buku

Menyusuri terowongan menembus Gaza

Setelah melintasi terowongan sepanjang 200 meter saya akhirnya tiba di Gaza.

20 Desember 2014 13:33

Dari gerbang perlintasan, saya bersama Muhammad dan Ismail menumpang omprengan menuju Kota Rafah. Jaraknya sekitar empat kilometer dari sana.

Kami lantas berhenti di sebuah simpang tiga. Untuk mengelabui penduduk sekitar dan patroli tentara perbatasan Mesir, saya bersama Muhammad berpisah dengan Ismail. Kami berdua memasuki lorong berpasir seperti jalanan lainnya di Rafah. Sedangkan Ismail berjalan lurus. Maklum, kota kecil ini terletak di Semenanjung Sinai. Rafah terbelah dua: satu masuk Mesir, sisanya menjadi bagian dari Jalur Gaza, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Kami berhenti di dekat lapangan. Suasana di sana sepi. Muhammad lantas menurunkan resleting celana jins birunya, berpura-pura ingin kencing. Saya diminta mengunyah makanan sudah dia siapkan dalam kantong plastik hitam: biskuit dan wafer. Setelah menyadari situasi aman, Muhammad menghubungi Ismail melalui telepon selulernya.

Kemudian kami berjalan keluar dari gang itu lalu belok kiri menuju masjid, sekitar 30 meter dari mulut lorong. “Kamu duduk di dalam,” kata Muhammad.

Kebetulan saat itu sejumlah jamaah baru keluar dari dalam masjid selepas melaksanakan salat zuhur. Saya sempat berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya. Buat menghindari kecurigaan, saya lantas mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Seperti biasa, pria bergamis dan berpeci serba putih itu tersenyum ketika mengetahui saya dari Indonesia dan beragama Islam.

Saya memutuskan mengambil wudu meski saya telah salat zuhur di musala dekat pos perbatasan. Belum selesai air membasuh dua kaki, Muhammad berteriak memanggil. Saya menghentikan wudu dan setengah berlari  segera ke arah pintu masjid. “Yallah Faisal (ayo Faisal).” Saya buru-buru mengenakan kaus kaki dan mengikat tali sepatu.

Sebuah Mercedes berwarna pasir gurun tiba-tiba sudah memutar di depan masjid. Ternyata Ismail sudah di dalam, duduk di samping sopir. Saya dan Muhammad lantas masuk lewat pintu belakang. Mobil pun melaju ke dalam gang di samping masjid. Saya kira masih jauh, ternyata cuma seratus meter.

Omprengan itu berhenti di depan rumah bercat biru muda. Kami masuk lewat samping. Setelah melewati satu pintu, kami masuk satu pintu lagi berwarna coklat. Di dalam sana, akhirnya saya benar-benar melihat mulut terowongan. Jantung saya sudah berdegup agak kencang sejak memutuskan masuk lewat terowongan kian bertambah kuat debarannya.

Terowongan di perbatasan Rafah sepanjang 14 kilometer bukan hal baru. Lorong-lorong bawah tanah ini sudah dibuat sejak 1982 ketika Kota Rafah dibagi dua sesuai hasil Perjanjian Camp David 1979 diteken oleh Mesir dan Israel.

Peran terowongan kian penting setelah Israel memblokade Gaza. Negara Zionis ini menutup semua perbatasan darat, laut, dan udara Gaza setelah Hamas berkuasa penuh di sana. Jumlahnya terus meningkat hingga pernah mencapai lebih dari seribu terowongan.  Jalur bawah tanah ini menjadi jalan keluar masuk orang, barang, fulus, hingga senjata buat Hamas.

Panjang terowongan bermacam-macam, dari 150 meter hingga hampir 1,7 kilometer. Makin pendek sebuah terowongan, kian mahal harga harus dibayar buat lewat. Kedalamannya juga tidak sama. Ukurannya pun bervariasi: ada yang hanya muat satu orang dan bahkan ada yang mampu dilewati kendaraan roda empat.

Terowongan-terowongan ini menjadi sumber pendapatan utama. Pekerja terowongan memperoleh upah US$ 15 saban meter panjang mereka gali. Tiap terowongan biasanya dikerjakan oleh sepuluh lelaki bergantian jadwal pagi dan malam. Juragan terowongan bisa kebanjiran fulus. Kalau lagi ramai, mereka dapat meraup hingga puluhan ribu dolar tiap pekan.

Pemerintah Hamas menerapkan sejumlah aturan soal terowongan. Untuk memperoleh izin mengoperasikan sebuah terowongan, pemilik mesti merogoh US$ 2.500, kata Samir Abu Mudallala, Presiden the College of Economy and Management Science di Universitas Al-Azhar, Kota Gaza.

Hamas juga mengenakan pajak bagi tiap barang masuk dan orang melintas. Menurut Abu Mudallala, seperlima dari sekitar US$ 1 miliar anggaran tahunan Hamas berasal dari bisnis jalur bawah tanah. Laporan lain menyebutkan Hamas untung US$ 750 juta dari terowongan. Biaya membangun satu terowongan antara US$ 25 ribu hingga US$ 250 ribu.

Pintu terowongan itu berada di ruangan terbuka, hanya dikelilingi tembok setinggi 12 batako dan ditutupi atap kayu serta pohon tut. Empat kursi plastik berwarna hijau sudah penuh oleh antrean warga ingin menyeberang ke Jalur Gaza. “Ahlan wa sahlan ya Faisal,” kata Muhammad Najar, pemilik terowongan, seraya memeluk sekaligus mencium kedua pipi saya seperti kebiasaan orang Arab.

Saya lantas disuruh menunggu sekitar sejam dengan alasan paspor saya harus dicap oleh pemerintah Hamas. Najar akhirnya mengantongi paspor saya masuk ke dalam lorong bawah tanah itu. Selama menanti, saya melihat sejumlah orang keluar masuk tanpa kelihatan cemas. Kebanyakan yang menggunakan terowongan adalah penduduk Rafah karena lebih mudah dan tidak ribet.

Selama itu pula saya mendengar raungan dua jet tempur dan satu helikopter Israel. Mereka memang giat mengawasi perbatasan lantaran meyakini masih banyak terowongan bisa digunakan Hamas buat menyelundupkan senjata dan amunisi.

Nyali mulai menciut, kebimbangan menyelimuti saya. Pikiran saya terbayang jauh ke orang tua, istri, dan putra saya. Apalagi terowongan itu cuma sedalam dua meter dan kanan kirinya hanya dilapisi papan. Sekali kena rudal, saya yakin bisa runtuh. “Berani nggak yah, apa mending batalin,” ujar suara hati.

Menurut Hamdi, penduduk sekitar biasa menyeberang lewat terowongan, lorong bawah tanah akan saya lewati dibangun sembilan tahun lalu. Artinya, jauh sebelum Israel memblokade Jalur Gaza pada pertengahan 2007. “Kamu nggak usah takut, aman kok,” kata lelaki berusia lebih dari setengah abad ini seolah memahami kecemasan saya. “Setahu saya, Anda orang Indonesia pertama masuk ke Gaza lewat terowongan.”

Giliran saya akhirnya datang juga. Saya masuk ditemani Najar dan pekerja terowongan bernama Umar. Kami menuruni lima anak tangga dari papan. Suasana dalam terowongan terang lantaran cahaya barisan lampu neon. Di beberapa bagian, dinding terowongan sudah dilapisi papan.

Tinggi terowongan sekitar 1,7 meter. Saya tidak harus merunduk dan lebarnya sekitar satu meter. Hanya cukup untuk satu orang dan tidak bisa berpapasan. Sebab itu, perjalanan diatur bergantian. Jika dari Rafah (Gaza) ada yang melintas, maka yang dari Rafah (Mesir) harus menunggu. Sepanjang perjalanan saya berdoa dalam hati agar jet tempur negara Zionis itu tidak mengebom permukaan tanah di atas terowongan sedang saya lewati.

Karena ini pengalaman berharga, saya akhirnya memutuskan merekam suasana dalam terowongan dan sempat menjepret satu kali. Sebenarnya ketika masih menunggu, saya ingin merekam suasana di luar terowongan, namun dilarang. Alasannya, sinyal dari kamera bisa tertangkap radar jet tempur Israel. Akibatnya sungguh fatal. Lokasi tempat saya berada bisa dibom.

Setelah berjalan lima menit menyusuri jalur sepanjang 200 meter itu, saya akhirnya tiba di tujuan. Seorang lelaki menyambut saya, sama seperti cara Najar. Saya pun sudah disediakan omprengan buat menuju Kota Gaza. Rupanya, terowongan itu berada di lokasi pembangunan rumah susun. Persisnya di bawah pondasi sebuah gedung. Setengah jam kemudian, saya tiba di Kota Gaza. Riangnya bukan kepalang karena untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di wilayah Palestina. Ingin rasanya bersujud syukur. Setidaknya sejumlah rekan tidak mungkin lagi meledek saya, “Dukung Palestina tapi nggak pernah ke sana.”

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR