buku

Melongok kediaman pentolan Hamas

Tidak sembarang orang bisa bertamu ke rumah Mahmud Zahar, pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Gaza.

14 Maret 2015 07:07

Telepon seluler saya berdering saat sedang menziarahi makam Sayyid Hasyim pada Rabu, akhir Oktober 2012. Panggilan itu rupanya dari salah satu pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas Mahmud Zahar.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

“Faisal, kamu sedang di mana?”

“Saya sedang berziarah ke makam Sayyid Hasyim.”

“Kamu bisa ke rumah saya sekarang?”

“Oke, saya ke sana sekarang.”

Kubur buyut dari Nabi Muhammad itu berlokasi di Masjid Sayyid Hasyim di Kota Gaza. Masjid ini berbentuk segi empat dengan pelataran di tengah. Pusara Sayyid Hasyim berada dalam sebuah ruangan seluas sembilan meter persegi di salah satu pojok masjid. Kubur ini berlapis keramik dan ditutup kain berwarna hijau, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Ruangan ini seperti tidak terurus. Debu dan kotoran menghitamkan dua telapak kaki ketika saya masuk. Tumpukan karpet berjejalan di sudut ruangan. Seperti biasa, saban mengunjungi pusara ulama atau wali Allah, saya hanya membacakan Al-Fatihah buat ruh penghuni kubur. Telepon dari Zahar tiba selepas saya selesai membaca surat pembuka dalam Alquran itu.

Terus terang, saya sangat bangga sekaligus senang mendapat undangan dari Zahar. Sebelum saya ke Gaza, dia memang sudah bilang saya bebas datang ke rumahnya kapan saja. Memang tidak sembarang orang  bisa pergi ke kediamannya, Yang datang harus jelas siapa, dari organisasi dan negara mana. Agenda untuk bertemu dia juga harus diatur lewat Kementerian Luar Negeri.

Saya bisa seakrab itu lantaran sudah lebih dari enam tahun bersahabat dengan Zahar. Selama itu pula, kami berkomunikasi lewat pesan pendek atau berbincang melalui telepon. Suara saya pun sudah akrab di telinganya. Jadi saya tidak harus memperkenalkan diri lagi selepas mengucapkan salam. Ini pertemuan kedua setelah sebelumnya kami berjumpa di Jakarta ketika dia datang sebagai menteri luar negeri Palestina.

Para pengawal khususnya pun terkejut mengetahui betapa saya sungguh dekat dengan dia. Setidaknya, selalu ada tiga pengawal bersafari mendampingi Zahar 24 jam.

Saya bergegas memenuhi undangan Zahar itu. Ternyata tidak semua warga Gaza mengetahui di mana tempat tinggal Zahar. Sopir taksi bernama Suhail mengantarkan saya sempat bertanya berkali-kali sebelum akhirnya tiba di lokasi. Seorang pengawal bersafari hitam memastikan dulu kepada Zahar sebelum saya dibolehkan masuk ke dalam rumah.

Zahar bergamis putih transparan - kaus dalamnya berwarna putih terbayang - tersenyum ramah menyambut kehadiran saya di halaman rumah. Kami bersalaman lantas saling cium pipi kanan dan kiri seperti kebiasaan orang Arab. “Selamat datang di tempat tinggal saya,” kata Zahar. Hati saya kembali membuncah karena undangan istimewa ini.

Rumah Zahar terletak di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza. Terdiri dari enam lantai, termasuk satu ruang bawah tanah. Halaman tempat tinggal bercat hijau itu agak kusam dari luar. Sekeliling rumah dikelilingi tembok setinggi satu setengah meter. Halamannya adem lantaran ditanami pepohonan, seperti kurma dan zaitun.

Kediaman lelaki 67 tahun ini terletak di pojok pertigaan. Di seberang jalan tak beraspal itu berdiri musala. Depan jalan hingga halaman rumah dipasangi kanopi. Tiga hingga empat anggota pasukan khusus bergantian menjaga sekitar rumah Zahar 24 jam. Mereka selalu siaga dengan senapan serbu AK-47.

Suasana nyaman bahkan terhitung mewah mulai terasa saat memasuki rumah. Setelah menapaki enam anak tangga, kita akan memasuki ruang tamu sekaligus ruang kerja. Lebarnya sekitar enam meter dengan panjang kira-kira 15 meter. Di sebelah tangga ke atas menuju ruang itu, ada tangga ke ruang bawah tanah belum selesai dibuat. Saat melongok melalui lubang angin di halaman, tumpukan pasir masih ada di dalam kamar bawah tanah ini.

Anak tangga dan lantai dalam rumah dilapisi keramik mengkilap. Sedangkan lantai lorong halaman dinaungi kanopi cuma ubin biasa. Di depan pintu masuk ruang tamu itu, terpampang dua poster Husam, putra Zahar terbunuh akibat serangan rudal Israel. Di samping tangga terdapat poster Khalid, juga tewas oleh Israel.

Khalid, putra sulung Zahar, meninggal di hari pernikahannya. Dia menutup mata buat selamanya setelah sebuah peluru kendali Israel menghantam kediaman Zahar di Kota Gaza pada September 2003. Serangan ini sebagai upaya membunuh Zahar. Anak keduanya, Husam, menemui ajal saat bertempur menghadapi pasukan Israel di kawasan Syijaiyah, pertengahan Januari 2008. Mantu lelakinya juga bernasib serupa.

Ruangan tamu berdampingan dengan kamar kerja Zahar berlapis cat warna krem. Sembilan kursi disusun membentuk huruf u. Di pojok kanan terdapat sebuah meja dan di atasnya ada sebuah bingkai bergambar dua putra Zahar dan satu mantu lelaki telah syahid. Juga ada bingkai peta Palestina. Di dekat itu, tergeletak sepucuk AK-47 bergrafir nama Husam. Di sisi kiri ruangan ada televisi layar datar berukuran besar, mungkin 42 inchi. Satu Mercedes Benz dan sebuah Land Cruiser sama-sama berwarna perak diparkir hingga ke dalam ruangan.

Bangunan ini terbilang baru setelah sembilan tahun lalu hancur dibombardir serangan udara Israel. “Kalau serangan dari Israel meningkat, saya sekeluarga berlindung di tempat khusus,” ujar ayah tujuh anak dan kakek tujuh cucu ini. Namun dia menolak mengungkapkan di mana lokasinya. Informasi beredar memang para pentolan Hamas memiliki bunker di bawah Universitas Islam Gaza.

Kami berbincang sekitar dua setengah jam mengenai banyak hal, mulai soal lawatan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah, rekonsiliasi Hamas dan Fatah, hingga sokongan negara-negara muslim. Obrolan santai itu diselingi saya makan siang dengan menu kebab berukuran besar (saya tidak kuat menghabiskan sehingga dibungkus buat dibawa pulang ke hotel) dan minuman kaleng merek Coca Cola. Dia juga menghadiahi saya buku terbarunya (karyanya kesepuluh) berjudul Al-Haqiqatul Kauniyyah lil Hadharat.

Saya menyesal tidak bisa memberikan dua buku karya sendiri karena tertinggal di rumah. Padahal, jauh-jauh hari saya sudah berniat menghadiahi Zahar Ironi Palestina dan Rahasia Muammar al-Qaddafi, juga terbitan sendiri.

Tak terasa, lamat-lamat terdengar suara azan asar. Saya, Zahar, dan pelayannya, Mahmud, salat berjamaah dengan Zahar sebagai imam. Selepas itu saya pamit pulang. Zahar mengantar saya hingga ke pintu halaman.

Namun saya tidak diperkenankan pulang naik taksi. Zahar menyuruh satu pengawal khususnya bernama Muhammad, 24 tahun, mengantar saya ke hotel tempat saya menginap. Toyota Harrier hitam mengkilap saya tumpangi segera melaju cepat meninggalkan rumah Zahar.

Zahar tentunya khawatir jika saya keluar dari rumahnya sendirian bakal berbahaya. Sebab saya adalah orang asing dan baru saja pulang dari rumah salah satu pentolan Hamas di Gaza. Apalagi serangan Israel di daerah perbatasan mulai meningkat. Ini tebakan saya saja. Bisa-bisa saya diculik oleh pihak-pihak bekerja sama dengan Israel. Maklum saja, para pengkhianat dengan bayaran hingga US$ 1 ribu saban bulan berkeliaran di Gaza.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Seorang perempuan melewati poster Syekh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) dan Yasir Arafat (pendiri Fatah) di sebuah jalan di Kota Gaza. Kedua faksi ini masih berseteru. (www.haaretz.com)

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.





comments powered by Disqus