bisnis

Arab Saudi bisa raup lebih dari US$ 9 miliar dari VAT

Selama 2014-2017, Saudi mengalami defisit US$ 260 miliar.

04 Januari 2018 05:50

Hamud al-Harbi, proyek manajer VAT (pajak pertambahan nilai) di Otoritas Zakat dan Pajak Arab Saudi, memperkirakan negaranya bisa meraup pendapatan 35 miliar (US$ 9,35 miliar) dari VAT.

Saudi bareng Uni Emirat Arab (UEA) sejak 1 Januari tahun ini memberlakukan VAT sebesar lima persen atas beragam produk dan jasa. Penerapan VAT ini merupakan kesepakatan dari GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) beranggotakan Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman. 

Harbi bilang pendapatan dari VAT itu bakal dipakai untuk membangun infrastruktur dan proyek lainnya.

Ini pertama kali Saudi memberlakukan VAT. Kebijakan itu merupakan bagian dari upaya negara Kabah tersebut untuk mengatasi defisit, akibat anjloknya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014.

Saudi bulan lalu menyatakan defisit selama 2014-2017 senilai US$ 260 miliar. Riyadh menyebutkan baru akan mengalami surplus lagi pada 2023. 

 

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih. (Gulf Business)

Saudi akan kurangi produksi minyak jadi 9,8 juta barel bulan depan

Saudi akan menciptakan bisnis gas secara global.

Sejumlah pekerja membersihkan pelataran Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Biaya haji tahun ini Rp 35,2 juta

Sama dengan ongkos haji tahun lalu.

Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (visitabudhabi.ae)

Perusahaan UEA beli tiga ton emas dari Venezuela

Pembelian itu dilakukan pada 21 Januari lalu.

Mata uang riyal Arab Saudi. (Arab News)

Bank sentral Saudi dan UEA akan bikin mata uang digital bersama

Mata uang digital diberi nama Abir itu rencananya keluar pada kuartal terakhir tahun ini.





comments powered by Disqus