bisnis

Chevron beli perusahaan pengelola ladang gas di Israel senilai Rp 73,7 triliun

Menurut Chevron, pembelian Noble Energy berpotensi menghemat pengeluaran tahunan sebesar US$ 300 juta.

21 Juli 2020 02:10

Chevron, perusahaan minyak dan gas terbesar keenam di dunia, kemarin mengumumkan telah mencapai kesepakatan untuk membeli Noble Energy, perusahaan pengelola ladang gas Leviathan dan Tamar di Israel, bermitra dengan perusahaan setempat, Derek Drilling, perusahaan setempat

Harga disetujui senilai US$ 5 miliar (kini setara (Rp 73,7 triliun). Kesepakatan ini akan menjadikan nilai Noble Energy, perusahaan berkantor pusat di texas, Amerika Serikat, sebesar US$ 13 miliar termasuk utang. Pembelian ini menjadi kesepakatan terbesar di sektor energi sejak pandemi virus corona Covid-19 terjadi Maret lalu.

Gegara kelesuan ekonomi dan enjloknya permintaan minyak dan gas, harga per lembar saham Noble Enerrgy melorot 60 persen, sehingga kapitalisasi Noble Energy di Bursa Saham Nasdaq juga turun menjadi US$ 4,5 miliar dari US$ 20 miliar pada 2015.

"Masuknya Chevrn ke Israel akan mengubah peta. Ini berita fantastis untuk industri gas di Israel," kata seorang sumber di industri energi menolak ditulisidentitasnya. "Chevron adalah perusahaan global dapat dengan mudah menangani proyek-proyek raksasa."

Menjadi pertanyaan, lanjut sumber itu, adalah bagaimana reaksi negara-negara Arab mengenai kesepakatan Chevron dengan Noble Energy. Tapi dia meyakini tidak akan ada boikot lantaran para investor Arab juga terlibat bisnis energi dengan Israel.

Chevron menekankan pembelian semua saham Noble Energy itu sangat menguntungkan. Ini akan memperkuat posisi perusahaan minyak dan gas dari Amerika itu di timur Mediterania.

Apalagi Noble Energy juga memiliki konsesi ladang minyak dan gas di Siprus. Bulan lalu, Noble Energy juga diberi mandat buat mengeksplorasi dua ladang minyak di lepas pantai Mesir.

Pendapatan Chevron tahun lalu sebesar US$ 140 miliar dan kapitalisasi pasarnya di Bursa Saham New York lebih dari US$ 160 miliar. Kegiatan bisnis Chevron mulai dari eksplorasi hingga kilang, penjualan ritel, dan petrokimia.

Chevron beroperasi di lebih dari 180 negara, termasuk Zona Partisi antara Arab saudi dan Kuwait, serta di Kurdistan, Irak.

Di kuartal pertama tahun ini, Noble Energy rugi US$ 4 miliar karena pandemi Covid-19 atau US$ 10 milar jika digabung dengan nilai kerugian sejak 2015. Noble Energy juga telah memotong belanja modal menjadi lebih dari setengah, antara US$ 750 juta sampaiUS$ 850 juta.

Menurut Chevron, pembelian Noble Energy berpotensi menghemat pengeluaran tahunan sebesar US$ 300 juta.

Dr. Nirit Ofir, Direktur Jenderal Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Israel-GCC. (Screenshot Zoom/Albalad.co)

Hubungan bisnis Saudi-Israel sudah berlangsung selama dua dasawarsa

UEA bisa menjadi jembatan bagi hubungan Israel dengan Saudi dan Indonesia.

Yordania menandatangani perjanjian pembelian air tambahan dari Israel sebanyak 50 juta meter kubik pada 12 Oktober 2021 di Ibu Kota Amman, Yordania. (Rafi Ben Hakun/GPO)

Yordania beli tambahan air sebanyak 50 juta meter kubik dari Israel

Sesuai kesepakatan, Israel tahun ini akan memasok seratus juta meter kubik air ke Yordania seharga US$ 65 sen per meter kubik.

Menteri Dalam Negeri Israel mengunjungi Masjid Syekh Zayid di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 5 Oktober 2021. (Twitter)

Perjanjian bebas visa antara UEA dan Israel berlaku mulai 10 Oktober

UEA dan Israel meneken perjanjian bebas visa Januari tahun ini.

Para pejabat Saudi Aramco dan Tadawul (Bursa Saham Saudi) meluncurkan IPO Aramco di Tadawul di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 11 Desember 2019. (Saudi Gazette)

Saudi akan rampungkan proyek penambahan kapasitas produksi satu juta barel pada 2027

Aramco berencana memperluas bisnis perdagangan minyaknya menjadi delapan juta barel tiap hari dalam lima tahun mendatang.





comments powered by Disqus