buku

Berziarah ke Syekh Radwan

Nisan kubur pemimpin dan anggota Hamas diberi ornamen semacam daun padi berwarna hijau.

28 Februari 2015 07:45

Seperti biasa, pagi-pagi sekali ketika belum banyak orang memulai kegiatan di Kota Gaza, saya sudah duduk di meja makan restoran hotel tempat saya menginap. Untungnya, saya semeja dengan Muhammad, dokter relawan asal Ibu Kota Kairo, Mesir. Meski bertetangga, ayah tiga anak ini baru sekali mengunjungi Gaza. Dia datang sendirian tanpa melalui organisasi kemanusiaan. Dia lantas menawarkan tumpangan mobil ambulans ke pusat kota.

Tujuan saya pagi itu adalah ke kompleks pekuburan Syekh Radwan. Saya ingin menziarahi makam tiga pentolan Hamas, yakni Syekh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Rantisi, dan Said Muhammad Siyam. Saya pun diturunkan di sebuah simpang empat dekat kantor parlemen Hamas, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Setelah celingak-celinguk sebentar, saya akhirnya bertanya kepada seorang polisi berseragam serba biru sedang mengatur lalu lintas. Rupanya dia mau berbaik hati, meminta rekan polisi lainnya sedang lewat mengendarai motor untuk mengantarkan saya ke Syekh Radwan. Dia sempat mengingatkan saya agar meninggalkan pemakaman itu sebelum azan zuhur. “Biasanya jam-jam segitu ada pesawat intai Israel berpatroli,” katanya.

Syekh Radwan memang kerap menjadi sasaran gempuran udara negara Zionis. Sebanyak 35 makam di sana rusak terkena peluru kendali Israel saat agresi 2008-2009. Sejumlah helikopter Apache pada Sabtu malam, 17 April 2004, berhasil menembakkan dua rudal ke arah Subaru putih ditumpangi Rantisi sedang melintas di daerah itu. Pengganti Syekh Ahmad Yasin ini terbunuh bersama dua pengawalnya, Akram Nassar (35 tahun) dan Ahmad Jhura (32 tahun). Lima pejalan kaki cedera dalam serangan itu.

“Saya mendengar suara ledakan. Ledakan kecil, kurang dari dua detik disusul satu ledakan lagi,” ujar Rauhi Ghazal, 35 tahun, pemilik toko dekat lokasi serangan. Rantisi berhasil keluar dari mobil dan berlari menjauh sekitar 13 meter. Dia lantas jatuh dan tidak sadarkan diri. Tubuhnya berlumuran darah. Cairan merah ini terus mengalir dari kepala dan lehernya. Dia mengembuskan napas terakhir lima menit setelah tiba di ruang gawat darurat Rumah Sakit Syifa.

Ayah enam anak ini dilahirkan pada Oktober 1947 di Yibna, kota kecil di antara Al-Majdal (setelah direbut Israel berganti nama menjadi Ashkelon) dan Jaffa. Ketika berusia setengah tahun, dia bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke Jalur Gaza akibat perang 1948. Mereka menetap di Khan Yunis, kamp pengungsi terbesar kedua di Gaza dan saat itu masih di bawah pemerintahan Mesir.  Yibna pun berganti nama menjadi Yavneh.

Keluarga Rantisi benar-benar miskin. Bersama orang tua, delapan saudara lelaki, dan dua saudara perempuan, dia awalnya tinggal di sebuah tenda selama empat tahun. Kemudian pindah ke sebuah bangunan bekas sekolah dan akhirnya menetap di rumah bikinan UNRWA (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi Palestina). Dia bekerja sejak umur enam tahun buat membantu ayahnya. Seorang pamannya tewas saat Israel menggempur Khan Yunis dalam perang 1956, menyusul krisis Terusan Suez.

Ketika terpilih sebagai pemimpin Hamas menggantikan mendiang Syekh Ahmad Yasin, Rantisi sadar bakal menjadi sasaran pembunuhan Israel. Namun dia menolak bersembunyi. “Kematian karena dibunuh atau kanker sama saja,” ujar doktor bidang pediatrik (berhubungan dengan kesehatan anak) ini. Maut menjemput dia dalam perjalanan setelah diam-diam mengunjungi keluarganya.

Para pejabat Otoritas Palestina dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan mengutuk insiden itu. Perdana Menteri Ahmad Quraia menuding pembunuhan terhadap Rantisi atas dorongan langsung Amerika Serikat. Menteri Urusan Perundingan Saeb Erekat menyatakan tewasnya Rantisi tidak akan membuat Israel lebih damai.

Ratusan ribu orang, termasuk tokoh-tokoh politik tersohor Palestina, mengikuti prosesi pemakaman Rantisi dan dua pengawalnya. Jenazah pemimpin Hamas ini disalatkan di Masjid Agung Al-Umari sebelum dikubur. Para pelayat meneriakkan slogan menuntut balas dendam atas kematian Rantisi dan mengutuk agresi militer Israel terus berlanjut. Spanduk-spanduk dari pelbagai faksi juga muncul. Banyak tokoh Islam dan nasionalis Palestina hadir. “Israel akan menyesali hal ini. Pembalasan akan datang,” kata Ismail Haniyah.

Pemakaman simbolik juga dibuat untuk Rantisi di seantero Tepi Barat. Sejumlah pemimpin menyerukan mogok tiga hari memprotes kekejaman negara Bintang Daud itu. Semua toko, kampus, sekolah, dan kantor pemerintah tutup sebagai tanda berduka.

Saya memiliki kenangan istimewa mengenai Rantisi. Sehari sebelum dia terbunuh, saya menghubungi dia di kampus Fakultas Ilmu Gizi Universitas Islam Gaza. Saya meminta waktu untuk wawancara khusus. “Oke, nanti hubungi saya lagi. Maaf, saya terburu-buru harus segera mengajar,” kata Rantisi menutup pembicaraan. Saya tidak sempat meminta nomor telepon selulernya. Itulah saat pertama sekaligus terakhir saya berbicara dengan Rantisi.

Ketika mengunjungi kediaman Syekh Ahmad Yasin, saya melewati tempat tinggal keluarga Rantisi terletak di lantai dua bangunan flat. Saya juga pernah bertemu istrinya, Raisyah, ketika dia bersama Nadia (istri Wakil Ketua Biro Politik Hamas Musa Abu Marzuq) berkunjung ke Jakarta, pertengahan Maret 2009. Dia selalu bercadar dan berabaya hitam.

Saya akhirnya tiba di depan gerbang Syekh Radwan dibiarkan terbuka lebar. Temboknya setinggi  1,5 meter juga kelihatan tidak terurus. Ini merupakan satu-satunya pemakaman di Kota Gaza dan berada di sebuah bukit. Tembok mengelilingi kompleks Syekh Radwan berasal dari bebatuan bangunan kuno.

Ada banyak versi soal siapa sebenarnya Syekh Radwan. Menurut ilmuwan Nasrani, dia adalah Santo Petrus dari Iberia (411-491) dan makamnya disebut Biara Petrus.  Kaum muslim di Gaza meyakini wali bernama Radwan bin Raslan  ini adalah putra dari ulama tersohor Muhammad al-Batahi.  Syekh Radwan diperkirakan hidup pada abad ke-14.

Klaim lain menyebutkan Radwan saudara sedarah dengan Batahi dan Syekh Ijlin, keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab.  Sebelum dipindah ke Masjid Sayyid Hasyim, kubur Hasyim bin Abdul Manaf, buyut dari Nabi Muhammad, dipercaya berada di Syekh Radwan.

Suasana sangat sepi ketika itu, tidak ada orang buat bertanya. Saya juga bingung bagaimana saya bisa menemukan kubur ketiga pemimpin Hamas  di antara ratusan makam. Untung saja saat saya kebingungan, dari kejauhan muncul seorang lelaki remaja. Dia akhirnya menunjukkan saya posisi kubur Syekh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Rantisi, dan Said Siyam. Makam mereka tidak terurus, tulisan di nisan sudah mulai luntur.

Syekh Ahmad Yasin juga terbunuh lantaran serangan rudal helikopter tempur Israel sepulang salat subuh di masjid dekat rumahnya pada 22 Maret 2004. Insiden itu menewaskan pula sejumlah pengawalnya dan beberapa pejalan kaki. Abdul Ghani yang mendorong kursi roda ditumpangi Syekh Yasin ikut cedera. Dia merupakan  putra ketiga dari pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas itu.

Sedangkan Said Siyam meninggal dalam perang 22 hari empat tahun lalu. Dia menemui ajal ketika serangan udara Israel menggempur Kota Jabaliya. Dia menjadi tokoh Hamas paling senior terbunuh sejak kematian Rantisi.

Saya sering berhubungan lewat pesan pendek dengan almarhum. Kami memang belum pernah bertemu, namun dia selalu menyempatkan diri membalas pesan pendek di tengah kesibukannya. Saya mengenal dia ketika pemerintahan persatuan nasional antara Hamas dan Fatah bubar pada pertengahan Juni 2007. Dia menjabat menteri dalam negeri dalam kabinet dipimpin Perdana Menteri Ismail Haniyah, juga dari Hamas.

“Ana ba khair, alhamdulillah. Barakallah fiik wa aaliik, Said Siyam.” Itulah pesan pendek terakhir saya terima dari Said Siyam pada 26 Desember 2008, sehari sebelum Israel melancarkan agresi militer ke Jalur Gaza. Artinya: saya baik-baik saja, segala puji bagi Allah. Semoga Allah memberkahi Anda dan keluarga.

Kami saling mengucapkan selamat tahun baru Islam 1430 Hijriyah. Pesan itu dia tulis dalam huruf Arab dan dia memang selalu menulis dengan huruf macam itu. Barangkali dia membalas seperti itu lantaran saya selalu bertukar kabar dengan bahasa Arab meski dengan tulisan Latin seperti di atas. Biasanya telepon seluler untuk kawasan Timur Tengah dilengkapi dua macam huruf, Arab dan Latin.

Kubur ketiga pemimpin dan anggota Hamas memiliki ciri khusus buat membedakan dengan makam warga Gaza lainnya. Selain nama, tanggal lahir, dan waktu kematian, nisan mereka diberi ornamen semacam daun padi berwarna hijau.

Setelah membacakan surat Al-Fatihah buat arwah ketiga pemimpin Hamas itu, saya bergegas meninggalkan Syekh Radwan.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Seorang perempuan melewati poster Syekh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) dan Yasir Arafat (pendiri Fatah) di sebuah jalan di Kota Gaza. Kedua faksi ini masih berseteru. (www.haaretz.com)

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR