bisnis

Chairman Emirates bilang perlu 18 bulan bagi industri penerbangan kembali normal

Dalam tahun fiskal berakhir Maret lalu, Emirates meraup laba bersih US$ 288 juta, meningkat dari 237 juta di tahun sebelumnya.

10 Mei 2020 12:57

Chairman Emirates Group Syekh Ahmad bin Said al-Maktum mengakui perlu paling tidak 18 bulan supaya industri penerbangan kembali normal sehabis terjadinya pandemi virus corna Covid-19.

Dalam tahun fiskal berakhir Maret lalu, maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab ini meraup laba bersih US$ 288 juta (kini setara Rp 4,3 triliun), meningkat 237 juta di tahun sebelumnya.

Itu merupakan laba ke-32 tahun berurutan bagi perusahaan penerbangan terbesar di Timur Tengah ini. Emirates 115 Airbus A-380 dan 155 Boeing 777.

Al-Maktum bilang tingkat okupansi Emirates sangat bagus di sebelas bulan dari tahun fiskal kemarin. "Namun sejak pertengahan Februari terjadi perubahan cepat lantaran pandemi Covid-19 menyapu dunia," katanya.

Keuntungan diperoleh Emirates dipicu oleh turunnya harga minyak mentah global, sehingga pengeluaran buat avtur melorot 15 persen ke angka US$ 7,2 miliar, sekitar 31 persen dari total biaya operasional Emirates.

Pendapatan tahunan Emirates juga anjlok enam persen menjadi US$ 25 miliar.

Selama tahun fiskal kemarin, Emirates mengangkut 56 juta penumpang atau turun empat persen ketimbang tahun sebelumnya. Jumlah kargo dibawa juga melorot sepuluh persen ke angka 2,4 juta ton.

Pesawat milik maskapai Emirates Airline. (Twitter/@emirates)

Emirates Airline rugi Rp 78,7 triliun karena pandemi Covid-19

Sebelum pandemi Covid-19, Emirates Airline mempekerjakan 60.033 staf, termasuk 4.300 pilot dan hampir 22 ribu kru kabin. Sekarang jumlah karyawan Emirates melorot menjadi 40.801 orang.

Pesawat Emirates Airline. (Arabian Business)

Tolak layani rute Dubai-Tel Aviv, pilot Emirates Airline ditangguhkan

Emirates membuka rute Dubai-Tel Aviv bulan depan.

Deretan pesawat milik maskapai Emirates Airline di Bandar Udara Internasional Dubai di Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (@emirates/Twitter)

Emirates rugi Rp 48 triliun di semester pertama 2020

Maskapai asal Dubai ini mendapat suntikan dana dari pemerintah sebesar Rp 28,3 triliun.

Pesawat milik maskapai Emirates Airline di Bandar Udara Internasional Ratu Alia di Ibu Kota Amman, Yordania, 25 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Emirates tanggung biaya pengobatan bagi penumpangnya terinfeksi Covid-19

Sebelum muncul pandemi Covid-19 Maret lalu, Emirates - mulai beroperasi sejak Oktober 1985 - melayani 157 kota di 80 negara.





comments powered by Disqus