bisnis

Brexit dinilai untungkan negara-negara Arab Teluk

Total investasi dari kawasan Arab Teluk di Inggris sekitar US$ 200 miliar, seperempatnya di sektor properti.

30 Juni 2016 12:45

Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa, hasil dari referendum digelar Kamis pekan lalu, dinilai bakal menguntungkan perekonomian enam negara Arab Teluk - Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, dan Oman - dalam jangka panjang. Keenam negara ini tergabung dalam GCC (Dewan Kerja Sama Teluk)

Para ahli ekonomi dan keuangan dari Arab Saudi UEA, Kuwait, dan Bahrain bilang akibat negatif dari Brexit dalam jangka pendek pada akhirnya bakal menguntungkan.

"Brexit akan membuka pintu bagi prospek perjanjian perdagangan bilateral langsung antara Inggris dan negara-negara Arab Teluk, di luar aturan Uni Eropa," kata Nur al-Hamuri, kepala ahli strategi pemasaran di ADS Securities, perusahaan perdagangan saham berpusat di Ibu Kota Abu Dhabi, UEA.

Sebelumnya upaya-upaya untuk mewujudkan kesepakatan perdagangan bebas antara GCC dan Uni Eropa terganjal. Namun Inggris dipandang lebih terbuka terhadap enam negara Arab Teluk.   

Umar al-Ubaidi, ahli ekonomi sekaligus Direktur CSIES (Pusat Studi Strategis, Internasional, dan Energi) - berpusat di Bahrain - menjelaskan Brexit memberi kesempatan lebih baik bagi negara-negara Arab Teluk untuk meneken kesepakatan dagang dengan Inggris. "Artinya, jika negara-negara GCC memainkan kartu truf, mereka bisa memperoleh lebih banyak keuntungan secara ekonomi, misalnya perjanjian perdagangan dan investasi," ujar Ubaidi.

Menurut penelitian dilansir Ahad lalu oleh sebuah perusahaan investasi di Kuwait, keuntungan lain dari Brexit buat negara-negara Arab Teluk adalah rendahnya tingkat suku bunga untuk jangka panjang disebabkan adanya ketidakpastian sehabis Inggris keluar dari Uni Eropa.   

Status Inggris sebagai surga bagi para investor properti asal negara-negara Arab Teluk kian kuat, menurut John Sfakianakis, ahli ekonomi dan direktur riset ekonomi di Gulf Research Center, lembaga kajian berkantor di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. "Para pemodal asing di London akan mendapatkan banyak keungtungan bersih karena rendahnya nilai tukar (pound sterling) dan anjloknya harga real estat di London dan tempat lainnya," kata Sfakianakis.

Total investasi dari kawasan Arab Teluk di Inggris sekitar US$ 200 miliar, seperempatnya di sektor properti. Inggris kebagian 40 persen dari jumlah investasi properti Arab Teluk di daratan Eropa. 

Pompa bensin di Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Arab Saudi naikkan harga bensin

IMF pernah memperkirakan Saudi tidak lagi mengalami defisit pada 2023.

Ibu Kota Muskat, Oman. (Arabian Business)

IMF desak Oman segera berlakukan VAT

Defisit Oman tahun lalu diperkirakan sembilan persen, turun dari 13,9 persen pada 2017.

Presiden Bursa Berlian Israel Yoram Dvash berpose bareng Mufti Hamka, pengusaha dari Indonesia. (Israel Diamond Exchange)

Delegasi pebisnis Indonesia kunjungi Bursa Berlian Israel

Awal bulan ini, Presiden Bursa Berlian Dubai Ahmad bin Sulayim juga datang menghadiri pertemuan Forum Berlian Dunia sekaligus mengunjungi Bursa Berlian Israel.

Bank Sentral Kuwait. (Arabian Business)

Kuwait sahkan APBN dengan proyeksi defisit Rp 310 triliun

Cadangan devisa Kuwait saat ini berjumlah Rp 8.450 triliun.





comments powered by Disqus