bisnis

Arab Saudi berlakukan pajak baru bagi ekspatriat

Perusahaan mempekerjakan ekspatriat juga dikenakan pajak mulai tahun depan berdasarkan jumlah pekerja asing di perusahaan bersangkutan.

04 Juli 2017 13:56

Pemerintah Arab Saudi mulai 1 Juli lalu memberlakukan pajak baru bagi kaum ekspatriat. Semua pekerja asing di negara itu wajib membayar biaya atas semua orang dalam tanggungan mereka, yakni istri, anak, sopir, dan pembantu.

Besarannya tahun ini seratus riyal per kepala saban bulan. Tahun depan biaya mesti dibayar pekerja asing atas orang-orang mereka tanggung senilai 200 riyal per orang tiap bulan. Kemudian pada 2019, besarannya naik menjadi 300 riyal per kepala sebulan.

Dengan pemberlakukan pajak tersebut, Arab Saudi memperkirakan bisa meraup pendapatan satu miliar riyal akhir tahun ini.

Arab Saudi mulai tahun depan juga membebankan pajak terhadap perusahaan berkaryawan ekspatriat. Jika jumlah pekerja asingnya lebih besar ketimbang orang Saudi, perusahaan bersangkutan harus membayar pajak 400 riyal untuk tiap ekspatriat per bulan. Bila jumlahnya lebih kecil, besaran pajak 300 riyal.

Kebijakan ini diterapkan buat mengurangi defisit anggaran akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014. IMF (Dana Moneter Internasional) telah memperkirakan Arab Saudi mengalami defisit selama 2015-2020.

Pada 2019, besarannya meningkat menjadi 600 riyal per ekspatriat tiap bulan. Kalau lebih kecil, 500 riyal.

Pada 2020, pajaknya 800 riyal per ekspatriat saban bulan bila jumlah pekerja asing melebihi karyawan Saudi. Kalau lebih kecil, 700 riyal.  

Dengan kebijakan itu, Arab Saudi diprediksi dapat memperoleh pendapatan 24 miliar riyal pada 2018, 44 miliar riyal di 2019, dan 65 miliar riyal pada 2020.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi alami defisit Rp 160 triliun di kuartal ketiga 2020

Secara keseluruhan, pendapatan Saudi dari bidang di luar minyak meroket hingga 63 persen ketimbang tahun lalu.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi proyeksikan defisit tahun ini sebesar 12 persen

Negara Kabah itu memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini akan minus 3,8 persen, lebih optimistis ketimbang taksiran IMF, yakni minus 6,8 persen.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.





comments powered by Disqus