bisnis

Defisit enam negara Arab Teluk tahun ini bisa tembus Rp 2.648 triliun

Utang pemerintah keenam negara Arab Teluk itu sampai 2023 diperkirakan sebesar Rp 4.559,5 triliun.

03 Agustus 2020 14:16

Standard & Poor's memperkirakan defisit enam negara Arab Teluk tergabung dalam organisadi GCC (Dewan Kerjasama Teluk) - Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - tahun ini menembus US$ 180 miliar (kini setara Rp 2.648,3 triliun) lantaran anjlok harga minyak mentah global dan dampak ekonomi akibat pandemi virus corona Covid-19.

Lembaga pemeringkatan internasional itu memprediksi defisit dialami keenam negara Arab Teluk ini akan berlangsung hingga 2023. Secara kumulatif defisit keenam negara Arab Teluk itu pada 2020-2023 sebesar US$ 490 miliar (Rp 7.206,9 triliun). Sekitar 55 persen dari nilai defisit US$ 490 miliar itu disumbang oleh Arab Saudi, merupakan perekonomian terbesar di kawasan Arab Teluk, disusul Kuwait (17 persen), dan UEA (11 persen).

Utang pemerintah rata-rata keenam negara Arab Teluk itu tahun ini diperkirakan sebesar 18 persen dari produk domestik bruto (PDB), meningkat tajam ketimbang tahun lalu senilai lima persen dari PDB.

Dari segi persentase terhadap PDB, defisit tertinggi tahun ini akan diderita Kuwait, yakni 39 persen, kemudian Oman (17 persen), Arab saudi (15 persen), UEA (13 persen), Bahrain (12 persen), dan Qatar (10 persen).

Buat menutupi defisit, selama 2016 dan 2017 keenam negara Arab Teluk itu menjual surat utang negara di pasar domestik dan internasional dengan total nilai US$ 90 miliar. "Kami memperkirakan rekor baru sekitar US$ 100 miliar (Rp 1.470,8 triliun) pada 2020. Kemudian penerbitan obligasi pemerintah itu akan cenderung turun ke angka US$ 70 miliar (Rp 1.029,6 triliun) hingga 2023," kata Standard & Poor's.

Alhasil, utang pemerintah keenam negara Arab Teluk itu sampai 2023 diperkirakan sebesar US$ 310 miliar (Rp 4.559,5 triliun).

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Utang pemerintah Saudi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 3.430 triliun

Jadwa Investment Company memprediksi Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar Rp 1.805 triliun atau 15,7 persen dari produk domestik brutonya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Penurunan cadangan devisa Saudi tercepat dalam 19 tahun

Saudi memproyeksikan defisit US$ 50 miliar tahun ini atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.





comments powered by Disqus