buku

Bertamu ke rumah Syekh Ahmad Yasin

Syekh Yasin tewas dihantam peluru kendali Israel di depan masjid sehabis salat subuh.

07 Maret 2015 10:44

Senin subuh, 22 Maret  2004, sekitar pukul 5:20. Langit masih gelap. Suara beberapa jet tempur F-16 Israel memecah keheningan di sekitar tempat tinggal pemimpin spiritual Hamas Syekh Ahmad Ismail Hasan Yasin, Distrik Sabra, Kota Gaza. Kali ini bukan sekadar patroli rutin, namun misi mereka adalah membunuh salah satu pendiri organisasi antinegara Zionis itu.

Kebetulan sasaran baru mau keluar setelah salat subuh berjamaah di Masjid Al-Mujamma al-Islami, sekitar 20 meter dari kediamannya. Sebuah Apache AH-64 menyusul di belakang. Pilot helikopter tempur inilah menjadi eksekutor. Saat dinanti itu tiba. Seorang pengawal bertugas mendorong kursi roda ditumpangi Syekh Yasin berjalan perlahan menuruni tangga masjid diikuti sejumlah jamaah, termasuk dua putra Syekh Yasin, Abdul Ghani (29 tahun) dan Abdul Hamid (33 tahun), seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Tiga peluru kendali Hellfire ditembakkan ketika Syekh Yasin menyeberang jalan. Insiden itu menewaskan Syekh Yasin dan tujuh orang lainnya, termasuk tiga pengawal: Rabi Abdul Hai Abdul Aal (18 tahun), Ayub Ahmad Atallah (26 tahun), Khalil Abdul Ilah Abu Jayab (30 tahun). Sedangkan Abdul Ghani, Abdul Hamid, dan 15 orang lainnya cedera. “Saya terpental di sana,” kata Abdul Ghani seraya menunjuk ke arah trotoar samping masjid.

Putra ketiga Syekh Yasin ini menggulung lengan kiri gamis putihnya buat menunjukkan bekas luka. “Syekh Yasin terkena hantaman rudal di sini,” ujar Abdul Ghani memberitahukan lokasi persis dia bersama Syekh Yasin, tidak jauh dari mulut gang kediamannya.

Pemilik toko grosir di seberang masjid, Usamah Abdilal, mengaku sehari sebelumnya mendengar sejumlah pesawat intai tanpa awak terbang di sekitar kediaman Syekh Yasin. “Dia sasaran mudah. Dia pergi ke masjid saban hari di waktu yang sama,” tuturnya. Syekh Yasin terbunuh dengan kepala pecah dan tubuh terpotong tiga.

Namun militer Israel malah menyebar informasi sesat. Serangan udara itu menghantam mobil ditumpangi Syekh Yasin bersama pengawalnya dalam perjalanan di utara Jalur Gaza. “Yasin bertanggung jawab atas serangkaian serangan teror menewaskan warga sipil Israel dan orang asing,” ujar seorang juru bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel).

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan bersama Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengutuk pembunuhan itu.  Namun Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi kecaman lantaran veto dari Amerika Serikat.

Otoritas Palestina mengumumkan tiga hari berkabung. Hamas menyatakan dengan tewasnya Syekh Yasin berarti Perdana Menteri Ariel Sharon telah membuka pintu neraka bagi negaranya. “Inilah saat diimpikan Syekh Yasin,” ujar Ismail Haniyah, kini menjabat perdana menteri setelah Hamas menang pada pemilihan umum Januari 2006. Sekitar 200 ribu rakyat Palestina mengantar jenazah Syekh Yasin ke pemakaman Syekh Radwan.

Abdul Aziz Rantisi, kemudian ditunjuk sebagai pemimpin Hamas, menegaskan dalam upacara penguburan Syekh Yasin, keamanan Israel tidak akan terjamin. “Kami akan melawan mereka sampai seluruh wilayah Palestina bebas,” katanya. Dia memberi kesempatan bagi Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas) melancarkan serangan balasan. “Pintu telah dibuka bagi kalian buat menyerang semua tempat (di Israel) kapan saja dengan segala cara.” Rantisi menyusul Syekh Yasin sebulan kemudian, juga akibat serangan udara negara Zionis.

Akhir Agustus 2004, bom bunuh diri meledakkan dua bus Israel di Kota Beersheba. Sedikitnya 15 orang terbunuh dan 80 lainnya cedera. Hamas menyatakan serangan itu balasan atas kematian Syekh Yasin dan Rantisi. Sebanyak 20 ribu orang turun ke jalan di Gaza merayakan insiden itu.

Syekh Yasin memang pantas menjadi sasaran nomor wahid negara Zionis lantaran pengaruhnya begitu kental dalam Hamas. Dia termasuk salah satu pendiri organisasi itu di Jalur Gaza pada 1987 saat intifadah pertama meletup. Dia menolak berdamai dengan Israel dan menyerukan perlawanan bersenjata terhadap negara Yahudi itu.

Ariel Sharon pernah bilang Syekh Yasin merupakan dalang teror dan pembunuh massal. Menteri Pertahanan Shaul Mofaz menyebut dia Bin Ladin dari Palestina. Nama ini merujuk pada Usamah Bin Ladin, pendiri jaringan Al-Qaidah. Menurut Washington, lelaki keturunan Yaman ini tewas dalam serbuan pasukan elite Angkatan Laut Amerika SEAL awal Mei 2011 di Kota Abbottabad, Pakistan. Tapi hingga kini foto mayatnya belum pernah dipublikasikan.

Syekh Yasin mengatakan Palestina adalah tanah Islam ditahbiskan bagi generasi muslim masa depan hingga datang kiamat dan tidak ada satu pemimpin Arab pun berhak menyerahkan wilayah itu. Bagi dia, Zionis dan Yahudi sama saja. “Rekonsiliasi dengan Yahudi sebuah kejahatan,” Syekh Yasin menegaskan dalam sebuah kesempatan.

Ketimbang mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Syekh Yasin lebih dulu menyatakan Israel harus dihapus dari peta. Ahmadinejad mengeluarkan komentar serupa tidak lama setelah terpilih buat periode pertama pada 2005. Ucapan Syekh Yasin paling tersohor dan seolah menjadi mantra penyemangat bagi rakyat Palestina adalah, “Kita memilih jalan ini (melawan Israel dengan senjata) dan akan berakhir syahid atau kemenangan.”

Lelaki kelahiran Desa Al-Jura, Kota Al-Majdal, ini baru berusia sepuluh tahun saat keluarganya mengungsi ke Gaza setelah Israel berdiri pada 1948. Pengusiran besar-besaran sekitar 700 ribu warga Palestina dari wilayah kini dikuasai Israel disebut An-Nakbah. Negara Bintang Daud ini juga mencaplok Al-Majdal dan mengganti nama kota itu menjadi Ashkelon.

Dalam paspor Palestinanya, tertulis Syekh Yasin dilahirkan pada 1 Januari 1937, namun dia mengklaim baru dilahirkan setahun kemudian. Ayahnya, Abdullah Yasin, wafat saat dia berusia tiga tahun. Karena anak-anak bapaknya juga memakai nama belakang Yasin, buat membedakan dia dipanggil Ahmad Saada, mengikuti nama ibunya, Saada al-Habil. Syekh Yasin memiliki empat saudara kandung lelaki dan dua perempuan.

Ayah sebelas anak dari pernikahannya dengan Halimah ini menderita lumpuh sejak umur 12 tahun akibat cedera tulang belakang setelah bergulat di pantai dengan temannya, Abdullah al-Khatib. Lehernya terpaksa diperban 45 hari. Mata kanannya buta akibat siksaan saat diinterogasi. Penglihatan mata kirinya juga tidak tajam. Namun cacat itu tidak menghalangi dia melawan penjajahan Israel.

Sebelum Hamas terbentuk, Syekh Yasin bekerja sebagai guru bahasa Arab dan menjadi penceramah berkeliling masjid di seantero Gaza. Dia menjadi salah satu ulama paling tersohor karena berani mengutuk pendudukan Israel terhadap Gaza setelah Perang Enam Hari, Juni 1967.

Dua kali ditangkap, dua kali pula dia dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan. Terakhir, Israel membekuk Syekh Yasin pada 1989 dengan tuduhan menculik dan membunuh dua serdadu Israel. Dia divonis penjara seumur hidup. Delapan tahun kemudian dia dilepaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan dengan dua agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Dua mata-mata ini ditangkap setelah ketahuan meracuni Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal di Ibu Kota Amman, Yordania.

Pada 6 September 2003, sebuah jet tempur F-16 Israel menembakkan sejumlah peluru kendali ke arah sebuah bangunan di Kota Gaza. Siang itu, pimpinan Hamas, termasuk Syekh Yasin, Ismail Haniyah, dan Muhammad Daif (anggota senior Brigade Izzudin al-Qassam), sedang rapat di kediaman Dr. Marwan Abu Ras. Semua peserta pertemuan langsung keluar menyelamatkan diri setelah mendengar suara jet tempur Israel mendekat. Syekh Yasin luka ringan di bahu kanan terkena pecahan bom dan sempat dirawat di Rumah Sakit Syifa.

“Waktu bakal menunjukkan kebijakan membunuh tidak akan menamatkan Hamas. Para pemimpin Hamas ingin menjadi syuhada dan tidak takut mati,” kata Abdul Ghani mengutip pernyataan mendiang ayahnya itu.

Tidak sulit mencari kediaman Syekh Yasin. Hampir semua warga Gaza, termasuk Suhail, sopir taksi langganan saya, tahu di mana lokasi persis rumah ikon Hamas ini. Rumah berlantai dua ini berada dalam sebuah gang seukuran satu mobil. Letaknya di belakang rumah pinggir jalan. Cucunya, Ahmad Yasin, mengarahkan telunjuknya saat ditanya.

Rumah mendiang Syekh Yasin kini dihuni Abdul Ghani sekeluarga. Di dinding ruang tamu tergantung foto-foto Syekh Yasin dengan sejumlah tokoh, seperti bersama Khalid Misyaal muda. Keluarga juga masih menjaga jubah coklat bergambar wajah almarhum dipakai saat ajal menjemput. Terdapat satu lubang cukup besar dan bercak warna hitam bekas terbakar. Jubah ini dihamparkan di atas kursi roda pernah dipakai Syekh Yasin semasa hidup.

Masuk lebih ke dalam terdapat kamar tidur Syekh Yasin. Ruangan bercat kuning gading ini dilengkapi jendela berjeruji besi. Debu berwarna putih terlihat menempel di kayu ranjang dan dua meja kecil berwarna coklat. Di atas ranjang terdapat sebuah bingkai bergambar kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur dan deretan tulisan Asmaul Husna. Di sisi kiri bagian kepala ranjang ada plakat Hamas. Kamar ini dilapisi ubin berwarna hijau campur merah.

Di sebelah kamar tidur terdapat ruang kerja Syekh Yasin. Debu menempel di beberapa bagian, termasuk di atas meja komputer. Dua lemari buku dan ranjang besi juga ada di dalam sana. Hampir di setiap sisi rumah terdapat foto Syekh Yasin, termasuk di lantai dua. Di sini terdapat poster Syekh Yasin berukuran sangat besar dengan latar putih. “Syekh Yasin sering menggelar pertemuan di lantai dua ini,” ujar Abdul Ghani.  Di ruangan berukuran 3x5 meter ini terdapat meja persegi panjang dan lemari buku.

Di lokasi terbunuh ayahnya itu, Abdul Ghani melepas kepergian saya. “Dia bakal melanjutkan perjuangan kakeknya,” ujar Abdul Ghani seraya menunjuk ke arah Ahmad Yasin sedang bermain bersama dua temannya. Cucu Syekh Yasin ini tersenyum seolah ingin menegaskan dia memang sang penerus.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Seorang perempuan melewati poster Syekh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) dan Yasir Arafat (pendiri Fatah) di sebuah jalan di Kota Gaza. Kedua faksi ini masih berseteru. (www.haaretz.com)

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Cekcok Pangeran Mansur di klub malam Oscar's

Pangeran Mansur bin Saud bin Abdul Aziz menjadi beringas lantaran menenggak minuman beralkohol terlalu banyak.

26 Mei 2018

TERSOHOR