bisnis

Kuwait prediksi alami defisit hampir US$ 17 miliar tahun depan

Anggaran itu disusun dengan asumsi harga minyak mentah dunia US$ 50 barel per hari.

30 Januari 2018 18:21

Kabinet Kuwait kemarin menyetujui rencana anggaran untuk tahun fiskal 2018-2019, dimulai pada 1 April 2018 hingga 31 Maret 2019, dengan proyeksi defisit sebesar US$ 16,7 miliar. Ini merupakan defisit tahun keemat berurutan sejak harga minyak mentah global anjlok pada pertengahan 2014.

Dalam jumpa pers, Menteri Keuangan Nayif al-Hajraf menjelaskan anggaran itu disusun dengan asumsi harga minyak mentah dunia US$ 50 barel per hari. Dia menambahkan pemerintah akan memakai cadangan devisa serta mencari pinjaman domestik serta luar negeri untuk menutup defisit itu.  

Menurut Hajraf, dalam anggaran tahun depan itu pemerintah memperkirakan bisa meraup pendapatan US$ 50 miliar, termasuk dari penjualan minyak sebesar US$ 44,3 miliar dengan produksi 2,8 juta barel per hari. Sedangkan belanja diprediksi mencapai US$ 66,7 miliar.  

Dia mengungkapkan gaji pegawai negeri dan subsidi bakal menghabiskan 73 persen dari total anggaran. Hanya 18 persen akan dialokasikan untuk proyek pembangunan.

Namun rencana anggaran  itu masih ahrus disahkan oleh parlemen. Hajraf mengatakan Kuwait tidak akan menerapkan VAT (pajak pertambahan nilai) dan jenis pajak lainnya tanpa persetujuan parlemen.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Utang pemerintah Saudi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3.430 triliun

Jadwa Investment Company memprediksi Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar Rp 1.805 triliun atau 15,7 persen dari produk domestik brutonya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Penurunan cadangan devisa Saudi tercepat dalam 19 tahun

Saudi memproyeksikan defisit US$ 50 miliar tahun ini atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

Arab Saudi proyeksikan defisit Rp 699 triliun pada 2020

"Privatisasi adalah prioritas utama pemerintah," ujar Muhammad al-Jadaan.





comments powered by Disqus