bisnis

Arab Saudi defisit Rp 125 triliun di kuartal kedua tahun ini

Ketimbang periode serupa tahun lalu, pengeluaran di kuartal kedua tahun ini naik lima persen, dengan 27 persen kenaikan di belanja modal dan 71 persen untuk subsidi.

30 Juli 2019 22:52

Arab Saudi mengalami defisit 33,5 miliar riyal atau kini setara Rp 125,3 triliun di kuartal kedua tahun ini.

Angka defisit itu lebih tinggi ketimbang periode serupa tahun lalu sebesar 7,4 miliar riyal (Rp 27,7 triliun), seperti dilansir Kementerian Keuangan Arab Saudi melalui keterangan tertulis hari ini.

Pendapatan dari minyak di kuartal kedua tahun ini anjlok lima persen dan pendapatan dari sektor non-minyak turun empat persen, namun penerimaan negara dari pajak melonjak signifikan.

Ketimbang periode serupa tahun lalu, pengeluaran di kuartal kedua tahun ini naik lima persen, dengan 27 persen kenaikan di belanja modal dan 71 persen untuk subsidi.

Arab Saudi mengalami defisit sejak harga minyak mentah global melorot pada 2014. IMF pernah memprediksi negara Kabah ini bakal alami defisit hingga 2023.

Untuk mengatasi defisit, Arab Saudi sudah mengambil beragam kebijakan, termasuk mencabut subsidi energi, air, privatisasi, dan penerapan beragam pajak sebagai alternatif pendapatan di luar minyak.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Utang pemerintah Saudi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3.430 triliun

Jadwa Investment Company memprediksi Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar Rp 1.805 triliun atau 15,7 persen dari produk domestik brutonya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Penurunan cadangan devisa Saudi tercepat dalam 19 tahun

Saudi memproyeksikan defisit US$ 50 miliar tahun ini atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.





comments powered by Disqus