bisnis

WTO putuskan Arab Saudi curi hak siar televisi Qatar

WTO menjelaskan ada bukti lengkap menunjukkan pemerintah Saudi mendukung dan mempromosikan layanan ilegal diberikan oleh beoutQ, stasiun televisi berbayar dan berkantor di Ibu Kota Riyadh.

17 Juni 2020 08:49

WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) kemarin memutuskan pemerintah Arab Saudi mendalangi pencurian hak siar milik stasiun televisi olahraga BeIN Sports asal Qatar.

Dalam laporan setebal 125 halaman, WTO menjelaskan ada bukti lengkap menunjukkan pemerintah Saudi mendukung dan mempromosikan layanan ilegal diberikan oleh beoutQ, stasiun televisi berbayar dan berkantor di Ibu Kota Riyadh. Alhasil, WTO menyebutkan pemerintah Saudi melanggar kewajibannya untuk menaati aspek hak kekayaan intelektual dalam perdagangan internasional.

WTO mengungkapkan terdapat 294 acara menonton bareng pertandingan-pertandingan selama Piala Dunia 2018 di Rusia. Laga-laga itu disiarkan secara ilegal oleh beoutQ. Meski begitu, Saud al-Qahtani, salah satu orang kepercayaan dari Putera Mahkota Arab saudi pangeran Muhammad bin Salman, ikut mempromosikan acara menonton bareng Piala Dunia itu.

Sebagian besar saham stasiun televisi beoutQ, siaran melalui satelit Arabsat, dimiliki oleh pemerintah Saudi. Setelah ketahuan mencuri hak siar BeIn Sports, beoutQ tidak lagi beroperasi.

FIFA (Federasi Asosial Sepak Bola Internasional) mengatakan keputusan WTO itu memperlihatkan pemerintah Arab Saudi secara aktuif terlibat dan mendukung kegiatan pembajakan hak siar. "Rekomendasi panel WTO sangat jelas dan pembajakan hak siar adalah kegiatan melanggar hukum dan tidak dapat dibiarkan di berbagai tingkatan," kata FIFA melalui keterangan tertulis.

Pemerintah Arab Saudi berkali-kali membantah terlibat dalam operasi pembajakan hak siar pertandingan olahraga kepunyaan BeIN Sports. Kasus ini terkuak pertama kali pada 2017. Perkara ini kemudian dibawa oleh Qatar untuk disidangkan di WTO.

Perkara ini muncul di tengah permusuhan antara kedua negara setelah Arab saudi bareng Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan memblokade Qatar sejak 5 Juni 2017.

Pihak Liga Primer Inggris, FIFA, UEFA (Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa), La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman juga sudah meminta Arab Saudi menutup stasiun televisi beoutQ karena membajak hak siar tapi tidak dipedulikan.

WTO tidak menyinggung soal rencana Arab Saudi - melalui lembaga dana investasi negara Public Investment Fund (PIF) diketuai Bin Salman - membeli klub Liga Primer Inggris Newcastle United seharga 300 juta pound sterling (kini setara Rp 5,3 triliun). Namun CEO BeIN Sports Yusuf al-Ubaidli sudah menyurati chairman Liga Primer Inggris untuk tidak menyetujui rencana pengambilalihan Newcastle oleh Saudi.

BeIN Sports merupakan pemilik hak siar Liga Primer Inggris terbesar di Timur Tengah. Stasiun televisi kepunyaan pemerintah Qatar ini membayar 1,3 miliar pound sterling (Rp 23,2 triliun) untuk menyiarkan laga-laga Liga Primer sejak 2015.

BeIn Sport bilang akan mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan Liga Primer kalau Saudi jadi membeli Newcastle.

Logo stasiun televisi olahraga beIN Sports. (Arabian Business)

Arab Saudi akui curi hak siar milik televisi Qatar

Keputusan WTO itu merupakan cacat terburuk bagi negara Kabah itu selain masalah pelanggaran hak asasi manusia.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar larang penjualan produk asal empat negara pemboikot

Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir sejak 5 Juni tahun lalu memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Pesawat Qatar Airways. (Gulf Business)

Qatar Airways rugi sangat besar dalam tahun anggaran berjalan

Dalam tahun anggaran lalu, Qatar Airways meraup laba Rp 367,4 triliun.

Ibu Kota Doha, Qatar. (dohabus.com)

Dalam sebulan, 418 perusahaan di Qatar tutup

Angka itu setara dengan 14 persen dari total perusahaan baru terdaftar bulan ini.





comments powered by Disqus