mengaku senang dengan pemberlakukan pajak tanah kosong. "Saya kira itu bakal menurunkan harga rumah," ujar lelaki 35 tahun ini.

Dengan adanya pajak atas lahan tidak dipakai, bisa memaksa para pemilik menjual tanah mereka.

Namun Raid, 30 tahun, tidak terlalu yakin program pemerintah itu bisa mengatasi krisis rumah. "Tapi saya akan senang bila harga rumah turun tanpa diikuti inflasi di sektor lain," tuturnya.

Muhammad as-Suwayid, kepala pasar modal dan uang di Adeem Capital, perusahaan manajemen aset berkantor di Riyadh, menilai keputusan pemerintah itu bukanlah pajak. "Itu sebenarnya sebuah hukuman kepada para pemilik tanah karena tidak dipakai," katanya. "Tujuan pajak 2,5 persen itu bukan untuk meraup pendapatan, tapi mendorong pembangunan permukiman."

Dia bilang mestinya pemerintah membikin beleid soal kredit rumah menarik bagi pengembang dan perusahaan investasi.

Usaha pemerintah memang masih butuh waktu untuk memberi bukti. Sahal, Abdurrahman, dan warga Saudi lainnya masih tinggal di kontrakan mesti bersabar untuk bisa memperoleh rumah mampu mereka jangkau.

Kereta cepat Haramain melayani rute Makkah-Madinah beroperasi mulai 11 Oktober 2018. (Saudi Gazette)

Kereta cepat Makkah-Madinah beroperasi mulai Kamis pekan ini

Dengan kereta Haramain, perjalanan Makkah-Madinah hanya butuh waktu dua jam saja.

Kios buku di Albalad, kawasan kota tua di Ibu Kota Amman, Yordania, April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Arab Saudi, Kuwait, dan UEA simpan US$ 1 miliar di Bank Sentral Yordania

Saudi, Kuwait, dan UEA juga berkomitmen memberikan fulus US$ 500 juta saban tahun selama lima tahun untuk membantu anggaran Yordania.

Ladang minyak di Kuwait. (kpc.com.kw)

Kuwait hentikan ekspor minyak ke Amerika

Kuwait telah menggeser ekspor minyaknya ke negara-negara Asia, saat ini mencapai 80 persen dari total volume ekspor minyak Kuwait.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Arab Saudi proyeksikan defisit US$ 34 miliar tahun depan

Arab Saudi baru lepas dari defisit pada 2023.





comments powered by Disqus