buku

Berlebaran bareng pemimpin Hamas

Zahar menegaskan perjuangan menghadapi Israel bakal terus berlangsung hingga negara Zionis itu enyah dari seluruh wilayah Palestina, termasuk daerah kini menjadi negara Israel.

21 Maret 2015 08:15

Dua hari menjelang Idul Adha, akhir Oktober 2012. Kediaman pemimpin senior Hamas Mahmud Zahar di Kota Gaza sudah ramai oleh kerabat. Lima anak bersama mantu dan cucunya sudah berkumpul, termasuk yang tinggal di Mesir.

Zahar kelihatan lelah dan kurang tidur. Berkali-kali batuk menyembur dari mulutnya. Maklum saja, sehari sebelumnya dia ikut menyambut lawatan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah. Ini merupakan kunjungan pertama pemimpin Arab sejak Israel memblokade Jalur Gaza pada Juni 2007, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Meski begitu, Zahar - lebih suka bergamis serba putih kalau di rumah - tetap berpuasa sunnah menjelang Lebaran Kurban itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia kali ini juga berkurban. “Kami akan memotong satu sapi hasil patungan dengan lima anak saya,” kata Zahar.

Sekitar setengah hari di Gaza, Syekh Hamad mengunjungi sejumlah proyek dibiayai negaranya, termasuk perbaikan Jalan Salahuddin menghubungkan wilayah selatan hingga utara Gaza dan pembangunan sebuah rumah sakit. Tamu istimewa ini juga berpidato di hadapan ribuan penduduk memadati halaman Universitas Islam Gaza.

Seperti kata Perdana Menteri Ismail Haniyah, kunjungan Syekh Hamad menandai awal berakhirnya isolasi negara Zionis terhadap Gaza. Kenyataan berbicara demikian. Selepas perang delapan hari pada pertengahan November, sejumlah tokoh asing, seperti Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, mengunjungi Gaza. Bahkan Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal kini bermukim di Ibu Kota Doha, Qatar, merayakan ulang tahun perak organisasinya di sana.

Hari raya itu pun tiba. Selepas subuh, Zahar sudah bersiap-siap. Dia akan memimpin salat Idul Adha sekaligus berkhotbah di Stadion Palestina, sedangkan Haniyah menjadi imam di Wustha. Suasana di lapangan sepak bola itu sudah penuh oleh jamaah sejak pukul enam pagi. Mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, lelaki dan perempuan. Takbir menggema lewat pengeras suara di kiri dan kanan podium.

Stadion Palestina memiliki tiga tribun tanpa atap dengan kapasitas sepuluh ribu tempat duduk. Stadion ini juga terbuka dan berbatasan langsung dengan jalan, cuma dibatasi pagar besi. Rumput dan garis lapangan tampak tertata. Israel meledakkan stadion ini pada 1 April 2006.

Selain itu ada Stadion Yarmuk mampu menampung sembilan ribu penonton. Ini merupakan salah satu stadion tertua di Palestina, dibuka pada 1952. Dua stadion itu sama-sama menjadi sasaran gempuran jet tempur Israel dalam perang 22 hari (Desember 2008-Januari 2009). Tel Aviv beralasan dua stadion ini menjadi tempat meluncurkan roket ke arah Israel.

Perdana Menteri Ismail Haniyah hobi sepak bola kerap bermain di sana. Posisinya sebagai penyerang di klub Asy-Syathi. Dalam sebuah laga, pertengahan Mei 2011, lelaki kelahiran kamp Syathi ini cedera. Dokter mengharuskan dia beristirahat sepuluh hari.

Saat meresmikan kembali Stadion Yarmuk setahun menjelang Piala Dunia 2010, Haniyah menyampaikan impiannya bisa membangun banyak stadion di pelbagai kota di Palestina. “Termasuk satu stadion di Yerusalem, ibu kota Palestina setelah merdeka.”

Pengamanan cukup ketat. Sejumlah anggota pasukan khusus Hamas sudah bersiaga di dua pintu masuk Stadion Palestina. Mereka memeriksa tiap orang masuk, termasuk menggeledah isi tas. Empat aparat keamanan bersenjatakan senapan serbu Kalashnikov berkeliling di sepanjang tribun stadion tanpa atap itu. Satu pesawat intai tanpa awak milik Israel sempat berkeliling di atas stadion.

Lebaran kali ini memang cukup memprihatinkan. Maklum saja, saling serang terjadi beberapa hari terakhir di daerah perbatasan. Tembakan roket Hamas dibalas gempuran udara negara Zionis itu. Selama sepekan saja setidaknya ada sepuluh pejuang Palestina terbunuh, termasuk di Bait Lahiya (utara Gaza) dan Khan Yunis (wilayah selatan).

Zahar akhirnya datang menumpang Land Cruiser hitam dikawal tiga orang bersafari serba hitam. Senyumnya mengembang ke arah jamaah sudah duduk menunggu waktu salat. Sejumlah pengawal dan panitia menyalami dia. Sembari berjalan ke arah sajadah sudah digelar, Zahar menyampaikan salam ke arah jamaah dengan kedua telapak tangan dirapatkan.

Jubah coklat tua segera membungkus gamis putih dikenakan Zahar. Para makmum lantas berdiri. Salat pun dimulai menjelang pukul tujuh. Selepas itu, Zahar naik ke atas mimbar menyampaikan khotbah. Dia menegaskan perjuangan menghadapi Israel bakal terus berlangsung hingga negara Zionis itu enyah dari seluruh wilayah Palestina, termasuk daerah kini menjadi negara Israel.

Bubaran salat, jamaah saling bersalaman dan memohon maaf. Zahar juga berangkulan dan saling cium pipi kanan dan kiri dengan sejumlah jamaah. Selepas itu, dia menuju Land Cruiser setia menunggu di pintu masuk.

Tiba di rumah, Zahar mendapat peluk dan cium dari semua anak, menantu, dan cucu. Dia kemudian ikut menyaksikan pemotongan hewan kurban berupa sapi di musala depan rumah. Selepas makan bersama, keluarga besar Zahar mengunjungi ibu Zahar dan kerabat lainnya di Kota Gaza.

Sebelum zuhur, Zahar sudah pulang sebab dia bakal kedatangan tamu: rombongan misi kemanusiaan dari Indonesia dan Malaysia. Saya tiba lebih dulu ketimbang dua rombongan itu. Kami duduk di teras dengan kursi plastik berwarna merah. Ditemani dua toples kue, saya bercerita banyak hal ringan dengan Zahar masih mengenakan gamis putih.

Ketika dua rombongan itu datang, saya memilih menunggu di luar ketimbang bergabung ke dalam. Di sinilah saya kembali mengalami kejadian tidak mengenakkan dengan seorang anggota KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina).

Iseng-iseng saya mencoba berbincang dengan seorang lelaki berompi KNRP sedang asyik memotret poster mendiang Husam Zahar di pintu masuk rumah. Namun dia bersikap tidak ramah. Dia menjawab sekenanya tanpa menoleh ke arah saya. Emosi saya terpancing. Untung saja insiden itu tidak berlanjut.

Muhammad, salah satu pengawal Zahar, lantas menyuruh saya masuk. Dengan ogah-ogahan saya memilih deretan kursi agak belakang. Saya akhirnya duduk di antara wartawan radio Malaysia dan anggota KNRP. Ini membuat saya miris. Malah wartawan negara jiran itu tersenyum ramah lebih dulu dan kami pun mengobrol. Sedangkan orang Indonesia di sebelah kiri saya, dia bergeming saat saya menolehkan muka.

Peristiwa semacam ini sebenarnya sudah saya alami paginya ketika saya ke hotel tempat menginap rombongan KNRP. Ketua rombongan, Soeripto, telah mengizinkan saya ikut agenda mereka hari itu. Tapi tiga anak buahnya melarang dengan alasan tidak mengundang wartawan. Soeripto sangat terkejut ketika saya memberi tahu pengalaman itu di kantornya. “Saya tidak mau merusak suasana,” ujar saya beralasan tidak melaporkan hal itu saat di Gaza.

Saya tidak ikut berpamitan bareng dua rombongan itu. Saya baru kembali ke hotel sore dan sempat ikut membagi-bagikan daging hewan kurban ke sejumlah kerabat dan kenalan Zahar di seputar Kota Gaza. Kami pergi bersama Mahmud (pembantu di rumah Zahar) dan tiga pengawal Zahar dengan Harrier berwarna hitam.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Menantang kuasa Hamas di Gaza

Gerakan Tamarod di Gaza gagal menggelar unjuk rasa besar-besaran anti-Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pangeran Talal tokoh liberal

Dia mulai menarik perhatian ketika bilang tidak ada hukuman pancung dalam kasus dua perawat Inggris.

18 November 2017
Kekayaan Muammar al-Qaddafi
23 Januari 2016
Serba nyaman dan mewah
09 Januari 2016
Pribadi eksentrik
02 Januari 2016

TERSOHOR