bisnis

Oman tunda penerapan VAT hingga 2019

Oman diprediksi mengalami defisit tahun ini tiga miliar riyal.

26 Desember 2017 19:27

Kementerian Keuangan Oman dikabarkan akan menunda pemberlakuan VAT (pajak pertambahan nilai) hingga 2019.

Meski begitu, menurut sejumlah sumber di Kementerian Keuangan kepada the Times of Oman, poduk-produk tertentu seperti rokok, minuman berenergi, dan minuman ringan, bakal dikenai pajak muai pertengahan tahun depan.

Penundaan penerapan VAT ini bertujuan untuk emmberi kelonggaran waktu bagi para pelaku usaha di Oman untuk melakukan persiapan.

Semua negara Arab Teluk tergabung dalam GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) - beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - tadinya sudah bersepakat menerapkan VAT sebesar lima persen mulai Januari 2018. Namun baru Saudi dan UEA menyatakan kesiapannya memberlakukan VAT di awal tahun depan.

VAT merupakan salah satu upaya dilakukan enam negara Arab Teluk buat mengatasi defisit akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014.

Dalam laporannya, Price Watercooper Timur Tengah menyebutkan pinjaman luar negeri Oman bakal meningkat hingga 133 persen untuk membiayai defisit, tahun ini diperkirakan tiga miliar riyal.

Ibu Kota Kuwait City, Kuwait. (emirates.com)

Kuwait defisit Rp 154 triliun

Pengeluaran untuk gaji pegawai negeri dan subsidi meliputi 75 persen dari total anggaran belanja negara.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alriyadh.com)

Arab Saudi defisit Rp 125 triliun di kuartal kedua tahun ini

Ketimbang periode serupa tahun lalu, pengeluaran di kuartal kedua tahun ini naik lima persen, dengan 27 persen kenaikan di belanja modal dan 71 persen untuk subsidi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

IMF prediksi Arab Saudi alami defisit 6,5 persen

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negeri Dua Kota Suci itu tahun ini sebesar 1,9 persen.

Ibu Kota Muskat, Oman. (Arabian Business)

IMF desak Oman segera berlakukan VAT

Defisit Oman tahun lalu diperkirakan sembilan persen, turun dari 13,9 persen pada 2017.





comments powered by Disqus