bisnis

Lobi Putin dan kesepakatan OPEC

Indonesia membekukan keanggotaannya di OPEC.

03 Desember 2016 07:24

Presiden Rusia Vladimir Putin memainkan peran kunci dalam membantu dua musuh bebuyutan dalam OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak), Iran dan Arab Saudi, melupakan segala perbedaan untuk mencapai kata sepakat buat mengurangi produksi minyak 1,2 juta barel sehari. Kesepakatan itu tercapai Rabu lalu dalam pertemuan di Ibu Kota Wina, Austria.

Kesepakatan juga dicapai dengan Rusia dengan negara produsen non-OPEC lainnya. Alhasil, total pengurangan produksi minyak secara global 1,8 juta barel per hari.

Sumber-sumber di OPEC dan non-OPEC mengungkapkan Sejumlah campur tangan menjelang pertemuan OPEC di Wina datang dari Putin, Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, dan Presiden Iran Hasan Rouhani.  

Peran Putin dalam menjembatani Riyadh dan Teheran sangat penting, menjadi bukti kian kuatnya pengaruh Rusia di Timur Tengah sejak negara Beruang Merah ini melakukan intervensi militer dalam perang di Suriah lebih dari setahun lalu.

Lobi itu dimulai ketika Putin berjumpa Pangeran Muhammad September lalu di sela pertemuan G20 di Cina.

Keduanya sepakat bekerja sama untuk membantu memulihkan harga minyak mentah global, anjlok lebih dari setengah sejak pertengahan 2014. Rendahnya harga emas hitam dunia itu telah memangkas pendapatan Rusia dan Saudi.  

Sama-sama rugi akibat harga minyak melorot membikin kesepakatan kedua negara itu mungkin dicapai, meski ada perbedaan politik sangat tajam antara Rusia dan Saudi soal Perang Suriah. Rusia setia menyokong rezim Presiden Basyar al-Assad, sedangkan Saudi getol mendukung kaum pemberontak ingin menumbangkan Assad, karena ingin menggusur pengaruh Iran di negara Syam itu.

"Putin menginginkan kesepakatan itu," kata seorang sumber dalam industri enegeri Rusia, menceritakan secara singkat isi pertemuan Putin dan Pangeran Muhammad. Perusahaan-perusahaan rusia harus memotong jumlah produksi."

Pada pertemuan di Aljazair September lalu, OPEC secara prinsip menyetujui usulan pengurangan produksi dari 33,6 juta barel menjadi 32,5 juta barel sehari, kesepakatan pertama sejak krisis keuangan meletup pada 2008.

Namun komitmen-komitmen itu masuk memerlukan banyak diplomasi agar bisa terwujud dalam pertemuan OPEC di Wina. Beberapa pertemuan OPEC belakangan gagal mencapai kesepakatan soal pengurangan produksi lantaran adu argumen antara Arab Saudi dan Iran, produsen minyak terbesar ketiga sejagat. Teheran berpendapat mereka mesti dikecualikan dalam kesepakatan karena baru saja lepas dari sanksi ekonomi Barat.

Perang kepentingan di Suriah dan Yaman kian memperburuk ketegangan antara kedua negara telah berlangsung beberapa dekade.

Jelang pertemuan OPEC di Wina, tanda-tandanya kurang menggembirakan. Pangeran Muhammad berkali-kali meminta Iran ikut dalam usulan pemotongan produksi. Hanya beberapa hari menuju Wina, Riyadh kelihatan ingin mundur dan mengancam menggenjot produksi minyak mereka jika Iran tidak mau bergabung.

Tapi Putin berhasil membujuk Saudi. Dengan syarat, Iran tidak merayakan kemenangan atas Saudi soal kesepakatan ini.

Pembicaraan lewat telepon antara Putin dan Rouhani memuluskan jalan menuju kata sepakat. Menurut seorang sumber dekat dengan Khamenei, Rouhani dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh kemudian menghadap Khamenei buat meminta persetujuan.

"Dalam pertemuan itu, Khamenei menekankan pentingnya memperhatikan garis merah Iran, yakni tidak menyerah pada tekanan politik dan tidak menerima pengurangan produksi (atas minyak Iran) di Wina," ujar sumber itu.

Zanganeh menjelaskan strateginya dan Khamenei mengiyakan. Dia juga menggarisbawahi pentingnya lobi poliik, khususnya dengan Putin. Khamenei juga setuju akan hal itu.

Akhirnya Rabu lalu, Saudi sepakat mengurangi produksinya minyaknya, sebuah keputusan dianggap Menteri Energi Khalid al-Falih sebagai pukulan besar. Sedangkaan Iran dibolehkan mengerek sedikit produksinya.

Zanganeh tetap bertindak biasa selama pertemuan OPEC di Wina. Dia juga menyetujui kesepakatan itu malam sebelumnya, dengan bantuan Aljazair sebagai mediator. Dia berhati-hati agar hal ini tidak bocor.

Setelah pertemuan, Zanganeh biasanya cerewet menolak berkomentar soal kemenangan Iran atas Saudi dalam kesepakatan pengurangan produksi minyak.

"Kami tegas," kata Zanganeh kepada stasiun televisi pemerintah. "Pembicaraan lewat telepon antara Rouhani dan Putin memainkan peranan besar...Setelah telepon itu, Rusia mendukung penguranagn produksi."

Produsen minyak non-OPEC juga bersedia mengurangi produksi mereka hingga 0,6 juta barel per hari, di mana Rusia menyumbang pengurangan produksi minyak sekitar 0,3 juta barel. Keputuan Rusia ini yang pertama dalam 15 tahun terakhir.
 
Azerbaijan dan Kazakhstan juga sepakat ikut dalam keputusan ini.   

Tapi bukan OPEC namanya kalau tanpa cekcok di menit-menit akhir. Irak menjadi masalah. Produsen mienyak terbesar kedua di dunia setelah Saudi ini menolak memotong jumlah produksi. Alasannya, Baghdad membutuhkan dana buat memerangi milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Menghadapi tekanan dari angota OPEC lainnya, Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi meminjam telepon koleganya lalu menghubungi Perdana Menteri Haidar al-Abadi.

"Abadi bilang ikuti kesepakatan itu," kata seorang sumber di OPEC.

Dalam sidang OPEC di Wina itu, Indonesia memutuskan membekukan keanggotaannya di organisasi itu. Sebab OPEC meminta Indonesia menurunkan lima persen dari produksi atau sekitar 37 ribu barel per hari. "Padahal kebutuhan penerimaan negara masih besar dan pada APBN 2017 disepakati produksi minyak pada 2017 turun lima ribu barel dibanding 2016," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, dalam siaran pers diterima Albalad.co Kamis lalu.  

Alhasil, pemotongan produksi bisa diterima Indonesia adalah lima ribu barel sehari.

Jonan menambahkan sebagai negara pengimpor minyak pengurangan produksi tidak menguntungkan bagi Indonesia karena secara teori harga bakal naik.

Dengan pembekuan ini, Indonesia sudah dua kali membekukan keanggotaannya di OPEC. Pertama pada 2008 dan berlaku mulai 2009. Indonesia kembali menjadi anggota OPEC awal tahun ini.

Dermaga kapal tanker Nakilat-Keppel di ladang gas Ras Laffan, Qatar. (arabianoilandgas.com)

Qatar akan keluar dari OPEC pada 1 Januari 2019

Negara Arab supertajir ini ingin berfokus untuk meningkatkan produksi gasnya dari 77 juta ton menjadi seratus juta ton per tahun.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

Arab Saudi naikkan produksi minyak 400 ribu barel bulan lalu

Total produksi minyak OPEC selama Juni 2018 sebesar 32,33 juta barel sehari atau meningkat 173 ribu barel per hari ketimbang bulan sebelumnya.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih. (Gulf Business)

Arab Saudi berharap IPO Aramco jadi dilaksanakan tahun depan

OPEC menyetujui kenaikan produksi sekitar satu juta barel per hari mulai bulan depan.

Menteri Energi, Industri, dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Khalid al-Falih. (Arab News)

OPEC sepakati perpanjangan pengurangan produksi minyak hingga Maret 2018

Kesepakatan dengan produsen non-OPEC bakal berakhir bulan depan.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Aktivis Saudi serukan boikot semua produk Turki

Para aktivis Arab Saudi itu menegaskan kampanye boikot produk Turki ini untuk menghukum Erdogan lantaran terlalu mencampuri urusan dalam negeri Saudi.

18 Desember 2018

TERSOHOR