bisnis

Penurunan cadangan devisa Saudi tercepat dalam 19 tahun

Saudi memproyeksikan defisit US$ 50 miliar tahun ini atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.

29 April 2020 23:11

Penurunan cadangan devisa Arab Saudi bulan lalu menjadi tercepat dalam 19 tahun belakangan, menyebabkan jumlahnya menjadi terendah sejak 2011. Di saat sama, negara Kabah itu mengalami defisit US$ 9 miliar lantaran harga minyak mentah global ambruk.

Bank sentral Arab Saudi, the Saudi Arabian Monetary Authority (SAMA), Selalu lalu menyebutkan cadangan devisanya anjlok hampir US$ 27 miliar bulan lalu menjadi US$ 464 miliar.

"Kami meyakini penurunan cadangan devisa tercepat itu hasil dari belanja pemerintah buat menutupi defisit anggaran dan paket stimulus pada Maret untuk menangani dampak dari wabah virus corona Covid-19," kata Monica Malik, kepala ahli ekonomi di Abu Dhabi Commercial Bank (ADCB).

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan pekan lalu bilang pemerintah akan membatasi penggunaan cadangan devisa maksimum US$ 32 miliar tahun ini buat mengurangi defisit dan membiayai utang meningkat hampir US$ 60 miliar.

Kementerian Keuangan Arab Saudi kemarin mengatakan negara Kabah itu mencatat defisit US$ 9 miliar di kuartal pertama tahun ini gegara menurunnya pendapatan dari minyak, kebalikan dari surplus US$ 7,4 miliar pada kuartal pertama tahun lalu.

Pendapatan dari minyak di kuartal pertama tahun ini sebesar US$ 34 miliar, melorot 24 persen dibanding periode serupa tahun lalu. Alhasil total pendapatan Saudi di periode ini turun 22 persen daripada pendapatan di kuartal perdana tahun lalu.

Arab Saudi, negara dengan perekonomian terbesar di Timur Tengah, telah memproyeksikan defisit tahun ini sebanyak US$ 50 miliar atau 6,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu sebesar US$ 35 miliar.

Al-Jadaan mengatakan defisit tahun ini bisa saja melonjak menjadi sembilan persen dari PDB, namun beberapa analis memprediksi angkanya dapat mencapai 22 persen dari PDB dengan harga minyak di angka US$ 30 per barel.

Harga minyak mentah global terjun dua pertiga dibanding awal tahun ini dan sekarang senilai US$ 21 sebarel.

"Kalau rencana Menteri Keuangan menarik maksimum US$ 32 miliar dari cadangan devisa untuk tahun ini, setelah penurunan US$ 27 miliar di Maret saja, berarti hampir semua sektor akan dibiayai melalui penerbitan surat utang baru, dengan asumsi tidak ada lagi privatisasi karena kondisi pasar saat ini," ujar Hasnain Malik, kepala strategi ekuitas di Tellimer.

Arab Saudi bulan lalu menaikkan plafon utang dari 30 persen menjadi 50 persen dari PDB. Riyadh tahun ini sudah menerbitkan obligasi internasional sebesar US$ 12 miliar.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi alami defisit Rp 160 triliun di kuartal ketiga 2020

Secara keseluruhan, pendapatan Saudi dari bidang di luar minyak meroket hingga 63 persen ketimbang tahun lalu.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi proyeksikan defisit tahun ini sebesar 12 persen

Negara Kabah itu memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini akan minus 3,8 persen, lebih optimistis ketimbang taksiran IMF, yakni minus 6,8 persen.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.





comments powered by Disqus