bisnis

Oman, terjebak di antara Iran dan Saudi

Memang akan ada risiko ekonomi dengan mendekat ke Arab Saudi. Bila muncul anggapan Muskat bersekutu dengan Riyadh, itu akan menjengkelkan Teheran.

11 Januari 2017 17:36

Terjebak di antara dua negara raksasa tengah bersaing memperebutkan pengaruh di Timur Tengah, Oman telah lama melakoni diplomasi netralitas ala Swiss. Tapi kini kebijakan berteman dengan semua negara dan tidak ada musuh mendapat ujian berat.

Oman menyadari tidak pernah mudah menyeimbangkan hubungan dengan Arab Saudi di sebelah barat dan Iran di bagian utara, namun kian meruncingnya rivalitas antara kedua negara itu menguji kebijakan non-blok mereka.

Kebijakan netralitas ini amat strategis bagi Oman, negara berlokasi di Selat Hormuz dan menjadi jalur pelayaran untuk 40 persen kapal tanker dunia.

Oman sudah membantu menengahi perundingan rahasia Amerika Serikat-Iran pada 2013, hingga akhirnya mendorong ke arah penandatanganan kesepakatan nuklir di Kota Jenewa, Swiss, dua tahun kemudian. Negara Arab Teluk ini juga membantu membebaskan sandera-sandera Amerika di Yaman.

Rakyat Oman meyakini peran pencipta perdamaian gaya Swiss itu sangat penting untuk membantu mencegah Timur Tengah kian tenggelam dalam kekacauan.

"Kami berharap Oman tetap mempertahankan kebijakan itu," kata anggota Dewan Syura Oman Taufiq al-Lawati. "Konflik terbuka antara Iran dan Arab Saudi bakal menjadi sebuah bencana bagi semua pihak."

Arab Saudi, memimpin pasukan koalisi menggempur pemberontak Al-Hutiyun sokongan Iran di Yaman, menegaskan negara-negara Arab Teluk kian akrab untuk menghadapi Iran.

Di saat sama, Oman tengah menghadapi defisit anggaran dalam jumlah besar karena rendahnya harga minyak global. Muskat berupaya meningkatkan perdagangan dengan Iran, telah dicabut sanksi ekonominya oleh Barat, untuk menopang perekonomiannya.

Hasilnya, Muskat seolah sedang berjalan di atas tali tegang. "Dengan Arab Saudi kami kadang tidak sepaham, dengan Iran juga," ujar Lawati. "Tapi masih ada banyak hal di mana kami bisa sekata."

Muskat mengejutkan negara-negara tetangganya pekan lalu, setelah setuju bergabung dalam koalisi militer dipimpin Arab Saudi, sehingga kini beranggotakan 35 negara. Koalisi ini bukan untuk berperang di Yaman namun secara resmi untuk memberantas ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta kelompok radikal lainnya.

Tapi koalisi itu dicurigai sebagai alat untuk mencegah Iran memperluas pengaruhnya di dunia muslim. Oman telah kembali ke pelukan Arab Teluk," tulis kolumnis tersohor asal Arab Saudi Turki ad-Dakhil.

Sejumlah sumber di Saudi dan kawasan Arab Teluk mengungkapkan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz diperkirakan segera mengunjungi Muskat, dan itu akan menjadi tanda menguatnya hubungan kedua negara. "Di saat-saat genting, posisi jelas diperlukan," tutur seorang pejabat dari sebuah negara Arab Teluk. "Kami tahu Oman bakal bersama kami."

Tentu saja Oman masih harus berjuang buat menyenangkan negara-negara Arab Teluk tajir secara konsisten. Mereka menilai netralitas Oman mengabaikan keamanan bersama kawasan Arab Teluk selama perang berlangsung di Irak, Suriah, dan Yaman, di mana Riyadh dan Teheran mendukung pihak berlawanan.

Dengan bergabung ke dalam aliansi dikomandoi Saudi menandakan kecemasan Oman atas penyebaran pengaruh ISIS dan Al-Qaidah, telah bersumpah menyerang negara-negara kerajaan di kawasan Teluk. Oman juga menghadapi ketidakpastian domestik karena Sultan Qabus - berumur 76 tahun - belum menentukan calon penggantinya.

Tapi tindakan penyeimbang oleh Oman itu tidak sepenuhnya menjanjikan.

Seorang mantan diplomat Oman menolak ditulis namanya menyebut langkah iitu sebagai simbol buat sekadar menyenangkan Riyadh dan hanya melibatkan sedikit komitmen.

Ahmad al-Mukhaini, bekas Asisten Sekretaris Jenderal Dewan Syura Oman, bilang kebijakan pemerintahnya itu bakal memberi pengaruh lebih besar buat Oman untuk menenangkan situasi di kawasan tapi bukan untuk mengkompromikan kebebasan negaranya. "Dengan bergabung dalam koalisi itu, Oman membentengi dari kritik Arab Saudi," katanya.

Memang akan ada risiko ekonomi dengan mendekat ke Arab Saudi. Bila muncul anggapan Muskat bersekutu dengan Riyadh, itu akan menjengkelkan Teheran. Negara Mullah ini memiliki miliaran dolar cadangan devisa di bank-bank Oman. Iran bisa saja membatalkan sejumlah proyek telah dijanjikan akan dibangun di Oman.

Berakhirnya sanksi ekonomi atas Iran Januari tahun lalu memunculkan harapan meningkatnya perdagangan antara Oman dan Iran. Muskat memperkirakan bebasnya Iran bakal mempercepat penyelesaian jaringan pipa gas alam cair, sehingga akan memenuhi kebutuhan industri Oman akan pasokan gas dari Iran.

"Oman membutuhkan kerja sama ekonomi di mana telah dijanjikan Iran...Kedua negara merencanakan jaringan pipa gas bawah laut sebagai bagian penting dari rencana Oman buat mengembangkan ekonominya," kata CEO Gulf State Analytics Giorgio Cafiero.

Dia menambahkan Oman melihat investasi asal Iran, termasuk pabrik mobil, kompleks rumah sakit, dan pabrik nanoteknologi membantu memberagamkan ekonomi di luar minyak.

Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik Manchester City. (Luxatic)

Pemilik Manchester City pasok daging sapi ke Israel

Sampai 2012, perusahaan kepunyaan Syekh Mansur itu merupakan pemasok tunggal daging sapi ke Israel.

Pompa bensin ADNOC. (Gulf Business)

ADNOC buka pompa bensin pertama di Arab Saudi

Arab Saudi memberikan izin operasi bagi ADNOC April lalu.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Arab Saudi berlakukan sistem jalan tol mulai 2020

Dubai menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Arab Teluk menerapkan sistem jalan tol.

Dermaga kapal tanker Nakilat-Keppel di ladang gas Ras Laffan, Qatar. (arabianoilandgas.com)

Qatar akan keluar dari OPEC pada 1 Januari 2019

Negara Arab supertajir ini ingin berfokus untuk meningkatkan produksi gasnya dari 77 juta ton menjadi seratus juta ton per tahun.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Pemilik Manchester City pasok daging sapi ke Israel

Sampai 2012, perusahaan kepunyaan Syekh Mansur itu merupakan pemasok tunggal daging sapi ke Israel.

10 Desember 2018

TERSOHOR