bisnis

Perusahaan konstruksi Cina mundur dari proyek ibu kota baru Mesir

Sisi menghentikan proyek senilai US$ 45 miliar itu Oktober tahun lalu karena kekurangan anggaran.

26 Februari 2017 13:40

Salah satu perusahaan konstruksi terbesar sejagat mundur dari proyek pembangunan ibu kota baru Mesir, setelah pemerintah negara Nil itu tidak setuju dengan tingginya biaya pembangunan diajukan subkontraktor lokal.

The China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) telah menandatangani nota kesepahaman untuk memimpin pembangunan kompleks gedung parlemen, namun pemerintah Mesir mengaku tidak puas dengan harga ditawarkan.

"Kedua pihak tidak mencapai kesepakatan saling memuaskan soal harga per meter persegi dari pelaksanaan proyek," kata juru bicara New Administrative Capital Company (NACC) Aiman Ismail. "Perusahaan Cina itu ingin mengandalkan para pengembang lokal sehingga akan lebih mahal bagi kami," katanya.

CSCEC belum meneken kontrak untuk menyelesaikan pekerjaan.

Seluruh proyek ibu kota baru Mesir itu - diperkirakan menelan anggaran sekitar US$ 45 miliar - telah dihentikan. Para pengkritik menilai dana sebesar itu lebih baik digunakan di sektor lain karena Mesir sedang menghadapi krisis ekonomi.

Proyek ini dikelola oleh NACC, dimiliki bersama oleh Kementerian Perumahan dan militer.

Presiden Abdil Fattah as-Sisi menghentikan proyek ibu kota baru itu Oktober tahun lalu karena kekurangan dana. Keputusan ini keluar sebulan setelah konsorsiumCina sepakat menggelontorkan US$ 20 miliar.

Sisi berupaya menghidupkan kembali perekonomian Mesir setelah menggulingkan Presiden Muhammad Mursi pada 2013, dengan meluncurkan beragam proyek raksasa bernilai miliaran dolar Amerika Serikat, seperti perluasan Terusan Suez.

Dalam lawatan kenegaraan ke Mesir April tahun lalu, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menjanjikan bantuan dan investasi senilai US$ 25 miliar. Negara-negara Arab Teluk lainnya juga berkomitmen memberikan bantuan serupa.

Kantor Nasdaq Dubai di Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (Arabian Business)

Indonesia lepas sukuk senilai US$ 2 miliar di Nasdaq Dubai

Pemerintah Indonesia merupakan penjual sukuk terbesar di Nasdaq Dubai dalam hal nilai dan jumlahnya, yakni US$ 16,5 miliar dari 12 sukuk sudah dilepas.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih. (Gulf Business)

Saudi akan kurangi produksi minyak jadi 9,8 juta barel bulan depan

Saudi akan menciptakan bisnis gas secara global.

Sejumlah pekerja membersihkan pelataran Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Biaya haji tahun ini Rp 35,2 juta

Sama dengan ongkos haji tahun lalu.

Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (visitabudhabi.ae)

Perusahaan UEA beli tiga ton emas dari Venezuela

Pembelian itu dilakukan pada 21 Januari lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Indonesia lepas sukuk senilai US$ 2 miliar di Nasdaq Dubai

Pemerintah Indonesia merupakan penjual sukuk terbesar di Nasdaq Dubai dalam hal nilai dan jumlahnya, yakni US$ 16,5 miliar dari 12 sukuk sudah dilepas.

21 Februari 2019

TERSOHOR