bisnis

Arab Saudi turunkan pajak atas Aramco dari 85 menjadi 50 persen

Perusahaan minyak dan gas bermodal 225-300 miliar riyal harus membayar pajak 75 persen dan yang modalnya di bawah 225 miliar riyal pajaknya 85 persen.

28 Maret 2017 14:26

Lewat surat keputusan Raja Salman bin Abdul Aziz kemarin, pemerintah Arab Saudi meluncurkan kebijakan baru soal pajak pendapatan atas perusahaan minyak dan gas. Aturan ini membikin pajak pendapatan dikenakan terhadap Saudi Aramco, badan usaha milik negara Saudi di sektor minyak dan gas, turun dari 85 persen menjadi 50 persen.

Kebijakan itu berlaku surut mulai 1 Januari tahun ini. Aturan baru mengenai pajak pendapatan atas produsen minyak dan gas ini sekaligus sebagai langkah untuk meningkatkan nilai Aramco menjelang IPO (penjualan saham perdana) tahun depan.

IPO lima persen saham Aramco diperkirakan akan bernilai paling tidak US$ 2 triliun, bakal menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. IPO ini direncanakan dilakukan di Bursa Saham Arab Saudi atau Tadawul dan di dua bursa internasional, kemungkinan besar salah satunya NYSE (Bursa Saham New York).   

Aramco menyambut gembira keputusan Raja Salman tersebut sebagai langkah positif baru untuk memberagamkan perekonomian negara Kabah itu. "Kami berterima kasih kepada Raja Salman atas keputusan itu," kata CEO Aramco Amin Nasir. "Pajak baru akan membawa Saudi Aramco sejalan dengan standar internasional."

Menurut aturan baru itu, pajak pendapatan atas perusahaan minyak dan gas dikenakan berdasarkan modal. Produsen bermodal lebih dari 375 miliar riyal (US$ 100 miliar) mesti membayar pajak pendapatan 50 persen, yang bermodal 300-375 miliar riyal pajaknya 65 persen.

Perusahaan bermodal 225-300 miliar riyal harus membayar pajak 75 persen dan yang modalnya di bawah 225 miliar riyal pajaknya 85 persen.

Khalid al-Falih, Menteri Energi, Industri, dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi sekaligus Chariman Aramco, mengatakan penurunan pajak itu tidak akan mengurangi devisa negara. "Hal itu bakal diganti dengan pembayaran deviden secara stabil dan sumber-sumber pendapatan lain dari produsen hidrokarbon kepada pemerintah," ujarnya.

John Sfakianakis, Direktur Riset Ekonomi di the Gulf Research Center Foundation, Riyadh, menilai aturan baru pajak itu bisa menarik minat investor di sektor minyak dan gas.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

Aramco batalkan rencana IPO

Pangeran Muhammad menjelaskan IPO itu tadinya direncanakan pada semester kedua tahun ini.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

IPO Aramco hampir pasti batal

Para pejabat Saudi mengatakan IPO dalam jumlah besar di New York, London, atau Hong Kong akan memicu risiko hukum terlalu banyak.

CEO Aramco Amin Nasir dan Menteri Negara Uni Emirat Arab (UEA) sekaligus CEO ADNOC Group Sultan Ahmad al-Jabir menandatangani perjanjian kerjasama untuk membangun kilang di Ratnagiri, India. (Arabian Business)

Aramco dan ADNOC patungan bangun kilang raksasa di India

Berkapasitas 1,2 juta liter sehari dan bernilai US$ 44 miliar.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Pemilik Manchester City pasok daging sapi ke Israel

Sampai 2012, perusahaan kepunyaan Syekh Mansur itu merupakan pemasok tunggal daging sapi ke Israel.

10 Desember 2018

TERSOHOR